Karhutla Belum Reda, Wilayah Selatan Kotim Paling Membara

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 15:15 WIB
Kebakaran lahan besar terjadi di depan Kantor Kecamatan Mentayah Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (9/9/2026). (Bachtiar/Radar Sampit)
Kebakaran lahan besar terjadi di depan Kantor Kecamatan Mentayah Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (9/9/2026). (Bachtiar/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com  – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum sepenuhnya reda. Sebaran titik panas masih terpantau di sejumlah wilayah, terutama kawasan selatan.

Berdasarkan laporan rekapitulasi hotspot Kabupaten Kotim per Rabu (9/9/2026) pukul 07.00 WIB, terdeteksi 270 titik panas dalam akumulasi 24 jam terakhir.

Wilayah selatan menjadi kawasan dengan sebaran hotspot cukup tinggi. Kecamatan Mentaya Hilir Selatan berada di posisi teratas dengan 56 titik, disusul Teluk Sampit sebanyak 45 titik dan Pulau Hanaut 39 titik.

Jika digabung, tiga kecamatan tersebut menyumbang 140 hotspot, atau lebih dari separuh total titik panas yang terdeteksi di Kotim.

Selain itu, Telawang juga mencatat jumlah hotspot cukup tinggi dengan 52 titik. Kemudian Mentaya Hilir Utara 24 titik, Baamang 20 titik, Antang Kalang 12 titik, Kota Besi 11 titik, dan Mentawa Baru Ketapang delapan titik.

Hotspot juga terpantau di Mentaya Hulu sebanyak dua titik dan Bukit Santuai satu titik.

Dari total 270 hotspot tersebut, sebagian besar memiliki tingkat kepercayaan menengah. Rinciannya, 254 titik confidence menengah, lima titik confidence rendah, dan 11 titik confidence tinggi.

Hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Mentaya Hilir Selatan sebanyak empat titik, Pulau Hanaut tiga titik, serta Antang Kalang empat titik.

Kondisi tersebut menunjukkan potensi karhutla masih perlu diwaspadai. Terlebih, sejumlah wilayah selatan Kotim menjadi kawasan dengan konsentrasi titik panas paling tinggi.

Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan, terutama pembakaran terbuka. 

“Kondisi lahan yang kering dapat membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan,” ungkap Kepala Pelaksana Harian Badan Penangulangan Bencana Daerah Kotim Rihel. 

Pemantauan titik panas dan penanganan di lapangan menjadi penting untuk mencegah hotspot berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
selatan kotim sampit kalteng karhutla