PANGKALAN BUN,radarsampit.jawapos.com-Kabut asap pekat menyebabkan jarak pandang menurun drastis dan mengganggu jadwal penerbangan di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Senin (5/10).
Dua rute Batik Air, yakni Jakarta-Pangkalan Bun (CGK-PKN-CGK) dan Surabaya-Pangkalan Bun (SUB-PKN-SUB), mengalami keterlambatan. Namun, hingga Senin, belum ada penerbangan yang dibatalkan.
Kepala UPBU Kelas II Iskandar Pangkalan Bun Asri Alie mengatakan, seluruh penerbangan tetap diupayakan berjalan. Keterlambatan terjadi akibat jarak pandang rendah pada pagi hari.
“Untuk pembatalan belum ada hari ini. Yang delay penerbangan Batik Air karena low visibility pagi tadi,” ujarnya.
Menurut Asri, jarak pandang akibat kabut asap menjadi salah satu faktor keselamatan yang harus diperhatikan dalam operasional penerbangan. Kondisi tersebut dapat mengganggu proses pendaratan maupun lepas landas apabila tidak memenuhi batas minimum operasional.
Baca Juga: Penerbangan masih Terhambat Kabut Asap, Tiga Pesawat Batik Air Batal Berangkat dari Pangkalan Bun
Forecaster Stasiun Meteorologi (Stamet) Iskandar BMKG Kobar, Afif Rowina Khairi, mengatakan kualitas udara di Kotawaringin Barat berada dalam tren tidak sehat selama tiga hari terakhir.
Berdasarkan pemantauan BMKG, konsentrasi partikulat halus PM2.5 sempat mencapai lebih dari 250,4 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut mengindikasikan kualitas udara berada pada level berbahaya.
BMKG memprediksi gangguan asap masih berpotensi terjadi selama titik api akibat karhutla di Kotawaringin Barat masih membara. Asap juga berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat dan jarak pandang.
Konsentrasi asap tebal dilaporkan lebih sering menumpuk pada pagi dan menjelang sore hari. Kondisi tersebut menjadi perhatian maskapai sebelum mengoperasikan penerbangan.
Meski penerbangan dari dan menuju Pangkalan Bun tetap berjalan, operasional pesawat disesuaikan dengan kondisi cuaca dan jarak pandang secara real-time.
Pihak bandara dan BMKG mengimbau calon penumpang memantau perkembangan kondisi penerbangan melalui maskapai masing-masing untuk mengantisipasi kemungkinan penundaan susulan. (tyo/yit)
Editor : Agus Jaka Purnama