SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit mengingatkan potensi meningkatnya konflik antara satwa liar dan manusia seiring meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, kebakaran dan asap yang meluas dapat mengganggu habitat satwa liar. Kondisi tersebut berpotensi membuat satwa keluar dari habitatnya untuk mencari lokasi yang lebih aman dan sumber makanan.
Pergerakan satwa dapat membawa mereka masuk ke kawasan perkebunan, ladang hingga permukiman warga.
"Jika kondisi ini semakin parah kebakaran dan asapnya, akhirnya sangat mengancam satwa liar. Belum lagi satwa masuk ke ladang, kebun, permukiman warga. Akan terjadi konflik dengan warga," ujar Muriansyah, Selasa (25/8).
Menurutnya, konflik satwa liar dan manusia dapat membahayakan kedua pihak. Satwa yang masuk ke kawasan masyarakat berpotensi dilukai atau bahkan dibunuh ketika warga merasa terancam.
Karena itu, BKSDA meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan satwa liar keluar dari habitatnya. Laporan tersebut diperlukan agar petugas dapat melakukan pemantauan dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Kemunculan satwa liar mulai dilaporkan di sejumlah wilayah yang berdekatan dengan kawasan terdampak karhutla.
Di Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, orangutan dilaporkan muncul di sekitar kebun masyarakat. BKSDA Resort Sampit telah melakukan pemantauan terhadap keberadaan satwa tersebut.
"Di daerah Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, dilaporkan ada kemunculan orangutan. Ini kami terus lakukan pemantauan sampai sekarang. Dalam 10 hari, orangutan sempat dua kali terpantau," katanya.
Orangutan tersebut kemudian tidak kembali terlihat. Meski demikian, petugas tetap melakukan pemantauan melalui informasi dari masyarakat.
"Setelah itu tidak terlihat lagi sampai sekarang. Tetapi terus kami pantau. Kalau ada lagi muncul, akan dilakukan tindakan rescue," imbuhnya.
Laporan lainnya diterima dari Desa Bagendang Permai. BKSDA menerima informasi dugaan kemunculan beruang madu di kebun kelapa sawit milik warga.
Satwa tersebut diduga merusak tanaman dan memakan bagian umbut sawit. Namun, petugas belum melihat langsung keberadaan beruang madu tersebut.
Dugaan itu didasarkan pada kondisi tanaman serta bekas kerusakan yang ditemukan pada batang kelapa sawit.
"Di Bagendang Permai, diduga kuat satwa liar jenis beruang madu masuk ke kebun kelapa sawit milik warga. Merusak dan memakan umbut kelapa sawit milik warga," jelas Muriansyah.
Laporan terbaru datang dari Desa Luwuk Bunter, Kecamatan Cempaga. Dua orangutan dilaporkan berada di kebun karet milik warga pada Selasa sore.
Petugas BKSDA Resort Sampit dijadwalkan mendatangi lokasi pada Rabu pagi untuk melakukan observasi terhadap kemunculan dua orangutan tersebut.
Muriansyah mengatakan, sejumlah lokasi yang menjadi tempat kemunculan satwa liar berada di kawasan yang berdekatan dengan titik atau wilayah terdampak kebakaran.
Karhutla tidak hanya mengancam vegetasi dan habitat. Gangguan terhadap habitat juga dapat mendorong satwa mencari ruang hidup baru. Jika pergerakannya semakin mendekati kawasan masyarakat, potensi konflik dengan manusia ikut meningkat.
BKSDA mengimbau warga tidak mengambil tindakan sendiri ketika menemukan satwa liar. Masyarakat diminta segera melapor kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan warga dan satwa. (oes)
Editor : Slamet Harmoko