Pemprov Kalteng Siapkan Anggaran Rp72 Miliar untuk Penanganan Karhutla

Dodi Abdul Qadir • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 22:12 WIB
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran, ketika ikut turun ke lokasi Karhutla di sekitar kawasan UPR, Selasa (1/9).(dodi/radarsampit)
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran, ketika ikut turun ke lokasi Karhutla di sekitar kawasan UPR, Selasa (1/9).(dodi/radarsampit)

Ketika  Gubernur dan Kapolda Kalteng Ikut Turun ke Titik Api Karhutla 

Sinar matahari masih terasa menyengat ketika langkah para personel Satgas Karhutla terus bergerak di kawasan yang masih berpotensi dilalap api, di wilayah Pulang Pisau (Pulpis) dan Palangka Raya. Gubernur Kalteng Agustiar Sabran dan Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan, beberapa kali ikut turun ke lokasi berbahaya itu.

----------------------------------

Saat turun di lokasi Karhutla di Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Irjen Pol Iwan Kurniawan meminta personel tetap melakukan patroli dan pemantauan, terutama di kawasan yang sebelumnya terbakar. Sebab, kebakaran di lahan gambut tak selalu benar-benar berakhir ketika kobaran api menghilang dari permukaan.

“Kita tidak boleh lengah. Setelah api berhasil dipadamkan, pengawasan dan patroli harus tetap dilakukan untuk mencegah munculnya kembali titik api, maupun kebakaran susulan,” ujarnya, Selasa (1/9).

Menurutnya, keberhasilan mengendalikan api merupakan hasil kerja bersama. TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, termasuk para relawan, hingga unsur lainnya bekerja dalam satu barisan.

Iwan menegaskan, perang melawan karhutla tidak cukup dengan mengerahkan mobil pemadam dan personel ketika api sudah membesar. Selain itu, ada tiga hal yang harus berjalan beriringan, yakni pencegahan, pemadaman, dan penegakan hukum.

Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan, ketika duduk bersama satgas penanganan karhutla di Tumbang Nusa, Pulang Pisau, Selasa (1/9). (ist)
Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan, ketika duduk bersama satgas penanganan karhutla di Tumbang Nusa, Pulang Pisau, Selasa (1/9). (ist)

Pada sisi pencegahan, Satgas Edukasi diminta aktif masuk ke desa-desa yang berada di wilayah rawan. Masyarakat terus diingatkan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Ketika api muncul, seluruh kekuatan dikerahkan. Peralatan dan sarana pendukung digunakan semaksimal mungkin, termasuk bantuan dari pemerintah pusat melalui Presiden dan Kapolri.

Sementara ketika api sengaja dinyalakan, proses hukum harus berjalan.“Untuk penegakan hukum, kami tidak akan kompromi terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan,” tegas Iwan.

Usai memantau titik api di kawasan Jalan Mahir Mahar, Palangka Raya, Iwan menyempatkan makan siang bersama personel di lapangan. Dirinya turut duduk lesehan bersama personel yang sejak pagi berjibaku menghadapi api dan asap.

Di sela-sela makan, Iwan mendengarkan keluhan anggota. Mulai dari persoalan sarana dan prasarana, logistik hingga kondisi kesehatan personel yang setiap hari harus berjibaku dengan bara api dan asap.

“Kegiatan seperti ini penting. Kita makan bersama, bercerita bersama. Tujuannya untuk menumbuhkan kebersamaan, saling menguatkan, dan menjaga motivasi personel di lapangan,” papar Iwan Kurniawan.

Diakuinya, petugas di lapangan bukan hanya menghadapi kobaran api. Ada panas yang menguras tenaga, asap yang mengganggu pernapasan dan medan sulit yang membuat pemadaman tidak mudah.

“Rekan-rekan semua adalah garda terdepan. Kelelahan fisik pasti ada, tapi semangat harus tetap dijaga. Negara dan masyarakat menunggu kerja keras kita. Pantang pulang sebelum padam,” tegas Iwan.

