SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Seorang warga Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), meninggal dunia setelah ikut membantu memadamkan kebakaran lahan, Senin (14/9) malam. Sebelum meninggal, korban sempat mengeluhkan sakit dada dan sesak napas kepada istrinya.
Kepala Desa Hanjalipan Sapransyah membenarkan kabar tersebut. Menurutnya, korban ikut membantu warga memadamkan kebakaran yang terjadi di wilayah desa setempat. Setelah mengalami sesak napas, korban kemudian diminta pulang ke rumah.
“Betul, kemarin (almarhum) ikut memadamkan api. Lalu sesak napas,” kata Sapransyah saat dikonfirmasi, Selasa (15/9).
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Hanjalipan Reky mengatakan, korban pulang sekitar pukul 23.00 WIB setelah ikut memadamkan api di kebun miliknya bersama masyarakat. Setibanya di rumah, korban langsung menyampaikan keluhan kepada istrinya.
“Setelah pulang, beliau mengeluhkan sakit dada dan sesak. Itu jam 11 malam cerita sama istrinya,” ujarnya.
Korban sempat berusaha beristirahat. Namun sekitar pukul 02.00 WIB, korban kembali terbangun dan keluar rumah untuk melihat kondisi kebakaran. Saat itu api masih terlihat, meski disebut sudah tidak separah sebelumnya.
Setelah melihat kondisi api, korban kembali masuk ke rumah dan tidur. Beberapa waktu kemudian, istrinya berusaha membangunkan korban, tetapi tidak mendapat respons.
Setelah diperiksa, korban diketahui telah meninggal dunia. Tim kesehatan desa kemudian datang ke rumah korban. Namun, saat petugas tiba, korban sudah dalam kondisi meninggal sehingga tidak sempat menjalani pemeriksaan medis.
“Beliau tidak sempat diperiksa. Tim medis datang beliau sudah meninggal,” kata Reky.
Reky menambahkan, berdasarkan keterangan keluarga, korban diketahui memiliki riwayat asma dari orang tuanya. Meski demikian, belum ada pemeriksaan medis yang dapat memastikan penyebab kematian korban.
Karena itu, keluhan sesak napas dan sakit dada yang dialami korban setelah ikut menangani karhutla belum dapat dipastikan sebagai penyebab langsung meninggalnya korban. (yn)
Editor : Slamet Harmoko