PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Kabut asap dan buruknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kota Palangka Raya, ketika Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming berkunjung ke Ibu Kota Kalimantan Tengah (Kalteng) itu,Kamis (10/9/2026).
Setelah berhasil mendarat di Bandara Tjilik Riwut, dirinya didampingi Gubernur Kalteng Agustiar Sabran dan anggota rombongan lainnya, meninjau SDN 2 Petuk Katimpun. Gibran melihat langsung aktivitas belajar mengajar sekaligus kondisi lingkungan sekolah yang terdampak buruknya kualitas udara.
Di lokasi itu, dirinya menanyakan kondisi sekolah serta pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di tengah kualitas udara yang berubah-ubah. Selain melihat kondisi fisik sekolah, Gibran juga berinteraksi dengan siswa dan siswi, meninjau proses pembelajaran, serta melihat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wakil Wali Kota Palangka Raya Achmad Zaini menjelaskan, pelaksanaan pembelajaran tatap muka masih mengacu pada kondisi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dan ketentuan dalam surat edaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Menurut dia, PTM masih diperbolehkan apabila kualitas udara berada di bawah angka 200. Namun, pelaksanaannya wajib disertai protokol kesehatan yang ketat.“Ketentuannya ketat sekali. Dan apabila kualitas udaranya tiba-tiba memburuk, langsung dipulangkan,” kata Zaini.
Murid, pendidik, dan tenaga kependidikan diwajibkan menggunakan masker. Ruang kelas juga harus dilengkapi kipas angin untuk membantu sirkulasi udara.
Zaini menjelaskan, kondisi udara sebelumnya sempat membaik setelah hujan pada Selasa (8/9). Dari kategori sangat tidak sehat, kualitas udara turun menjadi tidak sehat sehingga PTM kembali diperbolehkan.
“Bukan serta-merta kita adakan PTM. Kemarin kan hari Selasa hujan, kemudian kualitasnya membaik. Dari sangat tidak sehat menjadi tidak sehat, nah itu sudah diperbolehkan PTM. Hari ini nanti kita evaluasi lagi,” paparnya.
Kepala SDN 2 Petuk Katimpun Fatmawati mengatakan, kegiatan belajar mengajar masih berlangsung dengan sejumlah penyesuaian. Jam belajar murid dipangkas sebagai langkah antisipasi dampak kabut asap.
Sesuai instruksi Disdik, siswa masuk pukul 07.30 WIB dan dipulangkan pukul 11.00 WIB. Selama berada di lingkungan sekolah, seluruh murid diwajibkan menggunakan masker.
“Kalau kabut asap ini, anak-anak tetap masuk ke sekolah, tapi dengan persyaratan harus pakai masker. Kemudian waktunya dikurangi,” ungkap Fatmawati.
Dalam momen itu, warga Petuk Katimpun juga menyampaikan sejumlah aspirasi kepada pemerintah. Salah satunya terkait warga yang kehilangan kebun akibat kebakaran di kawasan Jalan Tjilik Riwut Kilometer 13.
Warga setempat Ernawati mengatakan sejumlah kebun warga terbakar. Salah satunya kebun nanas dan rambutan milik warga yang berada di kawasan tersebut.
Warga berharap mendapat bantuan bibit untuk kembali mengelola lahan yang terbakar. Selain itu, kebutuhan sumur bor juga disampaikan karena sebagian masyarakat belum menggunakan layanan PDAM.
“Sumur bornya juga kami minta. Kan kami enggak pakai PDAM di sini, rata-rata masyarakat di sini memakai sumur bor,” ungkapnya.
Dalam kunjungan tersebut, wapres dan rombongan turut merasakan suasana kabut asap, dan buruknya kualitas udara, sehingga mereka harus menggunakan masker. Pada kesempata itu, masker turut dibagikan kepada warga.
Selain ke sekolah, Gibran juga menyempatkan diri meninjau SPBU dan melihat antrean panjang kendaraan, yang akan mengisi BBM. Meski tak banyak berbicara, dirinya menyempatkan turun mendatangi para pengantree dan berinteraksi langsung.
Sejumlah warga pun memanfaatkan kesempatan tersebut dengan langsung menyapa, serta ada yang menyempatkan berfoto dan bersalaman langsung dalam kunjungan setengah hari tersebut. (daq/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama