PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Penanganan karhutla di Kalimantan Tengah (Kalteng) terus dikebut. Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng bersama Satgas Gabungan menyatakan, kondisi sebagian besar wilayah dinyatakan masih dalam kategori sangat mudah terbakar.
Namun di tengah ancaman karhutla, peluang turunnya hujan semakin terbuka. Berdasarkan data dan prakiraan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) periode 26 September hingga 2 Oktober 2026, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi, bahkan dapat disertai petir atau kilat serta angin kencang.
Potensi tersebut terutama terjadi di wilayah Kalteng bagian utara, meliputi Murung Raya, Gunung Mas, Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur, bagian utara Kapuas, serta sebagian wilayah Seruyan, Katingan, dan Kotawaringin Timur (Kotim).
Di Kabupaten Kotim, hujan mulai mengguyur beberapa wilayah dalam dua hari terakhir. Namun, kondisi tersebut belum bisa menjadi tanda bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mereda.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotim Mulyono Leo Nardo mengatakan, hujan yang mulai turun menjadi tanda awal peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.
“Bisa dikatakan kita memasuki awal transisi dari musim kemarau ke hujan, tapi secara umum kita masih musim kemarau,”ujarnya, Senin (28/9).
Menurutnya, awal musim hujan diperkirakan terjadi berbeda di setiap wilayah Kotim. Sampit dan sekitarnya diprakirakan memasuki awal musim hujan pada awal November 2026.
Wilayah bagian utara diperkirakan lebih dahulu memasuki musim hujan, yakni sekitar pertengahan Oktober. Sementara wilayah selatan diprakirakan baru memasuki awal musim hujan pada akhir November.
Baca Juga: Kemarau Panjang, Petani Sayur Kartamulia Terancam Gagal Panen
Mulyono menyebut peluang pertumbuhan awan hujan masih cukup tinggi hingga akhir September. Potensinya mencapai sekitar 50-70 persen di sejumlah wilayah Kotim.Pada Minggu 27 September, potensi pertumbuhan awan hujan diprakirakan di atas 70 persen. Kondisi tersebut membuka peluang hujan kembali turun di sejumlah wilayah.
Meski demikian, hujan yang terjadi saat ini belum cukup untuk meredakan karhutla secara menyeluruh. Menurut Mulyono, hujan yang turun baru membantu mengurangi kondisi kering di permukaan lahan.
“Untuk meredakan masih belum bisa dikatakan demikian, tepatnya mengurangi,” ujarnya.
Dia menjelaskan, karhutla membutuhkan hujan dengan intensitas lebat dan durasi yang cukup lama agar kondisi lahan benar-benar basah dan api dapat lebih efektif diredam.
Selain itu, jumlah titik panas (hotspot) yang terdeteksi di Kabupaten Kotim mulai menurun. Berdasarkan data BMKG dan BPBD Kotim per Senin pagi (28/9/2026), tercatat 580 titik panas dalam 24 jam terakhir.
Jumlah tersebut turun dibandingkan beberapa hari sebelumnya yang sempat mencapai lebih dari 1.000 titik panas.
Meski terjadi penurunan, BPBD Kotim mengingatkan personel Satgas Karhutla untuk tidak mengendurkan kewaspadaan.
Dari 580 titik panas tersebut, sebanyak 552 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah (medium confidence). Kemudian 24 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) dan empat titik masuk kategori rendah (low confidence).
Sebaran titik panas masih terlihat di sejumlah wilayah, terutama kawasan pesisir dan bantaran Sungai Mentaya.Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 184 titik. Berikutnya Mentaya Hilir Utara 148 titik dan Pulau Hanaut 88 titik.
Di tingkat desa, jumlah terbanyak terdeteksi di Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, dan Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Masing-masing tercatat 121 titik panas.
Secara umum Se Kalteng, dalam 24 jam terakhir, petugas gabungan berhasil menangani karhutla dengan total luasan mencapai 157,11 hektare. Data tersebut merupakan hasil laporan pemerintah kabupaten/kota yang dihimpun melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBPK Kalteng.
Berdasarkan analisis parameter cuaca Fine Fuel Moisture Code (FFMC) dari BMKG, sebagian besar wilayah Kalteng berada dalam kategori sangat tinggi atau sangat mudah terbakar.
Kepala Pelaksana BPBPK Provinsi Kalteng Ahmad Toyib menegaskan, penanganan karhutla tidak berhenti pada pemadaman ketika api muncul. Upaya pencegahan dan pembasahan juga terus dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
“Pencegahan harus menjadi tanggung jawab bersama. Masyarakat kami harapkan ikut menjaga lingkungan, melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran, dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu terjadinya karhutla,” pungkasnya.(daq/oes/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama