Nakhoda KM Virgo Transport 8 Jalani Pemeriksaan, VDR alias Black Box Belum Diketahui Keberadaannya

Slamet Harmoko • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 14:47 WIB
Kondisi KM Virgo Transport 8 (Basarnas)
Kondisi KM Virgo Transport 8 (Basarnas)

 

Radarsampit.jawapos.com – Nakhoda KM Virgo Transport 8 dipastikan selamat setelah kapal tersebut mengalami kecelakaan pelayaran di Laut Jawa. Saat ini, nakhoda menjalani pemeriksaan untuk kepentingan penanganan kecelakaan kapal.

Kepastian tersebut disampaikan Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) RI Suntana dalam konferensi pers di Banjarmasin, Selasa (14/9/2026) malam.

“Untuk nakhoda, selamat dan sedang dilakukan pemeriksaan,” kata Suntana.

Selain kondisi nakhoda, keberadaan Voyage Data Recorder (VDR) atau perangkat yang kerap disebut sebagai black box kapal juga menjadi perhatian dalam proses investigasi.

Suntana mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan apakah VDR KM Virgo Transport 8 masih berada di kapal yang mengalami kecelakaan tersebut.

Menurutnya, keberadaan perangkat itu baru bisa diketahui setelah dilakukan upaya pengangkatan kapal.

“Untuk VDR atau black box-nya kapal itu, nanti setelah upaya kita bisa mengangkat kapal itu, mudah-mudahan masih ada. Dan nanti akan kita konfirmasikan,” ujarnya.

Saat ini, kapal masih berada di lokasi kejadian sehingga petugas belum dapat memastikan kondisi maupun keberadaan VDR.

Data yang tersimpan dalam VDR nantinya diharapkan dapat membantu proses investigasi, terutama untuk mengetahui rangkaian kejadian sebelum kapal mengalami kecelakaan.

EPIRB Dipastikan Aktif

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) RI Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii memastikan perangkat sinyal darurat kapal atau Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) dalam kondisi aktif.

EPIRB merupakan perangkat yang digunakan kapal untuk memancarkan sinyal darurat ketika terjadi kondisi yang membutuhkan pertolongan.

“Jadi transmitter dari emergency kapal itu, saya pastikan aktif,” kata Syafii.

Menurutnya, sinyal EPIRB tersebut terpantau melalui sistem deteksi yang dimiliki Basarnas maupun negara lain yang tergabung dalam sistem pemantauan.

“Jadi saya pastikan EPIRB dari kapal itu aktif. Dan ini termonitor baik itu Australia, Singapura, maupun MEOLUT atau LEOLUT yang ada di Badan SAR Nasional,” ujarnya.

Syafii juga meluruskan informasi mengenai kabar bahwa alarm atau sinyal darurat dari kapal tidak berbunyi. Menurut dia, perangkat tersebut bukan tidak aktif, melainkan terdapat jeda dalam penerimaan informasi.

Basarnas memiliki dua sistem deteksi, yakni LEOLUT dan MEOLUT. Keduanya didukung enam antena untuk menerima informasi yang dipancarkan melalui satelit.

“Bukan tidak berbunyi. Jadi setelah kita konfirmasi, itu aktif. Kenapa ada delay?” jelasnya.

Syafii menjelaskan, penerimaan informasi bergantung pada data yang dikirimkan satelit. Dengan konfigurasi enam antena yang dimiliki Basarnas, terdapat jeda tertentu dalam proses penerimaan sinyal.

Karena itu, informasi mengenai sinyal darurat juga terkadang dapat diterima melalui sistem pemantauan yang dimiliki negara lain.

Ia menambahkan, sejumlah negara maju memiliki sistem serupa dengan jumlah antena yang lebih banyak.

Saat ini, Basarnas memiliki enam antena yang digunakan dalam sistem LEOLUT dan MEOLUT.

Keberadaan VDR masih menjadi salah satu hal yang akan dipastikan dalam proses penanganan KM Virgo Transport 8.

Jika kapal berhasil diangkat dan perangkat tersebut masih dapat ditemukan, data di dalamnya dapat menjadi salah satu bahan penting dalam investigasi untuk mengungkap rangkaian kejadian sebelum kecelakaan.

Dengan demikian, selain keterangan nakhoda dan awak kapal serta hasil pemeriksaan lainnya, data VDR berpotensi membantu memberikan gambaran teknis mengenai kondisi kapal dan pelayaran sebelum kecelakaan terjadi.

Editor : Slamet Harmoko
black box kapal VDR Voyage Data Recorder Nakhoda KM Virgo Transport 8