Bekantan Mati di Ujung Pandaran, BKSDA: Beda dengan yang Sempat Viral

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 12:43 WIB
Bangkai bekantan yang ditemukan warga berada di lokasi wisata Pantai Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit.
Bangkai bekantan yang ditemukan warga berada di lokasi wisata Pantai Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit. 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Seekor bekantan ditemukan mati di sekitar kawasan wisata Pantai Ujung Pandaran, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Bangkai satwa dilindungi itu sempat terekam dalam video yang kemudian beredar di sejumlah grup WhatsApp.

Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, pihaknya langsung menelusuri informasi tersebut setelah video beredar. Dari keterangan petugas penjaga kawasan wisata, bekantan ditemukan pada Minggu sore (20/9).

“Kalau pengamatan saya secara pribadi dari video dan foto, kesimpulan awal saya, bekantan memang beda dari yang pekan lalu. Saya melihatnya dari ukuran hidung,” kata Muriansyah, Selasa (22/9).

Sebelumnya, video seekor bekantan yang berkeliaran di sekitar tepi jalan Ujung Pandaran juga beredar pada Minggu (13/9). Bekantan dalam video tersebut terlihat memiliki tubuh lebih besar dan hidung lebih panjang.

Sementara bekantan yang ditemukan mati memiliki ciri fisik berbeda. Berdasarkan keterangan petugas, tidak terlihat luka akibat benda tajam maupun bekas jeratan pada tubuh satwa tersebut.

Bangkai bekantan kemudian dikuburkan karena kondisinya sudah membusuk, dipenuhi belatung dan mengeluarkan bau tidak sedap. Muriansyah mengatakan, penyebab kematian satwa tersebut belum dapat dipastikan.

Dia juga belum bisa mengaitkan kematian bekantan dengan kebakaran lahan yang terjadi di kawasan Ujung Pandaran.

“Kalau terkait kebakaran memang ada di Ujung Pandaran. Tetapi habitat bekantan tidak terkebakar, karena sebagian besar tanah mangrove berupa lumpur,” jelasnya.

Menurut Muriansyah, habitat bekantan di kawasan Ujung Pandaran berada di hutan mangrove yang membentang di sepanjang tepian Sungai Mentaya hingga Desa Lampuyang. Kawasan tersebut juga menjadi habitat lutung abu-abu.

Terkait keberadaan bekantan di sekitar kawasan wisata, Muriansyah menyebut perilaku manusia bisa menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan satwa. Salah satunya kebiasaan pengunjung memberi makan satwa liar.

Satwa yang terbiasa memperoleh makanan dari manusia dapat mengubah pola mencari makan dan mendatangi lokasi yang banyak dikunjungi manusia.

“Mungkin bekantan yang mati tadi sebelumnya pernah datang ke lokasi tersebut dan diberi makan pengunjung, akhirnya datang lagi,” ujarnya.

Muriansyah mencontohkan monyet ekor panjang di sepanjang jalan Ujung Pandaran hingga Desa Sungai Bakau, Kabupaten Seruyan. Satwa tersebut kerap terlihat menunggu di tepi jalan karena terbiasa mendapat makanan dari pengendara atau pengunjung.

Karena itu, masyarakat diminta tidak membiasakan memberi makan satwa liar yang hidup bebas di alam. Kebiasaan tersebut dapat membuat satwa bergantung pada pemberian manusia dan mengubah perilaku alaminya.

Muriansyah juga meminta masyarakat segera melapor kepada BKSDA apabila menemukan satwa dilindungi, baik dalam kondisi hidup maupun mati.

Untuk temuan bekantan mati di kawasan wisata Ujung Pandaran, dia masih memaklumi tindakan petugas yang menguburkan bangkai tersebut. Selain kondisinya sudah membusuk dan mengeluarkan bau, petugas disebut belum mengetahui prosedur penanganan satwa dilindungi.

Masyarakat juga diminta tidak menangkap, melukai atau membunuh bekantan apabila menjumpainya di alam maupun sekitar permukiman.

“Kalau bertemu bekantan di alam atau hutan, jangan menangkap, jangan melukai, misal menembak dengan senapan angin atau bahkan membunuhnya,” tegasnya.

Jika bekantan masuk ke permukiman, kebun atau ladang, warga diminta tidak berusaha menangkapnya sendiri. Keberadaan satwa tersebut dapat dilaporkan kepada BKSDA atau aparat desa setempat.

Muriansyah mengatakan bekantan pada dasarnya tidak membahayakan manusia selama tidak diganggu. Satwa tersebut cenderung menjauh ketika merasa terganggu.

Karena itu, warga diminta tidak melakukan tindakan yang dapat memicu satwa merasa terancam saat bertemu bekantan di sekitar permukiman atau kawasan wisata. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
Bekantan mati bksda Ujung Pandaran