Hotspot Turun Drastis, Tapi Bara Karhutla Kotim Belum Jinak

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 10:19 WIB
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi wilayah Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Sabtu (26/9/2026). (Disdamkarmat Kotim untuk Radar Sampit)
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi wilayah Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Sabtu (26/9/2026). (Disdamkarmat Kotim untuk Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com  – Jumlah titik panas (hotspot) yang terdeteksi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menurun. Berdasarkan data BMKG dan BPBD Kotim per Senin pagi (28/9/2026), tercatat 580 titik panas dalam 24 jam terakhir.

Jumlah tersebut turun dibandingkan beberapa hari sebelumnya yang sempat mencapai lebih dari 1.000 titik panas.

Meski terjadi penurunan, BPBD Kotim mengingatkan personel Satuan Tugas (Satgas) Karhutla untuk tidak mengendurkan kewaspadaan.

Penurunan hotspot belum berarti ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah berakhir.

Dari 580 titik panas tersebut, sebanyak 552 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah (medium confidence). Kemudian 24 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) dan empat titik masuk kategori rendah (low confidence).

Sebaran titik panas masih terlihat di sejumlah wilayah, terutama kawasan pesisir dan bantaran Sungai Mentaya.

Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 184 titik. Berikutnya Mentaya Hilir Utara 148 titik dan Pulau Hanaut 88 titik.
Di tingkat desa, jumlah terbanyak terdeteksi di Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, dan Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Masing-masing tercatat 121 titik panas.

Penurunan jumlah hotspot menjadi perkembangan yang cukup baik dalam penanganan karhutla. Namun, kondisi lahan gambut tetap menjadi perhatian karena api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul jika proses pemadaman serta pendinginan tidak dilakukan secara tuntas.

Satgas Karhutla gabungan yang melibatkan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api (MPA) tetap diminta memperketat patroli dan pembasahan di wilayah rawan.

Kewaspadaan juga perlu dipertahankan di lokasi yang masih ditemukan titik panas maupun bekas kebakaran yang belum sepenuhnya dinyatakan aman. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
kotim karhutla