Air Ledeng Payau, Depot Isi Ulang dengan Teknologi RO Panen Pelanggan

Fahry Ilhami Samosir • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 20:30 WIB
Ida, pemilik depot air minum isi ulang saat menunjukan proses penyaringan air dengan teknologi RO di Jalan Ir H Juanda, Sampit, Minggu (4/10) sore.(fahry/radarsampit)
Ida, pemilik depot air minum isi ulang saat menunjukan proses penyaringan air dengan teknologi RO di Jalan Ir H Juanda, Sampit, Minggu (4/10) sore.(fahry/radarsampit)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Kemarau panjang mulai memberi dampak terasa payaunya air ledeng yang biasa dikonsumsi warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), khususnya di Kota Sampit. Kondisi itu lantaran meningkatnya intrusi air laut ke Sungai Mentaya dari wilayah selatan hingga ke Kota Sampit.

 Saat kadar garam air baku meningkat, sebagian warga pun mulai mencari alternatif untuk mendapatkan air yang lebih layak untk konsumsi.

Hal itu membuat depot air minum isi ulang dibanjiri pelanggan. Seperti di Jalan Ir H Juanda, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit.

Pantauan Radar Sampit, Minggu (4/10), ratusan galon tampak berjejer di dalam depot air minum isi ulang milik Ida Fren. Silih berganti, warga datang menggunakan sepeda motor maupun mobil sambil membawa galon kosong untuk mendapatkan air bersih isi ulang.

"Sejak kemarau, air minum yang biasa kami konsumsi rasanya payau dan asin. Akhirnya kami memilih depot ini karena airnya enak dikonsumsi," kata Imran, salah satu warga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Baca Juga: Air Mulai Payau, Perumdam Larang Warga Minum Air PDAM di Tiga Wilayah Ini

Hal serupa disampaikan Rizal, warga Kecamatan Baamang. Ia rela menempuh perjalanan 5 kilometer untuk mendapatkan air dari depot tersebut.Menurutnya, sejumlah depot air minum isi ulang lainnya tidak dapat melayani seperti biasanya, karena sumber air yang digunakan ikut terdampak perubahan kualitas air.

"Karena di tempat lain tidak bisa melayani, akhirnya saya mendapat informasi bahwa depot ini airnya tidak payau atau asin," ujarnya.

Pemilik depot, Ida, mengungkapkan peningkatan jumlah pelanggan terjadi setelah air PDAM mulai terasa asin. Namun, ia menegaskan air yang digunakan di tempatnya bukan berasal dari sumber mata air bukit, seperti isu yang beredar.

Ida menjelaskan, pihaknya tetap menggunakan air PDAM. Hanya saja, air tersebut terlebih dahulu melalui proses penyaringan menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO) untuk mengurangi kadar garam dan material lainnya, sebelum digunakan sebagai air minum.

"Air yang kami gunakan berasal dari air PDAM juga. Namun, air PDAM tersebut kami saring menggunakan RO sehingga kadar garamnya berkurang dan layak konsumsi," kata Ida saat ditemui di rumahnya, Minggu (4/10) sore.

Lonjakan permintaan air minum isi ulang pun cukup signifikan. Dalam kondisi normal, depot milik Ida biasanya menjual sekitar 200 galon per hari. Namun, sejak air PDAM mulai terasa payau dan asin, penjualannya melonjak hingga tiga kali lipat bahkan lebih.

Kondisi tersebut membuat Ida bersama para karyawannya harus bekerja ekstra untuk memenuhi permintaan masyarakat.

"Terus terang saat ini kami sangat kewalahan. Namun, kami selalu berupaya memberikan yang terbaik kepada masyarakat agar bisa mendapatkan air minum yang bersih," ujarnya.

Ida kembali menegaskan bahwa air yang digunakan depotnya tetap berasal dari PDAM. Menurutnya, yang membedakan adalah proses pengolahan menggunakan teknologi RO untuk menyaring air sebelum dijual kepada masyarakat.

"Kami tetap menggunakan air PDAM. Namun, air PDAM yang tadinya memiliki kadar garam itu kami saring menggunakan RO. Dan harga pergalonnya tetap sama, yakni Rp 5000," pungkasnya. (sir/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
Air Minum depot isi ulang teknologi RO payau pelanggan