Mengenaskan, Tenggiling Jadi Korban Karhutla di Desa Terantang

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 13:32 WIB
Pencinta satwa liar, Harry Siawanto, saat mengumpulkan bangkai tenggiling yang mati terpanggang  di wilayang Desa Terantang, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur. (Istimewa)
Pencinta satwa liar, Harry Siawanto, saat mengumpulkan bangkai tenggiling yang mati terpanggang di wilayang Desa Terantang, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur. (Istimewa)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya menghanguskan hutan dan lahan. Satwa liar yang berada di dalam habitatnya turut menjadi korban.

Seekor tenggiling dewasa ditemukan mati dengan tubuh hangus di kawasan hutan Desa Terantang Hilir, Kecamatan Seranau, Sabtu (5/9/2026). Satwa dilindungi itu diduga tidak mampu menyelamatkan diri dari kobaran api yang melanda habitatnya.

Temuan tersebut pertama kali diketahui warga yang berada di sekitar lokasi kebakaran. Kondisi tenggiling sangat mengenaskan. Sebagian besar tubuhnya mengalami luka bakar hingga hangus.

Warga setempat, Wildan, membenarkan temuan tersebut. Menurutnya, tenggiling ditemukan sudah tidak bernyawa di kawasan yang terdampak karhutla.

"Kami menemukan tenggiling mati di Terantang Hilir karena karhutla," ujar Wildan saat dikonfirmasi, Sabtu (5/9).

Menurut Wildan, kebakaran juga menghanguskan sejumlah kebun milik warga. Luasan lahan yang terdampak disebut mencapai puluhan hektare.

Cuaca panas, kondisi lahan yang kering, serta angin membuat api cepat merambat melalui semak dan vegetasi. Kobaran kemudian menjalar ke kawasan yang menjadi habitat satwa liar.

"Sudah banyak kebun warga yang terbakar di sini. Hewan juga ikut menjadi korban," katanya.

Wildan menyebut kawasan Terantang Hilir memang menjadi habitat tenggiling. Karena itu, ia menduga masih ada satwa lain yang terdampak kebakaran.

"Memang di sini habitat tenggiling. Kemungkinan masih ada hewan lain yang mati akibat kebakaran," ujarnya.

Kabar tersebut kemudian diterima Komunitas Pecinta Satwa Liar di Kotim. Harry Siswanto mengatakan pihaknya mendapat laporan dari warga terkait tenggiling yang ditemukan mati tersebut.

Harry mengaku sedih karena pihaknya tidak sempat menyelamatkan satwa tersebut.

"Sedih, kami tak bisa selamatkan satwa itu. Tenggiling dewasa perkiraan berat lebih dari 10 kilogram jadi korban kebakaran hutan dan lahan," kata Harry. 

Camat Seranau Dwi Kushendro juga membenarkan adanya temuan tenggiling tersebut. Saat ditemukan, satwa itu sudah dalam kondisi mati.

Bangkai tenggiling kemudian dibawa oleh komunitas pencinta satwa untuk penanganan lebih lanjut.

"Saat ditemukan kondisinya sudah mati. Bangkai tenggiling kemudian dibawa oleh pencinta reptil," kata Dwi.

Kematian tenggiling tersebut menjadi gambaran lain dampak karhutla di Kotim. Kebakaran tidak hanya mengancam lahan perkebunan dan aktivitas warga, tetapi juga menghancurkan habitat satwa liar.

Tenggiling merupakan satwa yang bergerak relatif lambat. Ketika api bergerak cepat melewati habitatnya, satwa tersebut menghadapi risiko besar untuk terjebak dan tidak sempat mencari tempat aman.

Warga berharap penanganan karhutla di Terantang Hilir terus diperkuat. Selain mencegah kebakaran meluas, upaya tersebut penting untuk melindungi habitat dan satwa liar yang masih bertahan di kawasan tersebut. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
Karhutla Sampit tenggiling mati terbakar karhutla karhutla kotim Tenggiling karhutla