Karhutla Turut Hanguskan Harapan Petani Sawit. Satu Petani Bisa Merugi Ratusan Juta Rupiah

Rado. • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 21:24 WIB
Petani sawit mandiri di Kecamatan Mentaya Hilir Utara Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), ketika berupaya melawan kobaran api yang akan menjalar ke lahan mereka dengan peralatan seadanya, bulan Agustus tadi. (dok.radarsampit)
Petani sawit mandiri di Kecamatan Mentaya Hilir Utara Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), ketika berupaya melawan kobaran api yang akan menjalar ke lahan mereka dengan peralatan seadanya, bulan Agustus tadi. (dok.radarsampit)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Sejumlah kejadian Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), telah menyasar perkebunan sawit milik masyarakat. Salah satunya kebun milik Dadan di wilayah Kecamatan Baamang yang terbakar,  hingga menyebabkan kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Kebakaran tersebut tidak hanya menghanguskan tanaman sawit, tetapi juga menghilangkan sumber pendapatan petaninya. Sebelum terbakar, kebun milik Dadan masih produktif dan mampu menghasilkan sekitar tiga ton sawit setiap bulan.

“Kebakaran tahun ini kami kehilangan kebun sawit sekitar lima hektare. Kerugian mencapai ratusan juta. Saat ini saja harga lahan sawit lebih dari Rp100 juta per hektare,” paparnya.

Menurutnya, kerugian yang dialami tidak berhenti setelah api padam. Tanaman sawit yang rusak parah harus ditanam kembali, sehingga membutuhkan waktu cukup lama sebelum kembali menghasilkan.

Diungkapkannya pula, kondisi lahan gambut juga menjadi persoalan tersendiri. Api dapat merusak bagian akar tanaman sehingga sawit yang masih berdiri berisiko tumbang ketika diguyur hujan.

Baca Juga: Cegah Kebun Terbakar, Petani Sawit Pilih Bermalam

“Alternatif lain tanam kembali. Apalagi ini di tanah gambut. Selesai terbakar, saat hujan nanti pasti sudah tumbang karena habis akarnya dimakan api,” cetus Dadan.

Diungkapkannya, upaya mencegah api masuk ke perkebunan telah dilakukan. Namun, api yang merambat sulit dikendalikan ketika angin bertiup kencang, hingga masuk ke areal kebun.

“Sebenarnya sudah dijaga juga. Cuma karena api ini dibantu angin, sangat cepat masuk ke kebun,” sebutnya.

Ditambah lagi, kondisi kebun yang dipenuhi semak dan material kering juga mempercepat penyebaran api. Bagian kebun yang tidak terawat menjadi bahan bakar ketika kobaran api mulai masuk.

“Apalagi kebun yang tidak bersih total, terutama bagian tanaman yang mati. Itu dibiarkan jadi semak belukar. Di situlah makanan api,” tutur Dadan.

Menurutnya, kondisi itu menjadi pelajaran bagi pemilik perkebunan agar tidak membiarkan semak belukar menumpuk di dalam maupun sekitar kebun.

Pantauan tak jauh dari Kota Sampit, sejumlah lahan pertanian sawit juga nampak hangus terbakar di wilayah Kecamatan Baamang. Hal itu bisa dilihat di sepanjang Jalan Ir Soekarno, (lingkar utara kota). Nampak sejumlah perkebunan sawit yang sudah menghasilkan, hanya tersisa pepohonan dan semak belukar yang telah hangus.

Sementara itu, data Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim mencatat, hingga 23 Agustus 2026 terdapat 10.282 titik panas dan 540 kejadian karhutla. Luas lahan terbakar yang bisa ditangani mencapai 1.537,60 hektare.

Penanganan karhutla melibatkan 156 personel lintas instansi yang terbagi dalam 18 regu. Petugas juga didukung 22 unit mobil pemadam.

Selain itu, ancaman karhutla masih terlihat dari pemantauan hotspot terbaru. Data Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur BMKG per Rabu (2/9/2026) menunjukkan terdapat 1.110 titik panas. Sebanyak 937 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, 103 titik tingkat kepercayaan tinggi, dan 70 titik tingkat kepercayaan rendah.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo mengatakan, sebaran hotspot masih banyak ditemukan di wilayah yang memiliki bentang lahan gambut dan dikenal rawan karhutla.

Kecamatan Teluk Sampit menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 260 titik. Rinciannya, 15 titik tingkat kepercayaan rendah, 228 menengah, dan 17 tinggi.

Selanjutnya, di wilayah Mentawa Baru Ketapang mencatat 162 titik panas, terdiri atas 13 titik rendah, 135 menengah, dan 14 tinggi. Disusul wilayah Kecmatan Telawang sebanyak 137 titik, kemudian di Mentaya Hilir Utara 132 titik, dan Mentaya Hilir Selatan 115 titik.

Pemkab Kotim pun masih menghadapi sejumlah kendala dalam penanganan karhutla. Di antaranya luas wilayah yang tidak sebanding dengan fasilitas pemadam, sulitnya pemadaman di lahan gambut, keterbatasan sumber air, serta kekurangan selang dan alat pelindung diri (APD).(ang/oes/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
petani sawit menyasar perkebunan kerugian karhutla