Dampak Karhutla dan Kekeringan di Kalteng, Kasus ISPA dan Diare Melonjak

Dodi Abdul Qadir • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 20:13 WIB
ist
Kabut asap dan kualitas udara tidak sehat yang masih menyelimuti Kota Palangka Raya dalam sepekan terakhir. (dodi/radarsampit)

PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak lagi menjadi persoalan sesaat bagi masyarakat Kalimantan Tengah. Asap kebakaran menjadi salah satu persoalan yang harus diantisipasi, terutama ketika konsentrasinya meningkat, menimbulkan persoalan kesehatan.

Data BPB-PK Provinsi Kalteng mencatat sudah sebanyak 104.782 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Selain itu, dampak kekeringan juga mencatatkan 24.563 kasus diare. Dampak karhutla juga merembet ke sektor pendidikan. Untuk mengantisipasi kondisi akibat asap, tercatat 223 sekolah di kabupaten/kota menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Dalam data tersebut, tidak tercatat sekolah yang menerapkan pembelajaran tatap muka.

Kepala BPB-PK Provinsi Kalteng Ahmad Toyib mengatakan,persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satria Budi mengatakan, pencegahan menjadi salah satu prioritas utama dalam pengendalian karhutla. Berbagai langkah dilakukan, mulai patroli rutin di kawasan yang dinilai rawan terbakar, sosialisasi kepada masyarakat, penyebaran informasi peringatan dini, hingga pemetaan wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.

Menurut Budi, upaya pencegahan harus dilakukan sebelum api muncul. Penanganan setelah kebakaran terjadi dinilai jauh lebih sulit, terlebih jika api sudah menjalar ke kawasan lahan gambut.

Baca Juga: Ledakan Kasus ISPA Membayangi Masyarakat Kalteng. Ratusan Rumah Oksigen Disiagakan

"Kami terus mengedepankan upaya pencegahan karena jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi. Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar," jelas Budi.

Upaya penanganan karhutla juga mendapat perhatian dari Kodam XXII/Tambun Bungai. Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin menegaskan pihaknya akan terus meningkatkan kesiapsiagaan serta sinergi bersama seluruh unsur dalam menghadapi karhutla di wilayah Kalteng.

Menurutnya, koordinasi dan kesiapan personel menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman karhutla. Terlebih, kebakaran lahan dapat berkembang dengan cepat ketika kondisi cuaca dan lahan mendukung.

Kodam XXII/Tambun Bungai juga terus mendorong sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait dalam upaya pencegahan maupun penanganan karhutla.

“Saat ini pemerintah, aparat, petugas pemadam, relawan, dan masyarakat terus bergerak agar ancaman api dan asap dapat ditekan,”pungkasnya.(daq/gus)

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
dampak karhutla kesehatan diare sektor pendidikan ispa