SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Perbaikan fender Jembatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dijanjikan mulai dikerjakan pada 14 Oktober 2026. Fender tersebut rusak setelah dihantam tongkang CPO beberapa bulan lalu.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotim Raihansyah mengatakan, persoalan kerusakan fender sudah beberapa kali dibahas bersama pihak terkait. Pertemuan melibatkan Dishub, Dinas PUPR, KSOP, pemilik layanan pelayaran, hingga pemilik tongkang.
“Sudah beberapa kali rapat, Dishub, PU, KSOP, pemilik layanan pelayaran dan pemilik tongkang. Mereka tetap bertanggung jawab penuh dan mengembalikan seperti semula,” kata Raihansyah, Selasa (6/10/2026).
Saat ini, pihak pemilik tongkang masih menyiapkan tiang pancang dan peralatan yang dibutuhkan untuk perbaikan. Pemancangan dijanjikan mulai 14 Oktober.
“Pihak penabrak berjanji memperbaiki 14 Oktober karena menyiapkan tiang pancang,” ujarnya.
Raihansyah mengatakan, pekerjaan perbaikan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 16 minggu atau empat bulan. Tahapannya meliputi pengadaan material, pemancangan, pemasangan bracing, pembesian hingga pengecoran.
Berdasarkan rencana pekerjaan, pemesanan tiang pancang dimulai 1 September 2026. Persiapan pemancangan dijadwalkan mulai 16 September, sedangkan pemancangan ditargetkan pada 14 Oktober.
Selanjutnya, pekerjaan bracing dijadwalkan mulai 4 November. Tahap pembesian dimulai 18 November dan pemasangan besi pada 25 November.
Pengecoran ditargetkan berlangsung pada akhir November hingga awal Desember 2026.
Fender yang rusak akan dikembalikan seperti kondisi semula. Pekerjaan juga mengacu pada gambar perencanaan pembangunan Jembatan Cempaga yang masih tersimpan dalam arsip.
“Sampai konsultan yang dianggap mampu mengerjakan jembatan seperti spek awal. Gambar perencanaan sesuai arsip yang dulu,” jelas Raihansyah.
Raihansyah menjelaskan, kerusakan terjadi ketika tongkang CPO hendak melintas dari arah Sampit menuju kawasan di bawah Jembatan Cempaga.
Saat kejadian, kondisi Sungai Mentaya sedang pasang. Arus membuat posisi tongkang terlalu mendekati bagian pengaman jembatan hingga akhirnya menyenggol fender dan menyebabkan sejumlah tiangnya patah.
“Kejadian ini beberapa bulan lalu. Tongkang CPO itu mau naik saat air pasang dari arah Sampit mau masuk. Karena arus dia terlalu mepet dan menyenggol pengaman jembatan itu sampai patah,” ungkapnya.
Menurut Raihansyah, keberadaan fender sangat penting karena berfungsi sebagai pengaman untuk mengantisipasi benturan langsung terhadap pilar utama jembatan.
Terlebih, aktivitas tongkang di bawah Jembatan Cempaga masih berlangsung hingga kini. Selain tongkang CPO, terdapat pula aktivitas tongkang pengangkut bauksit.
Ia memperingatkan dampak kerusakan bisa jauh lebih fatal apabila tongkang yang menghantam fender membawa muatan penuh.
“Kalau saat itu muatan tongkang CPO itu ada isinya, itu akan menyebabkan kerusakan fatal sampai ke tiang pilar jembatan,” katanya.
Saat ini, sebagian besar tiang fender Jembatan Cempaga sudah tidak ada. Hanya satu tiang yang masih tersisa dan kondisinya miring.
Kerusakan tersebut menjadi perhatian karena Jembatan Cempaga merupakan salah satu akses penting masyarakat sekaligus jalur distribusi barang.
Jembatan tersebut menghubungkan sejumlah wilayah, di antaranya Desa Terantang, Mentaya Seberang di Kecamatan Pulau Hanaut, Desa Bapinang hingga Desa Hantipan yang menjadi akses menuju wilayah pesisir Kabupaten Katingan.
Pembangunan Jembatan Cempaga dimulai pada 2012 melalui proyek tahun jamak yang dibiayai APBD Kotim. Hingga 2013, anggaran yang terserap mencapai sekitar Rp35 miliar.
Jembatan tersebut kemudian selesai dibangun dan diresmikan pada Oktober 2015.
Dengan aktivitas tongkang yang masih melintas di bawah jembatan, perbaikan fender dinilai penting untuk kembali memberikan perlindungan terhadap pilar utama Jembatan Cempaga. (ang)
Editor : Slamet Harmoko