Air Mulai Payau, Perumdam Larang Warga Minum Air PDAM di Tiga Wilayah Ini

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 15:00 WIB
Aktivitas warga di Sungai Mentaya, Sampit, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur. (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit)
Aktivitas warga di Sungai Mentaya, Sampit, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur. (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Air Perumdam Tirta Mentaya mulai mengalami perubahan rasa di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kondisi ini terjadi seiring meningkatnya salinitas atau kadar garam akibat kemarau panjang dan fenomena El Nino. 

Perumdam mencatat peningkatan salinitas terjadi di Samuda Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Bagendang Kecamatan Mentaya Hilit Utara, Pelangsian dan Ketapang wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Tingkat salinitas di sejumlah wilayah tersebut sudah berada di atas ambang batas.

Kepala Bagian Teknik Perumdam Tirta Mentaya Edy Dyufriadi mengatakan, perubahan rasa air mulai dirasakan di wilayah Ketapang. Perumdam juga terus melakukan pengecekan kualitas air setiap hari.

“Ya, hanta lah,” kata Edy saat dikonfirmasi, Minggu (20/9).

Menurutnya, peningkatan rasa asin pada air mulai terpantau sejak Sabtu lalu. Kondisi tersebut belum berlangsung sampai dua pekan karena pemantauan dilakukan secara rutin.

“Belum sampai dua minggu karena kami lakukan pengecekan tiap hari. Sabtu kemarin rasanya baru mulai naik. Enggak tahu kalau hujan turunnya bulan Oktober,” ujarnya.

Perumdam kemudian mengeluarkan pemberitahuan kepada pelanggan terkait penurunan kualitas air minum di wilayah terdampak.

Untuk Samuda, Bagendang, dan Pelangsian , pelanggan diminta tidak menggunakan air Perumdam untuk minum maupun memasak. Air hanya diperbolehkan untuk kebutuhan MCK, yakni mandi, cuci dan kakus.

Sementara untuk wilayah Ketapang, air masih dapat digunakan untuk konsumsi setelah direbus terlebih dahulu. Ketentuan tersebut juga berlaku untuk penggunaan air dalam memasak.

Perumdam mengingatkan air dengan kadar salinitas dan Total Dissolved Solids (TDS) tinggi berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan. Keluhan yang dapat muncul antara lain perut kembung, mual, muntah hingga diare.

Kondisi ini merupakan perkembangan dari intrusi air laut yang sebelumnya mulai memengaruhi sumber air baku di Samuda dan Bagendang. Pada 9 September lalu, Perumdam menyebut Pelangsian juga mulai bersiap menghadapi kemungkinan terdampak.

Meski kualitas air mulai berubah di sejumlah wilayah, kondisi intake Baamang masih dinyatakan aman. Perumdam melakukan pengambilan air lebih mundur ke arah hulu untuk menjaga sumber air baku.

“Kalau intake Baamang aman masih. Sekarang kami ngambilnya mundur. Kalau ditarik lurus sungainya sekitar 8–9 kilometer di tanah,” jelas Edy.

Karena itu, perubahan rasa air yang mulai dirasakan pelanggan di sejumlah wilayah tidak serta-merta berarti sumber air baku intake Baamang sudah terdampak.

Perumdam tetap memantau kondisi sumber air setiap hari. Pelanggan juga diminta menggunakan air secara bijak selama kemarau masih berlangsung.

Edy menyebut peningkatan salinitas bukan hanya terjadi di Kotim. Kondisi serupa juga menjadi perhatian di sejumlah daerah lain, seperti Kapuas, Pangkalan Bun dan Seruyan.

Sebelumnya, Perumdam mengingatkan apabila kemarau terus berlangsung, intrusi air laut berpotensi bergerak semakin jauh ke wilayah sumber air baku. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
Perumdam sampit kotim kalteng