Hujan Mulai Guyur Kotim, Karhutla Belum Bisa Dianggap Selesai

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 07:00 WIB
Hujan yang terjadi di sejumlah wilayah Kotawaringin Timur, Minggu (27/9/2026). (Warga/Radar Sampit)
Hujan yang terjadi di sejumlah wilayah Kotawaringin Timur, Minggu (27/9/2026). (Warga/Radar Sampit)

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com  – Hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam dua hari terakhir. Namun, kondisi tersebut belum bisa menjadi tanda bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mereda.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotim Mulyono Leo Nardo mengatakan, hujan yang mulai turun menjadi tanda awal peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.

“Bisa dikatakan kita memasuki awal transisi dari musim kemarau ke hujan, tapi secara umum kita masih musim kemarau,” kata Mulyono, Senin  (28/9/2026).

Menurutnya, awal musim hujan diperkirakan terjadi berbeda di setiap wilayah Kotim. Sampit dan sekitarnya diprakirakan memasuki awal musim hujan pada awal November 2026.

Wilayah bagian utara diperkirakan lebih dahulu memasuki musim hujan, yakni sekitar pertengahan Oktober. Sementara wilayah selatan diprakirakan baru memasuki awal musim hujan pada akhir November.

Mulyono menyebut peluang pertumbuhan awan hujan masih cukup tinggi hingga akhir September. Potensinya mencapai sekitar 50-70 persen di sejumlah wilayah Kotim.

Khusus 27 September, potensi pertumbuhan awan hujan diprakirakan di atas 70 persen. Kondisi tersebut membuka peluang hujan kembali turun di sejumlah wilayah.

Meski demikian, hujan yang terjadi saat ini belum cukup untuk meredakan karhutla secara menyeluruh. Menurut Mulyono, hujan yang turun baru membantu mengurangi kondisi kering di permukaan lahan.

“Untuk meredakan masih belum bisa dikatakan demikian, tepatnya mengurangi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, karhutla membutuhkan hujan dengan intensitas lebat dan durasi yang cukup lama agar kondisi lahan benar-benar basah dan api dapat lebih efektif diredam.

“Hujan dengan intensitas lebat dan durasinya lama yang bisa meredakan karhutla,” pungkasnya. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
karhutla kotim kotim kalteng hujan