SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kondisi tersebut membuat status tanggap darurat bencana karhutla dan kekeringan berpeluang kembali diperpanjang.
Status tanggap darurat yang berlaku saat ini akan berakhir pada 15 September 2026. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim dijadwalkan menggelar rapat evaluasi sehari sebelumnya untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Wakil Komandan Harian III Pos Komando (Posko) Karhutla dan Kekeringan Kotim Rihel mengatakan, rapat evaluasi dijadwalkan Senin (14/9/2026) pukul 10.00 WIB.
“Untuk status tanggap darurat kita berakhir pada tanggal 15 September ini, dan kami akan laksanakan rapat nanti tanggal 14 September pada hari Senin pukul 10.00 WIB,” kata Rihel, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Rihel, perpanjangan status tanggap darurat masih sangat mungkin dilakukan. Keputusan tersebut akan mempertimbangkan kondisi karhutla dan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H. Asan Kotawaringin Timur.
“Nah, untuk kemungkinan besar, kita lihat nanti prakiraan cuaca. Tapi kalau dengan saat ini, posisi kemungkinan besar kita akan perpanjang, ya mungkin bisa sampai 15 hari,” ujarnya.
Jika kondisi kemarau masih berlanjut dan ancaman karhutla belum menurun, status tanggap darurat dapat diperpanjang selama 15 hari hingga 30 September 2026.
“Kalau memang nanti ramalan BMKG memang masih terjadi kemarau, kemungkinan status tanggap diperpanjang sampai 30 September,” tutur Rihel.
Ancaman karhutla juga masih terlihat dari data terbaru BMKG. Hingga 12 September pukul 07.00 WIB, sebanyak 978 hotspot terdeteksi di Kotim dalam akumulasi 24 jam terakhir.
Dari jumlah tersebut, 31 titik memiliki tingkat kepercayaan rendah, 904 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, dan 43 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.
Peta potensi kemudahan terjadinya kebakaran BMKG juga menunjukkan sebagian besar wilayah Kotim berada dalam kategori sangat mudah terbakar. Kondisi tersebut masih terlihat pada peta untuk 12 dan 13 September.
Di tengah kondisi tersebut, masih terdapat peluang pertumbuhan awan hujan. Prakiraan berbasis ECMWF menunjukkan potensi pertumbuhan awan hujan di Kotim berada pada kategori sedang, yakni sekitar 50–70 persen untuk periode 12 September pukul 07.00 WIB hingga 13 September pukul 07.00 WIB.
Namun, peluang pertumbuhan awan hujan belum berarti seluruh wilayah Kotim akan mendapatkan hujan dengan intensitas yang sama. Kondisi lahan yang kering juga masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Sementara itu, data BPBD Kotim hingga 9 September 2026 mencatat 776 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.706 hektare.
Luas lahan terbakar terbesar tercatat di Kecamatan Seranau dengan 703 hektare. Kemudian Mentawa Baru Ketapang 377 hektare dan Baamang 272 hektare.
Untuk akumulasi hotspot, BPBD mencatat sebanyak 21.132 titik. Kecamatan Mentaya Hilir Selatan menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 4.135 titik. Berikutnya Teluk Sampit 3.141 titik dan Mentawa Baru Ketapang 3.090 titik.
Dengan masih tingginya ancaman karhutla, rapat evaluasi pada 14 September menjadi penentu langkah Pemkab Kotim selanjutnya. Salah satu opsi yang terbuka adalah memperpanjang status tanggap darurat hingga 30 September 2026. (oes)
Editor : Slamet Harmoko