Asap Karhutla Renggut Momen Paling Berharga: Seorang Ibu Tertahan di Bandara saat Anak Menikah

Heru Prayitno • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 07:33 WIB
Warga Sampit mengurus refund atau reschedule akibat pembatalan penerbangan, Jumat (18/9/2026). (Heru Prayitno/Radar Sampit)
Warga Sampit mengurus refund atau reschedule akibat pembatalan penerbangan, Jumat (18/9/2026). (Heru Prayitno/Radar Sampit)

JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak hanya mengganggu kualitas udara. Aktivitas penerbangan pun ikut terdampak.

Jadwal delay hingga pembatalan penerbangan kini menjadi bayang-bayang bagi masyarakat yang hendak bepergian ke sejumlah daerah terdampak asap.

Di Bandara Soekarno-Hatta, Jumat (18/9/2026), dampak itu terasa nyata. Pantauan Radar Sampit mendapati sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan hingga pembatalan. Di antaranya penerbangan menuju Palangka Raya dan Sampit yang harus dibatalkan pada siang hari.

Baca Juga: Lima Jam Bertahan di Laut, Korban Virgo Transport 8 Lihat Penumpang Lainnya Diserang Hiu

Bagi sebagian penumpang, pembatalan penerbangan bukan sekadar soal tertundanya perjalanan. Ada waktu, tenaga, biaya, bahkan momen penting bersama keluarga yang ikut dipertaruhkan.

Sekelompok penumpang yang hendak terbang dari Jakarta menuju Palangka Raya, misalnya, sudah bersiap sejak Kamis. Namun, penerbangan yang mereka nantikan tak kunjung berangkat karena dibatalkan.

Display Jadwal penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Jumat (18/9/2026) (Heru Prayitno/Radar Sampit)
Display Jadwal penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Jumat (18/9/2026) (Heru Prayitno/Radar Sampit)

Mereka pun memilih bertahan di terminal bandara hingga Jumat. Harapannya, penerbangan dapat kembali dilakukan pada hari berikutnya.

Namun, harapan itu kembali kandas. Penerbangan Jumat ternyata kembali dibatalkan. Mereka pun harus kembali menginap di bandara sambil menunggu kepastian keberangkatan pada Sabtu.

Baca Juga: Kabut Asap Kacaukan Jadwal Pesawat di Sampit dan Palangka Raya.Jarak Pandang Kurang dari 500 Meter

“Ga ada kompensasi apa apa. Akhirnya tidur di bandara dua hari,” ujar salah seorang penumpang rute Jakarta-Palangka Raya.

Di tempat lain, seorang penumpang dari Pekanbaru, Riau, mengalami nasib serupa. Ia transit di Jakarta untuk melanjutkan perjalanan menuju Sampit pada Jumat.

Empat jam berlalu dalam penantian. Delay tak membuatnya menyerah. Ia masih berharap pesawat tetap bisa terbang menuju Kota Mentaya.

Namun, harapan itu seketika runtuh ketika maskapai mengumumkan penerbangan dibatalkan. Penyebabnya, kondisi asap tebal di bandara tujuan.

Ia kemudian berusaha mencari berbagai alternatif agar tetap bisa tiba di Sampit pada Sabtu pagi. Pilihan penerbangan melalui Pangkalan Bun maupun Palangka Raya coba dipertimbangkan.

Namun, pilihan itu juga belum menyelesaikan persoalan.

Kalaupun mendapatkan penerbangan, perjalanan masih harus dilanjutkan melalui jalur darat menuju Sampit. Waktu tempuh sekitar empat jam membuatnya diperkirakan baru tiba pada siang hari.

Baca Juga: Awalnya Delay, Tiga Penerbangan Dari dan Menuju Sampit Batal Gara-Gara Kabut Asap

Padahal, ada satu alasan yang membuat perjalanan itu begitu penting.

“Anak saya menikah Sabtu pagi ini di Sampit. Saya tidak bisa menghadiri karena pesawat cancel,” ujar perempuan berhijab tersebut saat ditemui di Bandara Soekarno-Hatta, Jumat petang.

Wajahnya tampak sembab. Lelah bercampur sedih tergambar jelas setelah berjam-jam menunggu kepastian penerbangan.

Harapan untuk menyaksikan langsung hari sakral sang anak akhirnya harus pupus, bukan karena ia tak ingin datang, melainkan karena penerbangan yang menjadi tumpuan perjalanannya dibatalkan.

Menunggu Kepastian Cuaca

Kondisi serupa juga dirasakan penumpang lainnya. Sejumlah wajah yang tak asing bagi Radar Sampit terlihat berada di tengah ketidakpastian jadwal penerbangan. Di antaranya Asean dari Sinarmas dan Irfan Hafid dari Musirawas.

Irfan tampak beberapa kali mendatangi petugas bandara. Ia berusaha mendapatkan kepastian mengenai jadwal penerbangannya.

Namun, jawaban yang diterima masih sama: penumpang harus menunggu kepastian kondisi cuaca membaik di Sampit.

Waktu pun terus berjalan. Kepastian keberangkatan belum juga didapat.

“Sampai habis rokok sebungkus, belum juga berangkat. Semoga karhutla lekas cepat ditangani. Semoga hujan cepat turun. Ini melumpuhkan penerbangan,” kata Irfan.

Ucapan itu menggambarkan keresahan penumpang yang bukan hanya menunggu pesawat, tetapi juga menunggu kondisi alam kembali memungkinkan penerbangan berlangsung.

Bagi masyarakat yang bepergian melalui jalur udara, kabut asap akhirnya menjadi persoalan yang jauh lebih besar dari sekadar jarak pandang.

Ia bisa berarti berjam-jam menunggu di terminal, menginap di bandara, mengubah rencana perjalanan, menambah biaya, hingga kehilangan momen penting bersama keluarga.

Radar Sampit sendiri turut merasakan dampaknya. Jadwal penerbangan yang semula direncanakan pada Jumat siang harus diubah.

Perjalanan kembali ke Kota Mentaya baru dapat dilakukan dua hari kemudian, yakni Minggu siang.

Sementara itu, bagi para penumpang yang masih tertahan, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menunggu: menunggu kabut asap menipis, menunggu cuaca membaik, dan menunggu pengumuman bahwa pesawat akhirnya bisa kembali mengudara. (yit)

 

Editor : Slamet Harmoko
Anak Menikah Tertahan di Bandara kabut asap karhutla