PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Polda Kalteng mulai menggunakan formula baru untuk pemadaman karhutla di lahan gambut.
Formula itu sebagai salah satu solusi di tengah sulitnya mendapatkan air untuk pemadaman karhutla, yakni penggunaan cairan khusus pemadam api bernama Shabondama, yang mengandung busa seperti gelembung sabun.
Formula tersebut dikembangkan AKBP Dr Edia Sutaata bersama Universitas Palangka Raya. Cairan itu diklaim dapat membantu pemadaman karhutla, termasuk di lahan gambut dan tanah mineral.
Edia yang merupakan Kabagwassidik Ditreskrimsus Polda Kalteng mengatakan, formula tersebut telah melalui riset dan uji coba lapangan sejak 2019.
“Berdasarkan uji coba lapangan dan riset akademik yang telah ditempuh sejak tahun 2019, cairan ini memiliki sejumlah keunggulan komparatif dibandingkan metode konvensional,” paparnya.
Baca Juga: Mabes Polri Kirim Tambahan Peralatan dan Personel untuk Padamkan Karhutla di Kalteng
Menurut Edia, cairan tersebut memiliki kemampuan meresap dengan cepat, ramah lingkungan, sekaligus menghemat penggunaan air. Hal itu dinilai penting karena sumber air menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan karhutla saat musim kemarau.
“Ini adalah solusi taktis bagi penanggulangan karhutla di lahan gambut. Dua ribu liter air bersih dicampur dengan dua liter cairan Shabodama sudah mampu menghasilkan daya padam yang masif dan cepat,” bebernya.
Formula tersebut telah digunakan dalam sejumlah penanganan karhutla di Kalteng, antara lain di Pulang Pisau, Palangka Raya, Sampit, dan Pangkalan Bun. Bahkan, cairan tersebut dikirim untuk diuji coba dalam penanganan karhutla di Provinsi Riau.
Sementara itu, Kabidhumas Polda Kalteng Kombes Pol Budi Rachmat mengungkapkan, petugas melakukan pemadaman awal, pemetaan lokasi, hingga koordinasi dengan instansi terkait.
“Satgas Pemburu Api kita terjunkan langsung ke lokasi titik api. Tujuannya untuk pemadaman awal, pemetaan, dan koordinasi dengan instansi terkait agar penanganan karhutla bisa dilakukan secara cepat dan terpadu,” paparnya.
Selain pemadaman, personel melakukan patroli di kawasan rawan, membuat sekat bakar, serta mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.(daq/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama