Ngeri! Kabut Asap Pekat, Kelotok dan Kapal Besar Tetap Melintas di Sungai Mentaya

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Senin, 31 Agustus 2026 | 08:40 WIB
Kapal besar tetap melintas di Sungai Mentaya, berbarengan dengan kelotok kecil, ketika kabut asap sedang pekat, Senin (31/8/2026). (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit)
Kapal besar tetap melintas di Sungai Mentaya, berbarengan dengan kelotok kecil, ketika kabut asap sedang pekat, Senin (31/8/2026). (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kabut asap pekat yang menyelimuti Sampit, Senin pagi  (31/8/2026), tidak hanya mengganggu aktivitas warga di daratan. Kondisi tersebut juga mengancam keselamatan transportasi sungai di Sungai Mentaya.

Meski jarak pandang terbatas, aktivitas penyeberangan menggunakan perahu kelotok tetap berjalan seperti biasa. Sejumlah motoris bahkan terlihat menembus pekatnya kabut asap untuk mengangkut warga dari Mentaya Seberang menuju Sampit.

Situasi tersebut dinilai cukup berisiko. Jarak pandang yang pendek membuat keberadaan perahu lain maupun kapal berukuran besar sulit terlihat dari kejauhan.

"Kondisi ini berbahaya, bisa saja terjadi tabrakan," ungkap Yunus, salah seorang warga yang memantau kondisi kabut asap di kawasan Sungai Mentaya.

Kekhawatiran semakin besar karena aktivitas kapal berukuran besar juga masih berlangsung. Kapal yang masuk menuju Pelabuhan Sampit harus melintasi alur Sungai Mentaya yang juga digunakan perahu kelotok dan transportasi sungai lainnya.

Menurut Yunus, aktivitas pelayaran sebaiknya ditunda sementara apabila kondisi jarak pandang belum memungkinkan.

"Kalau bisa ditunda dulu masuk ke perairan Mentaya. Begitu pun dengan aktivitas seperti tongkang, kapal penumpang, feri penyeberangan, dan perahu kelotok kecil," katanya.

Sebelumnya, kondisi Sungai Mentaya pada pagi itu memang cukup menegangkan. Para motoris kelotok terlihat saling berkomunikasi dengan berteriak untuk memastikan posisi masing-masing.

Sebagian motoris juga mengandalkan suara sebagai tanda keberadaan kapal atau perahu lain.

Bahkan, sinar matahari yang mulai muncul menjadi salah satu patokan bagi motoris untuk menentukan arah perjalanan.

"Selama sinar matahari terlihat, alhamdulillah aman," kata Mansyah, salah seorang motoris kelotok.

Situasi semakin menegangkan ketika kapal roro milik Dharma Lautan Utama masuk untuk bersandar di Pelabuhan Sampit. Motoris kelotok harus memperhatikan suara terompet kapal untuk mengetahui keberadaannya di tengah jarak pandang yang terbatas.

"Yang bahaya itu kalau kapal datang ini saja," ujar Mansyah.

Berdasarkan pantauan Radar Sampit, sejumlah petugas Dinas Perhubungan juga terlihat melakukan pemantauan terhadap kapal yang akan masuk dan bersandar di Pelabuhan Sampit.

Pengawasan tersebut dilakukan di tengah kondisi kabut asap yang membuat jarak pandang di perairan terbatas. Hingga kondisi kabut asap mulai membaik, tidak terjadi insiden berarti dalam aktivitas transportasi sungai.

Kondisi ini menjadi perhatian karena Sungai Mentaya merupakan jalur penting bagi berbagai jenis transportasi air, mulai dari kelotok, feri penyeberangan, tongkang hingga kapal penumpang dan kapal barang.

Sementara itu, data BMKG Kotim mencatat jarak pandang di Sampit pada pukul 06.00 dan 07.00 WIB hanya sekitar 50 meter dengan kondisi cuaca berupa kabut asap.

Pada pukul 07.00 WIB, kecepatan angin tercatat 0 kilometer per jam, sehingga kabut asap masih bertahan di kawasan tersebut.

Dengan kondisi seperti ini, kewaspadaan seluruh pengguna jalur sungai menjadi penting untuk mencegah kecelakaan akibat keterbatasan jarak pandang. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
sungai mentaya transportasi sungai kabut asap