PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com- Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite di sejumlah SPBU di Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat dimanfaatkan secara cerdik sekaligus nekat, oleh oknum tak bertanggung jawab.
Di tengah jeritan warga yang harus mengantre berjam-jam demi mendapatkan bahan bakar murah, Pertalite justru marak dijual secara bebas melalui platform media sosial.
Modus penjualan BBM bersubsidi secara daring (online) ini mulai menjamur sejak beberapa pekan terakhir. Para penjual terang-terangan menawarkan Pertalite dalam kemasan jeriken dengan dalih "stok ready" tanpa perlu bersusah payah antre di SPBU.
Tak main-main, harga yang dipatok para spekulan ini melonjak drastis dibanding harga eceran tertinggi (HET) pemerintah sebesar Rp 10.000 per liter.
Di pasar gelap digital, Pertalite ukuran jeriken 20 liter ditawarkan dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 330 ribu hingga Rp 350 ribu.
Artinya, pembeli harus merogoh kocek hingga Rp 17.500 untuk setiap liternya. Angka ini mendekati harga BBM nonsubsidi kelas premium.
Meski harganya melambung tinggi, lapak-lapak daring tersebut tetap diserbu pembeli yang merasa kepepet dan tak memiliki opsi lain.
Tak hanya menyasar pembeli partai besar, para penjual juga menyediakan opsi ekonomis untuk menjangkau masyarakat kelas menengah ke bawah.
BBM bersubsidi tersebut turut ditawarkan dalam takaran kemasan kecil per 5 liter dengan kisaran harga Rp 85 ribu hingga Rp 90 ribu.
Fenomena ini memicu kemarahan warga yang saban hari terpaksa gigit jari karena kehabisan stok di SPBU resmi.
Banyak konsumen mengeluhkan aturan pembatasan dan digitalisasi pembelian yang ketat di SPBU, sementara para "pemain" justru bisa memborong BBM subsidi dalam jumlah besar untuk dijual kembali.
Warga Pangkalan Bun, Joni mengatakan praktik jual beli BBM subsidi melalui media sosial sudah muncul sejak beberapa pekan terakhir.
"Masyarakat agar tidak tergiur membeli BBM secara online karena selain ilegal, kualitas dan keaslian BBM tersebut tidak terjamin," ujarnya.
Ia berharap aparat kepolisian bersama Satgas Migas untuk bergerak cepat membongkar jaringan penimbun dan peretas distribusi BBM bersubsidi ini.
"Tanpa penindakan tegas dari hulu hingga hilir, persoalan BBM ini tak kunjung selesai, harus ada keberanian," harapnya.
Warga lainnya, Dadang mengaku sejatinya keberadaan penjual BBM eceran cukup membantu, namun saat ini harganya sudah mahal, rata-rata perliter BBM jenis Pertalite dijual di atas Rp15 ribu dan Pertamax Rp20 ribu.
"Kalau saja harga lebih murah di kisaran 13-14 ribu perbotol mungkin cukup membantu masyarakat," pungkasnya (tyo)