SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Seekor kukang yang ditemukan terluka di wilayah Kotabesi Hilir, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah akhirnya mati setelah sempat mendapat perawatan dokter hewan.
Satwa dilindungi itu diduga menjadi korban sengatan listrik saat berusaha menghindar dari api karhutla yang membakar habitatnya.
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, kukang ditemukan warga pada Senin (21/9/2026) sekitar pukul 02.00 WIB. Warga kemudian menyerahkan satwa tersebut kepada aktivis lingkungan untuk mendapatkan pertolongan.
Baca Juga: Gambut Palangka Raya Berkobar, King Kobra jadi Ular Bakar
Berdasarkan keterangan warga yang melihat kejadian, kukang diduga tersengat listrik hingga terjatuh. Setelah kejadian tersebut, listrik di sekitar lokasi juga sempat padam. Sedikitnya tiga rumah dilaporkan terdampak.
Kukang kemudian dibawa aktivis lingkungan ke klinik dokter hewan. Dari video pemeriksaan yang diterima Muriansyah, terlihat bagian belakang tubuh kukang mengalami gangguan. Kedua kaki belakangnya juga tidak bisa digunakan secara normal.
“Saya lihat video sempat dikirim Mas Harrt (aktivis lingkungan), video waktu pemeriksaan di klinik itu diobati lukanya dan saat itu kukang menyeret kaki belakangnya, jadi kayaknya semacam lumpuh gitu,” ujar Muriansyah.
Upaya penyelamatan tersebut ternyata tidak berhasil.
Baca Juga: Tanpa Makanan, Dua Orangutan Terlunta-lunta di Lokasi Karhutla KM 24 Kotawaringin Lama
Pada Selasa sore (22/9/2026), aktivis lingkungan mendapati kukang tersebut sudah tidak mampu bertahan dan akhirnya mati.
Muriansyah yang baru tiba di Sampit pada Selasa malam kemudian menerima bangkai kukang dari para aktivis. Satwa tersebut selanjutnya dikuburkan di sekitar kediamannya.
Menurut Muriansyah, luka yang dialami kukang kemungkinan lebih parah di bagian dalam dibandingkan yang terlihat dari luar.
“Ternyata mungkin luka dalamnya lebih parah dibandingkan luka luarnya,” katanya.
Terkait dugaan kukang keluar dari habitat karena terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Muriansyah belum dapat memastikan hal tersebut.
Dia menyebut sejumlah kawasan di sekitar Kota Besi memang terdapat kebakaran. Namun, dirinya tidak berada di lokasi saat kukang ditemukan sehingga belum bisa memastikan apakah satwa tersebut berasal dari area yang terdampak karhutla.
“Kalau saya karena tidak ke lokasi penemuan kukang itu tidak bisa memastikan. Tapi memang wilayah sekitaran Kota Besi itu memang ada kebakaran,” jelasnya.
Menurut informasi dari aktivis lingkungan, kebakaran juga terjadi di sekitar lokasi penemuan kukang. Namun, Muriansyah mengatakan kemarau juga dapat membuat satwa liar mendekati permukiman.
Baca Juga: Lemas di Tepi Sungai Lamandau, Anak Orangutan Peluk Warga Saat Diselamatkan
“Kalau saat musim-musim kemarau memang satwa liar itu mendekati ke pemukiman,” ujarnya.
Untuk penyebab luka, Muriansyah menyebut dugaan sengatan listrik berdasarkan keterangan warga yang menyaksikan kejadian tersebut.
“Tapi kalau luka yang dialami kukang dipastikan bukan karena terbakar itu karena kesetrum. Karena warga tadi yang menyaksikan dan sempat tiga rumah mati lampu gara-gara kesetrum kukang itu,” katanya.
Muriansyah menjelaskan, keberadaan kukang di sekitar permukiman Kota Besi sebenarnya bukan hal yang aneh. Kotabesi Hilir dan Kotabesi Hulu masih memiliki sejumlah kebun karet yang menjadi habitat satwa tersebut.
Meski sebagian kawasan kebun mulai berubah menjadi perkebunan kelapa sawit, kukang masih dapat ditemukan di sekitar wilayah tersebut.
“Kotabesi Hilir dan Kotabesi Hulu itu banyak kebun karet. Walaupun sekarang sudah mulai mereka ubah kelapa sawit. Tapi di situ memang habitatnya kukang,” tuturnya.
Kukang juga tidak selalu berada jauh di dalam hutan. Kebun karet, kebun buah, dan vegetasi di sekitar rumah dapat menjadi tempat satwa tersebut beraktivitas.
“Makanya ada kadang kukang ya bisa berada di samping rumah,” imbuhnya.
Muriansyah mengapresiasi aktivis lingkungan yang segera mengevakuasi kukang dan membawanya ke dokter hewan. Menurutnya, langkah tersebut sudah tepat meski satwa itu akhirnya tidak dapat diselamatkan.
Dia berharap kejadian tersebut tidak membuat aktivis kehilangan semangat dalam membantu penyelamatan satwa liar.
“Terima kasih kepada kawan-kawan aktivis lingkungan Sampit. Jangan patah semangat karena kejadian ini,” pungkasnya. (oes)
Editor : Slamet Harmoko