Pasokan BBM ke Pelosok Kotim Perlu Dibenahi, Pertashop Banyak Tidak Aktif Memicu Maraknya Pelangsir

Rado. • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 20:30 WIB
Ilustrasi antrean BBM di SPBU di dalam kota. (olahan AI)
Ilustrasi antrean BBM di SPBU di dalam kota. (olahan AI)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dinilai tidak akan selesai apabila persoalan distribusi BBM, khususnya ke wilayah pelosok, tidak ikut dibenahi.

Hal itu disampaikan Anggota Fraksi Gerindra DPRD Kotim, Andi Lala, saat menyampaikan pandangannya di hadapan Sales Branch Manager (SBM) Pertamina Depo Sampit, saat rapat dengar pendapat, belum lama tadi ,(27/8).

Dirinya pun meminta Pertamina tidak hanya fokus menambah pasokan BBM di SPBU wilayah Kota Sampit. Menurutnya, distribusi BBM hingga pedalaman juga perlu diperkuat, terutama dengan mengoptimalkan Pertashop yang sudah tersedia.

Ia mendorong Pertamina menyalurkan Pertamax ke Pertashop yang ada di Kotim, terutama di beberapa titik, sepanjang jalur lintasan kendaraan dari Sampit hingga Antang Kalang. Menurutnya, keberadaan Pertamax di Pertashop dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi tekanan penumpukan kendaraan terhadap SPBU di Sampit.

"Kalau seandainya Pertashop itu kita aktifkan semua, tidak usah isi Pertalite. Isi Pertamax saja. Itu akan sangat membantu dan yakin saja antrean di Sampit ini pasti berkurang," tegas Andi Lala.

Dirinya mengungkapkan, ejumlah Pertashop di jalur  wilayah utara Kotim tersebut, sejauh ini justru terlihat tidak aktif. Bahkan, sebagian fasilitas disebut sudah ditumbuhi rumput dan lumut.

"Saya lihat ada Pertashop yang sudah tumbuh rumputnya, ada yang tumbuh lumutnya. Nanti dicek itu, apakah mereka tidak aktif karena tidak dikasih suplainya atau seperti apa," tegas Andi Lala.

Baca Juga: Solusi Atasi Antrean Panjang, Lintas Instansi di Kotim Bentuk Satgas Awasi Distribusi BBM di SPBU

Dipaparkannya pula, Pertashop terdapat di sejumlah wilayah seperti Parenggean, Antang Kalang dan Telaga Antang. Andi menegaskan, jika Pertamax tersedia di fasilitas tersebut, masyarakat di pedalaman tidak perlu sepenuhnya bergantung kepada penjual BBM eceran atau pelangsir.

"Kalau Pertamax hadir, maka permintaan kepada penjual pelangsir akan berkurang. Jadi secara otomatis mengurangi ketergantungan daerah 3T,” tegas Andi.

Ia menilai harga BBM di pelosok saat ini menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan. Andi Lala menyebut harga Pertalite di sejumlah wilayah pedalaman bisa mencapai Rp25 ribu per liter.

"Harga BBM Pertalite di pelosok itu di angka Rp25 ribu per liter. Artinya kalau Pertamax harga Rp16 ribuan, itu tidak masalah,"ungkap Andi Lala.

Menurutnya, masyarakat akan lebih memilih mendapatkan BBM dari Pertashop jika harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan membeli BBM eceran dengan harga tinggi.Andi Lala menegaskan solusi tersebut sangat bergantung pada kemauan Pertamina untuk mengoptimalkan jalur distribusi yang sudah tersedia.

"Ini tergantung Pertamina, apakah benar-benar menyalurkan untuk memecahkan masalah di Kotim. Kita harapkan Pertamina segera mengevaluasi Pertashop yang tidak aktif dan membuka peluang penyaluran Pertamax ke fasilitas tersebut, khususnya di sepanjang jalur Sampit hingga Antang Kalang,” pungkas Andi Lala. (ang/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
pasokan BBM pertashop DPRD Kotim dibenahi pelosok