Semangat serupa yang sama juga terlihat dari langkah Gubernur Kalteng Agustiar Sabran. Selasa (1/9), dirinya  turun langsung ke kawasan sekitar Universitas Palangka Raya (UPR) yang juga terdampak karhutla. Demi mencapai titik penanganan, dirinya rela berjalan kaki sekitar 30 menit, bersama puluhan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Palangka Raya.

“Penanganan kebakaran di lahan gambut membutuhkan waktu untuk menjangkau titik api di bagian terdalam. Salah satu kendalanya adalah ketersediaan air,” ujarnya.

Baca Juga: Pangdam dan Kapolda Warning Keras: Jangan Main-Main Bakar Lahan

Karena itu lanjutnya, pemerintah mulai memperkuat upaya penanganan melalui pembangunan sumur bor. Bantuan tersebut merupakan bagian dari dukungan pemerintah pusat dan Presiden Prabowo Subianto.

“Bantuan Presiden untuk pembangunan sumur bor mulai dilaksanakan dan bantuan pendukung lainnya juga telah berdatangan,” kata Agustiar.

Ia juga menegaskan, lahan gambut harus dibasahi sebelum kemarau datang.“Ketika akan memasuki musim kemarau, pembasahan harus sudah mulai dilakukan. Jangan menunggu sampai terjadi kebakaran. Kalau sudah terbakar, penanganannya jauh lebih sulit,” jelasnya.

Terkait pembuatan sumur bor. Agustiar menegaskan tidak bisa dibuat asal-asalan. Lokasinya harus berdasarkan pemetaan wilayah rawan karhutla. Dengan begitu, ketika musim kemarau datang, fasilitas tersebut benar-benar berada di titik yang membutuhkan.

“Menjelang musim kemarau kita harus sudah mapping di mana tempat kebakaran, kemudian pasang sumur bor,” tuturnya.

Upaya menjaga kelembapan gambut juga dilakukan melalui sekat kanal dan tabat. Namun, pengelolaan gambut membutuhkan konsistensi, kelembagaan, serta dukungan teknologi agar penceghan tidak berhenti sebagai program sesaat.

Agustiar juga menegaskan, ketika asap menyelimuti permukiman, persoalan bergeser menjadi urusan kesehatan.Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi salah satu dampak yang mendapat perhatian pemerintah.Status tanggap darurat karhutla yang ditetapkan Pemprov Kalteng membuat penanganan tidak berhenti pada pemadaman.

“Kalau sudah darurat itu semuanya menyangkut semuanya. Termasuk dampak orang tidak bekerja, bagaimana sikap pemerintah,” tegasnya.

Agustiar juga memastikan, masyarakat terdampak ISPA dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara gratis dengan menunjukkan KTP. Pemerintah juga menyiapkan 11 rumah oksigen yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota. Fasilitas tersebut berada di rumah sakit pemerintah dan rumah sakit pratama, dengan sebagian di antaranya beroperasi selama 24 jam.

Fasilitas tersebut antara lain berada di RSJ Kalawa Atei, RSUD Hanau, RSUD Sultan Imanuddin, Rumah Sakit Pratama Kutaringin, RSUD Parenggean, RS Pratama Katingan Kuala, RSUD Kuala Kurun, RSUD dr H Soemarno Sosroatmodjo, RSUD Muara Teweh, RSUD Gusti Abdul Gani, serta RSUD Pulang Pisau.

Di sisi lain, warga juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak diperlukan. Bila mengalami gangguan pernapasan, masyarakat diminta segera memanfaatkan layanan kesehatan.

Agustiar menambahkan, Pemprov Kalteng juga menyiapkan Rp72 Miliar melalui Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk mendukung penanganan bencana karhutla.“Anggarannya masih ada. Semula kita anggarkan Rp72 miliar melalui BTT,” sebutnya.(daq/gus)

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
gubernur Kalteng Agustiar Sabran tumbang nusa satgas Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan karhutla