Gambut Palangka Raya Berkobar, King Kobra jadi Ular Bakar

Dodi Abdul Qadir • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 13:25 WIB
TERBAKAR: Tim BPK Kamboja, Palangka Raya menemukan seekor Ular King Kobra hitam berukuran sekitar 4 meter ditemukan dalam kondisi mati akibat Karhutla. (BPK Kamboja/Radar Sampit)
TERBAKAR: Tim BPK Kamboja, Palangka Raya menemukan seekor Ular King Kobra hitam berukuran sekitar 4 meter ditemukan dalam kondisi mati akibat Karhutla. (BPK Kamboja/Radar Sampit)

PALANGKA RAYA, radarsampit.jawapos.com – Kebakaran lahan gambut di Jalan Jati Ujung, tepi Pengeringan Kanal 4, Palangka Raya, belum sepenuhnya padam.

Meski kobaran api di permukaan telah berkurang, bara masih ditemukan di dalam tanah hingga kedalaman sekitar 1 meter.

Kondisi tersebut membuat tim BPK Kamboja kembali berjibaku melakukan pemadaman, Minggu (20/9/2026). Selama lima hari penanganan, petugas menemukan sejumlah titik gambut yang masih mengeluarkan bara dan asap.

Baca Juga: Keluar Habitat Karena Karhutla, Kukang Imut Ini Nyaris Tewas Tersengat Listrik

Lokasi kebakaran berada tidak jauh dari Masjid Abu Hurairah. Luasan lahan yang terbakar diperkirakan sekitar setengah hektare.

Ketua BPK Kamboja Sucipto mengatakan, pemadaman terus dilakukan untuk mematikan bara sekaligus mengurangi kepulan asap yang terbawa ke wilayah Kota Palangka Raya.

“Pemadaman ini dilanjutkan dengan maksud mengurangi kabut asap yang selalu mengarah ke Kota Palangka Raya. Setidaknya kami berupaya mengurangi asap dari sebagian besar lahan yang terbakar,” kata Sucipto, Minggu (20/9/2026).

Menurut Sucipto, penanganan kebakaran cukup sulit karena api tidak hanya berada di permukaan. Lapisan gambut yang terbakar memiliki kedalaman sekitar 50 sentimeter hingga 1 meter.

Baca Juga: Lemas di Tepi Sungai Lamandau, Anak Orangutan Peluk Warga Saat Diselamatkan

Kondisi tersebut membuat penyiraman permukaan saja tidak cukup. Petugas harus membasahi lapisan gambut secara berulang untuk memastikan bara di dalam tanah benar-benar padam.

Sejumlah titik bahkan masih mengeluarkan asap setelah permukaan lahan terlihat tidak lagi terbakar. Pemadaman kemudian kembali dilakukan pada titik-titik tersebut agar bara tidak menjalar melalui lapisan gambut.

Karakter kebakaran gambut memang berbeda dengan kebakaran vegetasi di permukaan. Api dapat bertahan di bawah tanah dan terus menjalar meski kobaran api sudah terlihat padam.

Asap yang muncul dari kawasan tersebut juga sempat cukup pekat hingga mengganggu jarak pandang.

“Jarak pandang di sekitar lokasi disebut berada pada kisaran 50 hingga 75 meter. Kondisi tersebut dinilai membahayakan apabila tidak segera dikendalikan,” ujarnya.

Di tengah proses pemadaman, tim BPK Kamboja menemukan satwa liar berupa ular king cobra hitam berukuran sekitar 4 meter dalam kondisi mati.

Ular tersebut ditemukan tergeletak sambil melilit ranting kayu berukuran sekitar ibu jari orang dewasa. Diameter tubuhnya diperkirakan mencapai sekitar 2,5 inci.

Baca Juga: Sempat Dehidrasi, Anak Orangutan Temuan Warga Lamandau Dinamai DINAS dan Dijemput Tim BKSDA

“Betapa kagetnya saat pemadaman lahan gambut, masih dalam satu lokasi dengan ukuran kurang lebih setengah hektare, kami melihat ada ular king cobra hitam yang mati,” ujar Sucipto.

Penemuan tersebut menjadi perhatian karena sebagian kawasan di sekitar lokasi kebakaran masih berupa semak belukar yang cukup lebat. Sejumlah pohon alami bahkan memiliki ketinggian hingga sekitar 8 meter.

Menurut Sucipto, kondisi tersebut menunjukkan kawasan semak dan lahan terbuka di sekitar lokasi masih memungkinkan menjadi habitat atau jalur pergerakan satwa liar.

Keberadaan ular berukuran besar di kawasan Pengeringan juga bukan kali pertama dilaporkan. Sekitar setahun sebelumnya, warga pernah melaporkan keberadaan king cobra berukuran besar yang masuk dan bersembunyi di bawah kolong dapur rumah panggung.

Tim rescue BPK Kamboja sempat mendatangi lokasi untuk melakukan evakuasi. Namun, saat petugas tiba, ular tersebut sudah tidak ditemukan.

Laporan mengenai ular juga pernah diterima dari sejumlah titik di sekitar kawasan Pengeringan. Ada laporan di sisi kanan arah kawasan tersebut dekat pos kamling. Namun, pencarian saat itu tidak menemukan ular yang dimaksud.

Laporan serupa juga pernah diterima dari sisi kiri jika datang dari arah Jalan Adonis Samad. Sebagian ular ditemukan, sementara sebagian lainnya tidak berhasil ditemukan.

“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kawasan semak dan lahan terbuka di sekitar lokasi masih memungkinkan menjadi habitat atau jalur pergerakan satwa liar,” katanya.

Kebakaran Ganggu Habitat Satwa

Sucipto menilai kebakaran lahan tidak hanya menimbulkan persoalan asap dan ancaman bagi manusia. Ekosistem di kawasan tersebut juga ikut terganggu.

Satwa yang sebelumnya berada di kawasan semak dan pepohonan harus menghadapi perubahan lingkungan akibat kebakaran. Sebagian dapat berpindah, sementara sebagian lainnya berpotensi terjebak atau mati.

“Ini semua fakta. Siklus kehidupan sudah terganggu. Jangankan hewan mati, manusia pun tidak menutup kemungkinan bisa terdampak karena kepekatan asap,” tuturnya.

Bangkai king cobra yang ditemukan kemudian dikuburkan. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari risiko warga maupun petugas menginjak bagian tubuh atau taring ular serta mencegah munculnya bau dari bangkai.

Sementara itu, pemadaman lahan gambut masih berlanjut. Tim BPK Kamboja akan kembali memantau titik-titik yang masih mengeluarkan asap dan membasahi area tersebut untuk memastikan bara tidak kembali menyala.

Bagi petugas, padamnya kobaran api di permukaan bukan berarti kebakaran telah sepenuhnya selesai. Bara yang masih tersimpan di bawah lapisan gambut tetap berpotensi menjalar dan kembali memunculkan asap.

“Api mungkin tak lagi berkobar besar di permukaan. Namun, di bawah gambut, bara masih bisa bertahan. Karena itu, pemadaman tak berhenti ketika api terlihat padam,” tandasnya. (daq)

Editor : Slamet Harmoko
king kobra terbakar karhutla kebakaran gambut gambut palangka raya King Kobra jadi Ular Bakar PALANGKA RAYA