PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Langit sebagian wilayah Kalimantan Tengah masih diselimuti situasi kelabu kabut asap akibat Karhutla. Palangka Raya, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dan Pulang Pisau menjadi daerah yang terdampak parah. Pantauan indek kualitas udara (IQAIR) Senin (21/9) petang, di wilayah Palangka Raya masuk kategori berbahaya, dan di Kota Sampit masuk kategori tidak sehat.
Di Pulang Pisau, misalnya. Kabut asap bahkan menutup pandangan ke seberang sungai. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghentikan aktivitas masyarakat.
Kondisi lebih terasa di Palangka Raya. Asap pekat menyelimuti sejumlah kawasan. Udara menjadi pengap. Jarak pandang berkurang. Ancaman gangguan kesehatan pun semakin nyata, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Sama halnya dengan kondisi di Kota Sampit (Kabupaten Kotim) dan sekitarnya.
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran pun turut merasakan kondisi tersebut. Disampaikannya, mengantisipasi dampak kesehatan akibat kabut asap, pemerintah daerah menyiapkan 169 lokasi Rumah Oksigen. Fasilitas tersebut tersebar di 13 kabupaten dan satu kota di Kalteng. Rumah oksigen memanfaatkan jaringan fasilitas kesehatan pemerintah, rumah sakit rujukan, puskesmas hingga posko karhutla di tingkat kelurahan dan kecamatan.
Baca Juga: Dinkes Kalteng Tepis Isu Lonjakan Kasus ISPA di Tengah Karhutla
Ia juga menegaskan, penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri. Kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, relawan, dunia usaha, serta masyarakat diperlukan untuk mencegah kebakaran yang meluas.
Perusahaan perkebunan, kehutanan, dan pemegang izin lainnya juga diminta menjalankan tanggung jawab dalam pencegahan maupun penanganan karhutla di wilayah kerja masing-masing.
“Masyarakat juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar. Penanganan, menurut pemerintah, tidak boleh berhenti pada pemadaman api. Warga yang terdampak asap juga harus mendapatkan perlindungan dan bantuan,”ujar Agustiar Sabran.
Wakil Gubernur Kalteng Edy Pratowo juga mengatakan, seluruh sumber daya dikerahkan untuk melindungi masyarakat.“Solidaritas, kolaborasi, dan kebersamaan kita sangat penting. Semua sumber daya yang kita miliki digerakkan agar masyarakat Kalimantan Tengah tetap terlindungi,” terangnya.
Menurutnya, penanganan karhutla tahun ini menghadapi tantangan karena berbarengan dengan musim kemarau panjang. Pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara dengan tetap memperhitungkan kondisi cuaca serta jarak pandang.
Terpisah, Kepala Puskesmas Bukit Hindu Palangka Raya Hellyana mengatakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mengalami peningkatan sejak beberapa bulan terakhir.
Pada Juni, diwilayah itu tercatat 296 kasus ISPA. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 436 kasus pada Juli. Lonjakan kembali terjadi pada Agustus dengan 480 kasus. Sementara hingga September 2026, tercatat 307 kasus.“Lonjakan itu karena dampak dari kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya,” bebernya.
Menurut dia, pasien ISPA didominasi orang dewasa. Meski demikian, kasus pada anak-anak juga ditemukan. Keluhan yang banyak disampaikan pasien antara lain batuk, pilek, demam, hingga nyeri tenggorokan.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker dan pelindung mata. Bagi para lansia, dia menyarankan agar lebih banyak beraktivitas di dalam rumah, mencukupi kebutuhan air dan menjaga kondisi tubuh.
“Kalau tidak penting, batasi aktivitas di luar ruangan. Jika tetap harus keluar, gunakan masker dan kacamata karena asap saat ini cukup pekat,”imbuh Hellyana.
Sementara itu, di tengah kondisi tersebut pemerintah belum mengarah untuk menetapkan kondisi kejadian luar biasa (KLB) terkait kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Sebelumnya Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng Suyuti Syamsul menegaskan, belum terdapat lonjakan kasus ISPA secara drastis yang memerlukan penanganan luar biasa.
“ISPA itu mau ada karhutla, tidak ada karhutla, pasti ada kasus ISPA,” ujarnya.
Suyuti menjelaskan, cukup sulit memastikan secara spesifik kasus ISPA yang benar-benar berkaitan langsung dengan paparan asap karhutla. Hal itu lantaran cakupan diagnosis ISPA cukup luas.
“Semua penyakit kalau sudah dokter malas mendiagnosa, ya sudah ISPA. Mau batuk, mau pilek, mau bersin-bersin, bisa ditarik ke situ,” sebutnya.
Meski kasus ISPA dapat mengalami kenaikan, Suyuti menegaskan peningkatan tersebut belum menunjukkan kondisi yang dapat dikategorikan sebagai lonjakan drastis. Dengan demikian, hingga saat ini, tidak ada kabupaten maupun kota di Kalteng yang menetapkan KLB ISPA di tengah kondisi karhutla.(daq/ktr-3/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama