Penanganan Karhutla belum Terbukti Hilangkan Kabut Asap, Bara di Lahan Gambut Terus Menjalar

RM-109 • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 21:01 WIB
Ilustrasi pemerintah pusat memantau karhutla di Kalimantan hanya dari jauh.(modifikasi AI)
Ilustrasi pemerintah pusat memantau karhutla di Kalimantan hanya dari jauh.(modifikasi AI)

PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Desakan agar pemerintah pusat turun langsung menangani karhutla di Kalteng disampaikan sejumlah aktivis , Minggu (4/10) bukan tanpa alasan. Gerakan tersebut digawangi BEM FISIP Universitas Palangka Raya (UPR), Aktivis Brand New Indonesia, serta BEM Fakultas Hukum UPR.

Sejumlah mahasiswa dan aktivis bahkan meminta Presiden, Wakil Presiden, kepala BNPB, para menteri, hingga seluruh anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) berkantor selama 30 hari di Kalteng.

Seruan itu disampaikan dalam gerakan bertajuk #SupayaMerekaMerasakan, merupakan ruang bagi mahasiswa dan aktivis menyuarakan keresahan atas dampak karhutla yang dirasakan masyarakat hingga saat ini.

Mereka menilai pemerintah pusat perlu melihat dan merasakan secara langsung kondisi masyarakat yang terdampak karhutla. Salah satu tuntutan yang disuarakan adalah agar pemerintah mempertimbangkan penetapan karhutla di Kalimantan sebagai bencana nasional. Hal itu, mengingat, berbagai program penanganan karhutla yang telah dibeberkan belum terbukti bisa melenyapkan kabut asap.

Baca Juga: Palangka Raya masih Dikepung Karhutla, Kabut Asap Tak Kunjung Pergi

Terkait kabut asap yang tak kunjung pergi, dinilai lantaran kondisi atmosfer saat ini cenderung membuat asap terperangkap di lapisan bawah.Pergerakan udara dari atas ke bawah yang lebih dominan serta angin yang relatif lemah membuat asap tidak cepat menyebar.

Hal itu dijelaskan Kepala BMKG H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan dinamika atmosfer dan Siklus Walker yang memengaruhi pergerakan udara serta pembentukan awan di wilayah Indonesia.

"Ketika terjadi updraft, biasanya dalam kondisi cuaca yang labil, kondensasi naik ke atas. Namun, kondisi sekarang lebih cenderung terjadi gerakan atmosfer ke bawah. Jadinya kita seperti terkurung oleh kabut asap," terangnya.

"Kalau terjadi kondensasi, uap air naik, kemudian terbentuk awan dan turun hujan. Sekarang kondensasi tidak bisa terjadi secara optimal karena uap air tidak ada dan labilitas atmosfer juga tidak ada," tambahnya.

Mulyono juga menjelaskan, kondisi atmosfer tersebut membuat asap yang berada di dekat permukaan sulit terangkat ke lapisan atas. Akibatnya, konsentrasi asap dapat meningkat dan jarak pandang menurun secara signifikan.

Selain dinamika atmosfer, kecepatan angin juga menjadi faktor penting. Angin yang relatif lemah menyebabkan asap tidak cepat terbawa menjauh dari wilayah sumbernya.

"Apalagi sekarang anginnya juga tidak terlalu kencang, jadi asap-asap itu tidak bisa dibawa ke mana-mana. Akhirnya ngumpul dan terkurung di situ. Kalau ada angin kencang, biasanya asap bisa terbawa angin," ujarnya.

Menurut dia, gerakan udara dari atas ke bawah turut menekan pembentukan awan. Kondisi tersebut diperparah minimnya uap air dan rendahnya labilitas atmosfer sehingga proses pengangkatan kondensasi tidak berlangsung optimal.

Kondisi tersebut juga menyebabkan perubahan jarak pandang sulit diprediksi secara pasti. Menurut Mulyono, asap yang terpantau di Kotim tidak selalu berasal dari sumber kebakaran di wilayah setempat sehingga pergerakannya sulit dibuat dalam pola yang pasti.

"Kami susah untuk memprediksikan seberapa cepat jarak pandang berubah. Asap ini bukan hanya berasal dari daerah lokal, tetapi juga bisa merupakan bawaan dari luar," terangnya.

Terpisah, di tengah pekatnya kabut asap. Karhutla masih saja terjadi, yang dipicu terus menjalarnya bara api di lahan gambut. Salah satunya karhutla Desa Bagendang Permai Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU)Rabu (7/10/2026). Peristiwa ini sempat mengganggu kelancaran arus lalu lintas di Jalan HM Arsyad selama beberapa jam akibat tingginya intensitas asap yang menghalangi pandangan para pengguna jalan.

Upaya pemadaman terus dilakukan secara intensif oleh tim gabungan yang terdiri dari pemadam kebakaran (Damkar), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), personel TNI dari Antang, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) Mentaya Hilir Utara. Tim gabungan berfokus melokalisasi pergerakan si jago merah mengingat lokasi kebakaran berada sangat dekat dengan pemukiman padat penduduk.

Kepala Desa Bagendang Permai, Kuryadi, juga mengajak seluruh warga untuk turut serta membantu proses pemadaman agar api dapat segera dipadamkan secara menyeluruh.

Ia juga mengingatkan warga untuk tetap bersiaga, sebab titik api di area hutan masih berpotensi meluas dan membahayakan lingkungan sekitar.

"Terbatasnya sarana dan prasarana yang kita miliki membuat kita sangat mengharapkan kewaspadaan dan partisipasi aktif dari masyarakat. Jika melihat api mulai mendekati area pemukiman, mohon untuk segera melapor agar tim dapat bergerak cepat mengamankan lokasi," ujar Kuryadi.

Hingga berita ini diturunkan, petugas bersama warga setempat masih terus berjaga di sekitar lokasi kejadian untuk mengantisipasi munculnya titik api baru akibat tiupan angin.(daq/oes/rm-109)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
bencana nasional lahan gambut aktivis kabut asap karhutla