Seluruh Elemen di Kotim Diminta Tingkatkan Kewaspadaan dan Perketat Pencegahan Kebakaran Lahan

Yuni Pratiwi Iskandar • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 21:28 WIB
Wakil Bupati Kotim Irawati dan Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain, turut serta memadamkan kebakaran lahan, bersama tim gabungan TNI/Polri, BPBD/Damkar dan para relawan, di sekitar perumahan Wengga Metropolitan 10, Kecamatan Baamang, Senin (24/8).(siti fauziah/radarsampit)
Wakil Bupati Kotim Irawati dan Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain, turut serta memadamkan kebakaran lahan, bersama tim gabungan TNI/Polri, BPBD/Damkar dan para relawan, di sekitar perumahan Wengga Metropolitan 10, Kecamatan Baamang, Senin (24/8).(siti fauziah/radarsampit)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terus meluas di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), membuat pemerintah setempat memperpanjang status tanggap darurat.

Sebelumnya, status tanggap darurat ditetapkan mulai 30 Juli hingga 26 Agustus 2026. Kemudian status tersebut diperpanjang selama 20 hari kalender, mulai 27 Agustus hingga 15 September 2026.

“Pertama, kita mengevaluasi status tanggap darurat kita saat ini. Berdasarkan laporan dari Pelaksana Harian Satgas dan BMKG, titik api terus bertambah setiap hari dan cuaca panas diprakirakan masih berlangsung hingga September,” kata Bupati Halikinnor, saat memimpin rapat penanganan Karhutla di rumah jabatan bupati, Senin (24/8).

Halikinnor juga meminta seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Jika menemukan titik api sekecil apa pun, diminta segera melakukan pemadaman sebelum api meluas.

Ia juga meminta pengawasan lingkungan diperketat dengan melibatkan Intel Polres, Kodim, Korem, Kejaksaan, Satpol PP hingga RT dan RW. Hal itu untuk mencegah adanya pihak yang sengaja membakar lahan maupun semak belukar yang terbengkalai.

Baca Juga: Kebakaran Besar Hanguskan Lahan di Pinggir Jalan Poros Sampit - Kota Besi

“Jangan sampai ada oknum yang sengaja membakar lahan atau semak belukar yang terbengkalai. Mengingat kondisi sangat kering, puntung rokok yang dibuang sembarangan saja bisa memicu kebakaran hebat,” tegas Halikinnor.

Dirinya pun meminta tidak ada pihak yang mengutamakan keuntungan pribadi dengan melakukan pembakaran. “Jangan sampai demi keuntungan pribadi, banyak pihak dirugikan, baik kesehatan, pendidikan maupun ekonomi,”imbuhnya.

Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak terlalu penting. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak asap dan kondisi cuaca yang masih panas serta kering.

Ditegaskannya, Pemkab Kotim tetap mengerahkan seluruh kekuatan untuk menangani karhutla, seperti dengan mengerahkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), untuk membantu unsur TNI, Polri, Basarnas, Tagana hingga relawan.

Namun diakuinya, kendala utama ynqg dihadapi saat ini adalah keterbatasan sumber air.“Kendala utama kita saat ini adalah krisis sumber air. Oleh karena itu, kita sangat membutuhkan pasokan air melalui armada tangki,” ungkap Halikinnor.

Ia menyampaikan apresiasi kepada pihak perusahaan yang membantu penanganan karhutla , baik melalui penyediaan selang, personel maupun armada tangki air. Selain itu, terdapat tambahan satu unit tangki dari Korem untuk mendukung proses pemadaman.

Halikinnor juga menerima informasi adanya tokoh  Kalteng di Pangkalan Bun yang akan meminjamkan empat unit tangki air untuk membantu pemadaman di Kotim.

Perpanjangan status tanggap darurat tersebut akan menggunakan Dana Belanja Tidak Terduga (BTT) Tahap II. Anggaran tersebut antara lain digunakan untuk aktivasi posko, kebutuhan BBM, uang lelah, makanan dan minuman (mamin), serta pembelian masker bagi masyarakat maupun petugas yang terdampak kondisi asap.

Sementara itu, sejak 24 jam terakhir kemarin, sebanyak 259 titik panas atau hotspot terdeteksi di Kotim. Jumlah terbanyak berada di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, sehingga berpotensi memengaruhi kondisi udara di Sampit, jika arah angin bergerak menuju wilayah tersebut.

Kepala Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo mengatakan kondisi tersebut perlu diwaspadai karena sebaran asap di wilayah Kotim bergerak mengikuti arah angin dari tenggara menuju barat, barat laut hingga utara.

“Saya khawatirkan jika anginnya dari sana, mungkin akan memasuki wilayah Sampit. Kemungkinan besar visibility atau jarak pandang kita akan pendek,” ujarnya.

Dipaparkannya pula, dari pantauan curah hujan 24 jam terakhir melalui radar cuaca Pangkalan Bun, hujan masih terjadi di sejumlah wilayah utara Kotim, namun intensitasnya sangat rendah, berkisar 0,1 hingga maksimal 5 milimeter. Sementara wilayah selatan masih belum mendapat suplai hujan yang berarti.

“Beberapa bulan ini kita belum menerima suplai hujan yang cukup lama. Jadi potensi di lapisan dua sampai lima sentimeter semakin tinggi untuk terbakar. Apalagi kalau sudah merambat, dia akan menyebar lebih cepat,” ujarnya.

Mulyono juga mengingatkan adanya bibit siklon tropis di wilayah utara yang berpotensi menyerap uap air. Kondisi tersebut dapat membuat wilayah Kotim yang sudah kering menjadi semakin kering. (yn/gus)

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
tanggap darurat Kewaspadaan pemerintah pencegahan kebakaran lahan