SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kabut asap pekat kembali menyelimuti Sampit, Jumat (18/9). Jarak pandang di kawasan perkotaan anjlok hingga sekitar 100 meter, sementara nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kotawaringin Timur (Kotim) tercatat mencapai 763. Kondisi tersebut membuat sejumlah sekolah memulangkan siswa lebih awal untuk mengurangi paparan asap.
Aplikasi ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat nilai ISPU Kotim mencapai 763 pada Jumat (18/9). Angka tersebut menunjukkan kualitas udara berada pada kondisi sangat buruk dan berisiko terhadap kesehatan.
Asap tebal terlihat menyelimuti sejumlah wilayah, terutama kawasan perkotaan Sampit. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, jarak pandang pada pukul 08.00 hingga 12.00 WIB hanya berkisar 100 meter.
Kondisi tersebut turut mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar. Sejumlah sekolah memilih memulangkan siswa lebih awal sebagai langkah untuk mengurangi paparan asap.
Wakil Bupati Kotim Irawati mengatakan, kondisi kualitas udara tersebut berkaitan dengan masih adanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Titik kebakaran, antara lain, terpantau di Kecamatan Pulau Hanaut dan Kecamatan Seranau.
“Memang masih ada kebakaran hutan dan lahan, yaitu di wilayah Kecamatan Pulau Hanaut dan Kecamatan Seranau. Titik api cukup lumayan. Yang high itu ada di Desa Mekar Jaya dan Rawa Sari, kemudian juga terpantau di Desa Ganepo yang berada di Kecamatan Seranau,” kata Irawati.
Menurutnya, arah angin turut membawa asap dari wilayah yang mengalami karhutla menuju kawasan perkotaan. Angin yang bergerak dari arah utara disebut membawa asap masuk ke Kecamatan Ketapang dan Baamang.
“Anginnya dari utara sehingga tentunya membawa asap dari dampak kebakaran tersebut masuk ke dalam kota, yaitu Kecamatan Ketapang dan Kecamatan Baamang,” ujarnya.
Selain arah angin, kondisi angin yang relatif lemah pada Jumat pagi membuat asap tidak cepat terurai. Asap dari lahan yang terbakar kemudian berkumpul di kawasan perkotaan sehingga jarak pandang menjadi pendek.
“Bisa dikatakan salah satunya karena angin bertiup lemah. Kemudian kemarin kita ketahui ada hujan, tetapi sebentar saja. Itu juga bisa memicu keluarnya asap dari lahan kita yang gambut,” jelas Irawati.
Ia menjelaskan, lahan gambut memiliki karakteristik berbeda karena api dapat bertahan dan membakar di bawah permukaan. Hujan dengan intensitas ringan, menurutnya, tidak selalu membuat api di dalam gambut benar-benar padam.
“Lahan gambut itu kan tidak mudah mati apinya. Dia akan nyala terus di bawah. Sehingga kena air sedikit itu akan mengeluarkan asap. Asap kemudian terkumpul karena tidak ada angin, terutama di daerah perkotaan yaitu Kecamatan Baamang dan Ketapang,” katanya.
Di tengah kondisi kabut asap dan kekeringan, pemerintah daerah juga masih melanjutkan distribusi air bersih ke wilayah terdampak.
Irawati mengatakan, penyaluran air telah dilakukan sejak status siaga dan terus berlanjut setelah Kotim memasuki status tanggap darurat karhutla.
“Masih, masih berlanjut. Penanganan pemberian air itu dari sebelum tanggap darurat, dari siaga. April itu sudah dilaksanakan di daerah selatan,” ungkapnya.
Menurutnya, distribusi air dalam jumlah besar juga kembali dilakukan pemerintah daerah. Bupati Kotim Halikinnor sebelumnya turun langsung mengantarkan bantuan air bersih ke wilayah selatan dengan total sekitar 80.000 liter yang distribusinya berlangsung hingga Minggu.
“Bapak Bupati sendiri yang langsung mengantarkan ke daerah selatan, mengirim 80.000 liter air dan itu sampai hari Minggu. Nah, itu yang untuk yang banyak. Dan seterusnya tetap dilakukan pengiriman air,” katanya.
Bantuan air tidak hanya menyasar wilayah selatan. Irawati mengatakan hampir seluruh kecamatan di Kotim turut merasakan dampak kekeringan. Ia berencana kembali menyalurkan air ke wilayah utara pada Minggu (20/9).
“Insya Allah saya juga mungkin di hari Minggu akan menyalurkan air ke daerah kecamatan wilayah utara. Karena hampir semua kecamatan se-Kabupaten Kotawaringin Timur mengalami dampak dari kekeringan,” ujarnya.
Irawati mengatakan, kekeringan dan kabut asap menjadi persoalan yang saling berkaitan. Selain paparan asap, sebagian masyarakat juga mengalami gangguan kesehatan yang menurutnya berkaitan dengan kondisi sumber air di sejumlah wilayah.
“Banyak warga kita yang terpapar asap salah satunya, dan juga sakit perut karena memang kondisi air tidak layak konsumsi untuk saat ini,” kata Irawati.
Ia berharap hujan segera turun dengan intensitas yang cukup untuk membantu mengatasi karhutla sekaligus memperbaiki kualitas udara. Di sisi lain, personel di lapangan terus melakukan pemadaman terhadap titik-titik kebakaran.
“Harapannya semoga segera datang hujan. Semoga pemerintah bisa memadamkan. Pemadam-pemadam itu sepertinya sudah sigap,” pungkasnya.
Kondisi pekatnya asap pada Jumat pagi juga dirasakan langsung masyarakat. Salah seorang warga, Ida, mengatakan kabut asap yang menyelimuti Kota Sampit cukup pekat hingga membuat mata terasa perih dan mengganggu pernapasan.
“Asapnya sangat pekat, perih. Perih ke mata, sesak napas,” ujar Ida.
Ia juga mengatakan jarak pandang saat kabut asap pekat cukup pendek sehingga aktivitas di luar ruangan menjadi tidak nyaman. (yn)
Editor : Slamet Harmoko