Kemarau Panjang, Penambang Emas Padati Bawah Jembatan Sei Katingan

Yuswanto RS • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 19:00 WIB
Ratusan penambang terlihat beraktivitas di kawasan sungai sekitar 300 meter dari kaki Jembatan Sei Katingan.
Ratusan penambang terlihat beraktivitas di kawasan sungai sekitar 300 meter dari kaki Jembatan Sei Katingan.

 

KASONGAN, radarsampit.jawapos.com -Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Katingan membawa berkah tersendiri bagi ratusan penambang emas di bawah Jembatan Sei Katingan. 

Saat air sungai surut dan arus melemah, aktivitas penambangan menggunakan mesin sedot justru semakin marak, dengan hasil yang diklaim mencapai beberapa gram emas per unit dalam sehari.

Pantauan media ini, Kamis (1/10/2026), ratusan penambang terlihat beraktivitas di kawasan sungai sekitar 300 meter dari kaki Jembatan Sei Katingan.

.
.

Mereka menggunakan mesin sedot atau Alkon yang dipadukan dengan peralatan rakitan berbahan kayu untuk menjangkau material di dasar sungai.

Aktivitas penambangan berlangsung hampir tanpa henti, mulai pagi hingga malam hari. Sejumlah pemilik unit bahkan menerapkan sistem kerja bergiliran untuk menjaga operasional mesin tetap berjalan.

Iko (34), bukan nama sebenarnya, mengatakan setiap pemilik unit sedot umumnya mempekerjakan sejumlah karyawan dengan pembagian jadwal kerja siang dan malam.

“Meski malam, lokasi ini masih ramai,” ujarnya.

Menurut dia, para penambang tidak hanya berasal dari wilayah Kabupaten Katingan, tetapi juga dari daerah lain. Namun, ia menyebut hasil penambangan setiap unit tidak selalu sama, bergantung pada kondisi dan material yang ditemukan.

“Dalam sehari, paling minim bisa memperoleh dua gram untuk satu unit Alkon,” katanya.

Hal senada disampaikan Esmos (42). Ia menilai kondisi sungai selama musim kemarau cukup mendukung aktivitas penambangan. Surutnya permukaan air membuat selang mesin sedot lebih mudah menjangkau dasar sungai. Arus yang tidak terlalu deras juga memudahkan pekerjaan para penambang.

“Kalau kondisi seperti ini, hasilnya bisa gacor,” ujarnya, menggambarkan potensi hasil penambangan yang meningkat.

Esmos mengungkapkan, usaha tersebut dapat dimulai dengan modal sekitar Rp8 juta untuk membeli satu unit Alkon.

Dengan hasil yang disebutnya mencapai tiga gram emas per hari, modal usaha dinilai bisa kembali dalam waktu relatif singkat.

Ia mengilustrasikan, jika harga emas mencapai Rp2 juta per gram, hasil tiga gram setara Rp6 juta dalam sehari. Sementara itu, biaya operasional disebut sekitar Rp500 ribu per hari.

Meski demikian, perhitungan tersebut merupakan gambaran berdasarkan klaim hasil penambang dan belum memperhitungkan kemungkinan hasil yang berubah-ubah, biaya tenaga kerja, perawatan peralatan, serta faktor lainnya.

Maraknya aktivitas penambangan di bawah Jembatan Sei Katingan ini menjadi fenomena tersendiri saat kemarau panjang.

Di tengah peluang ekonomi yang dirasakan para penambang, aspek legalitas kegiatan, dampak terhadap lingkungan sungai, dan keselamatan di sekitar infrastruktur jembatan juga menjadi hal yang perlu mendapat perhatian. (ktr-3)

Editor : Slamet Harmoko
sei katingan penambang emas di sungai katingan kemarau tambang emas Sungai Katingan