BANJARMASIN,radarsampit.jawapos.com-Hingga Selasa (15/9) pukul 09.00 WITA, Basarnas mengonfirmasi sebanyak 114 korban tragedi KM Virgo Transport 8 telah ditemukan. Rinciannya, 108 korban selamat dan enam orang meninggal dunia. Dari 114 korban yang telah ditemukan, sebanyak 110 orang sudah tiba di Banjarmasin.
Dengan total 243 orang berada di dalam KM Virgo Transport 8, masih terdapat 129 orang yang belum ditemukan dan pencarian terus dilakukan. Kapal tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada Minggu (13/9) sekitar pukul 02.00 WITA saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin, pada Sabtu (12/9).
Sementara itu, mengenai tiga penumpang tujuan ke Kabupaten Kotawaringin Timur, yakni pasangan suami-istri berdomisili di Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan satu orang dari komplek perumahan Sinar Fajar Sampit, hingga kemarin masih belum ada kabar beritanya.
Ketiganya bernama Helianto (55) dan Novika Liana (43) dari Samuda, kemudian Purkam (64) yang ber KTP Kabupaten Tulungagung.
Sebelumnya, seorang kerabat korban dari Samuda, Wahito Fajriannor, mengatakan keluarga terus berupaya mendapatkan informasi mengenai keberadaan keduanya. Hingga Senin (14/9), nama Helianto dan Novika belum diketahui dalam daftar korban yang ditemukan maupun dievakuasi.
“Kami tetap berupaya mencari keterangan dan mencari kejelasan dari pihak Basarnas yang memang saat ini bekerja keras mencari korban-korban lainnya. Sampai pagi ini keluarga kami masih belum ada,” kata Wahito.
Baca Juga: Inilah Daftar Nama 85 Korban KM Virgo Transport 8 yang Berhasil Diidentifikasi
Menurut Wahito, keluarga pertama kali mengetahui kondisi darurat kapal sekitar pukul 02.00 WITA. Saat itu, Helianto sempat menghubungi saudaranya dan menyampaikan bahwa kapal dalam kondisi miring.
Sekitar pukul 03.00 WITA, Novika kembali menghubungi anak bungsunya. Dalam komunikasi tersebut, ia meminta keluarganya mendoakan keselamatan mereka karena kondisi kapal sudah semakin buruk.
Kemudian mengenai keberadaan Purkam, saat Radar Sampit mencoba menelusuri kediamannya, keluarganya dikabarkan telah berangkat ke Banjarmasin, untuk mencari informasi keberadaannya.
“Kalau tidak salah beliau itu sopir. Kami tahu kalau beliau ikut di kapal itu, dari status WA istrinya. Intinya bikin status meminta doa, ketika kapal itu dikabarkan hilang kontak,”ungkap salah satu tetangganya yang menolak namanya disebutkan saat dibincangi Radar Sampit.
Sementara itu, operasi pencarian dilakukan melalui tiga unsur, yakni kapal permukaan, armada udara, dan pencarian bawah permukaan laut.Namun, kondisi cuaca menjadi salah satu kendala utama bagi tim SAR untuk mengerahkan penyelam.
Kepala Basarnas Marsekal TNI Muhammad Syafi’i mengatakan, operasi SAR tetap berjalan meski terdapat pembatasan terhadap unsur tertentu.
Operasi tidak mengenal berhenti, 24 jam. Hanya unsur-unsur tertentu karena keterbatasan seperti pesawat, kita hentikan operasional udaranya pada pukul 17.00 Wita,” ujar Syafi’i saat ditemui di Lanud Sjamsudin Noor Banjarbaru.
”Karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, sehingga teman-teman yang sudah kami siapkan baik itu dari Kopaska TNI AL, kemudian ada satu tim penyelam khusus juga yang disiapkan dari TNI AL, kemudian dari teman-teman Badan SAR Nasional, belum bisa kami turunkan,” imbuh Syafii, dikutip dari Radar Banjarmasin. (jpg/sla/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama