Merantau Bawa Harapan, Maolana Pulang Tinggal Nama, Uang Rp13 Ribu dan KTP Nenek

Slamet Harmoko • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 08:54 WIB
Maolana Purwa Wibowo
Maolana Purwa Wibowo

Radarsampit.jawapos.com – Harapan Maolana Purwa Wibowo, 18, untuk memperbaiki kehidupan keluarganya di tanah rantau berakhir tragis.

Pemuda asal Desa Danasri Kidul, Kecamatan Nusawungu, Cilacap, Jawa Tengah, itu menjadi salah satu korban meninggal dalam tragedi tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa.

Jenazah Maolana tiba di kampung halamannya pada Selasa (29/9) sekitar pukul 10.49 WIB. Kedatangannya disambut isak tangis keluarga besar dan warga yang datang melayat.

Maolana atau yang akrab disapa Lana diketahui berangkat ke Kalimantan untuk mencari pekerjaan. Itu merupakan pengalaman pertamanya merantau jauh dari kampung halaman sekaligus pertama kalinya ia bepergian menggunakan kapal laut.

Keputusan tersebut diambil dengan satu harapan sederhana, yakni mendapatkan penghasilan untuk membantu keluarga. Namun, perjalanan yang semula menjadi awal perjuangan baru justru berakhir di tengah laut.

Sejak SMP Sudah Bekerja Serabutan

Sejak kecil, Maolana tumbuh bersama kakek, nenek, dan adiknya di Desa Danasri. Kedua orang tuanya telah lama berpisah karena perceraian.

Sejak duduk di bangku SMP, ia sudah terbiasa bekerja serabutan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu pekerjaan yang pernah dilakoninya adalah membuat sapu.

Maolana dikenal sebagai pemuda yang mandiri dan pekerja keras. Ia tidak ingin terlalu membebani keluarga yang kondisi ekonominya juga terbatas.

Kesempatan bekerja di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan kemudian datang. Tawaran tersebut disambut Maolana dengan penuh semangat.

Keinginannya sederhana. Selain membantu perekonomian keluarga, ia ingin menabung untuk membeli sepeda motor seperti remaja seusianya.

Sebelum berangkat dari Surabaya, sang ibu bahkan sempat memberikan uang Rp300 ribu sebagai bekal perjalanan. Namun, Maolana menolaknya karena tidak ingin menambah beban orang tuanya.

Dukungan juga datang dari seorang tetangga yang melihat kegigihan Maolana. Tetangga tersebut membantu menyediakan tiket kapal laut dan sebuah ponsel sebagai bekal untuk mencari pekerjaan di tanah rantau.

Mabuk Laut Sebelum Kapal Tenggelam

Perjalanan Maolana menuju Kalimantan berubah menjadi tragedi setelah KM Virgo Transport 8 mengalami musibah di perairan Masalembo.

Berdasarkan keterangan rekan-rekan penumpang yang selamat, Maolana sempat mengalami mabuk laut cukup parah selama pelayaran. Ia disebut beberapa kali keluar-masuk toilet kapal karena kondisi tubuhnya melemah.

Tak lama kemudian, kapal yang mengangkut ratusan penumpang tersebut mengalami kecelakaan akibat kondisi cuaca buruk dan akhirnya tenggelam.

Maolana menjadi salah satu penumpang yang dinyatakan hilang dalam musibah tersebut.

Pencarian korban kemudian dilakukan tim SAR gabungan selama berhari-hari. Setelah melalui proses pencarian, jenazah Maolana akhirnya ditemukan dan dibawa untuk menjalani proses identifikasi.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan memastikan identitasnya pada Senin (28/9) di RS Bhayangkara Banjarmasin.

Hanya Tersisa Uang Rp13 Ribu

Ada hal yang membuat proses identifikasi jenazah Maolana terasa semakin menyayat hati.

Saat petugas memeriksa pakaian dan barang pribadi yang dibawa korban, ditemukan sejumlah benda sederhana. Di antaranya KTP milik Maolana, KTP milik almarhumah neneknya, serta uang tunai Rp13 ribu.

KTP sang nenek diketahui disimpan Maolana sebagai kenangan. Benda tersebut menjadi pengingat terhadap sosok yang pernah merawat dan membesarkannya.

Sementara uang Rp13 ribu menjadi sisa bekal yang masih berada di sakunya ketika jenazah ditemukan.

Barang-barang tersebut kemudian menjadi bagian dari proses identifikasi sekaligus menjadi saksi perjalanan Maolana sebagai seorang pemuda yang berangkat merantau dengan bekal terbatas.

Bagi keluarga, kepergian Maolana bukan hanya kehilangan seorang anggota keluarga. Ia adalah anak muda yang berangkat dengan niat membantu kehidupan orang-orang yang dicintainya.

Kini, harapan keluarga melihatnya pulang membawa kabar keberhasilan dari tanah rantau telah berubah menjadi kepulangan dalam peti jenazah.

Maolana memang tidak sempat mewujudkan keinginannya untuk memiliki sepeda motor dan membantu perekonomian keluarga.

Namun, kisah perjuangannya sebagai pemuda 18 tahun yang berani merantau demi keluarga akan tetap dikenang oleh orang-orang yang ditinggalkannya. (jpg)

Editor : Slamet Harmoko
Sumber : Radar Jogja
KM Virgo Transport 8 Maolana Purwa Wibowo Kisah Maolana KTP nenek