Radarsampit.jawapos.com – Tim SAR gabungan mulai menyiapkan operasi pencarian bawah laut untuk menemukan 129 korban KM Virgo Transport 8 yang hingga kini masih hilang di Laut Jawa.
Kondisi cuaca dan arus yang belum bersahabat membuat pencarian dengan penyelam Kopaska TNI AL belum memungkinkan dilakukan.
Sebagai alternatif, tim SAR akan mengandalkan teknologi Remotely Operated Vehicle (ROV) yang berada di KRI Canopus-936.
Perangkat tersebut akan digunakan untuk membantu menyisir bagian bawah laut dan memeriksa kemungkinan korban yang masih berada di dalam kapal.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan, KRI Canopus memiliki sejumlah peralatan yang dapat mendukung pencarian bawah permukaan.
”Kami memanfaatkan drone underwater-nya, kemudian multibeam echosounder, dan juga ROV yang ada dalam kapal tersebut,” kata Syafii, Selasa (15/9).
129 Korban Masih Dalam Pencarian
Dari total 243 orang yang berada di dalam KM Virgo Transport 8, sebanyak 114 korban telah ditemukan. Rinciannya, 108 orang selamat dan enam orang meninggal dunia.
Dengan demikian, masih terdapat 129 korban yang belum ditemukan. Operasi pencarian dilakukan melalui tiga unsur, yakni kapal permukaan, armada udara, dan pencarian bawah permukaan laut.
Namun, kondisi cuaca menjadi salah satu kendala utama bagi tim SAR untuk mengerahkan penyelam.
”Karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, sehingga teman-teman yang sudah kami siapkan baik itu dari Kopaska TNI AL, kemudian ada satu tim penyelam khusus juga yang disiapkan dari TNI AL, kemudian dari teman-teman Badan SAR Nasional, belum bisa kami turunkan,” imbuh Syafii.
Kapal Terbalik Terus Bergeser
Syafii mengungkapkan, kondisi KM Virgo Transport 8 yang terbalik juga menjadi tantangan tersendiri. Kapal tersebut masih memiliki sejumlah sekat dan ruang kosong di dalamnya.
Dalam kondisi terbalik dan masih mengapung, kapal juga terus bergeser mengikuti arus. Pada Senin (14/9), posisi kapal disebut telah bergeser sekitar 1,6 nautical mile dari titik awal kecelakaan.
Kondisi tersebut membuat pencarian semakin sulit, terutama jika tim harus memeriksa bagian dalam kapal menggunakan penyelam.
”Dan ini menjadi kesulitan yang kedua pada saat tadi saya sampaikan ada kesulitan terkait dengan kondisi cuaca,” ujarnya.
Keselamatan Penyelam Jadi Prioritas
Basarnas tidak ingin mengambil risiko dengan langsung menurunkan penyelam ke kapal yang dalam kondisi terbalik dan terus bergerak.
Menurut Syafii, keselamatan personel menjadi pertimbangan utama sebelum operasi penyelaman dilakukan. Karena itu, diperlukan kajian matang dengan melibatkan personel yang memiliki pengalaman dan kemampuan khusus dalam menghadapi kondisi bawah air seperti tersebut.
”Kami akan melaksanakan diskusi dan kami melibatkan personel-personel yang memang memiliki kemampuan, baik itu pengalaman atau pendidikan di kondisi-kondisi ini. Ini yang akan kami kembangkan,” katanya.
Selain menggunakan ROV dan perangkat pendeteksi bawah laut, Basarnas juga mempertimbangkan opsi untuk mengubah posisi kapal yang saat ini dalam keadaan terbalik.
”Bahkan kami berpikir bagaimana kami bisa mengubah posisi dari tengkurapnya kapal ini untuk kami balik,” imbuhnya.
Operasi pencarian terhadap 129 korban masih terus dilakukan. Tim SAR akan menyesuaikan metode pencarian dengan kondisi cuaca, arus, posisi kapal, serta aspek keselamatan seluruh personel yang terlibat. (jpg)
Editor : Slamet Harmoko