Ribuan Warga Ramaikan Menuba Adat di Hulu Sungai Arut, Sekaligus Panjatkan Doa Minta Hujan

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 19:57 WIB
Kegiatan Menuba Adat di Hulu Sungai Arut, Desa Riam, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Senin 24 Agustus 2026. (prokom kobar)
Kegiatan Menuba Adat di Hulu Sungai Arut, Desa Riam, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Senin 24 Agustus 2026. (prokom kobar)

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com - Suara tumbukan akar kayu membentur bebatuan bergema di sepanjang Hulu Sungai Arut, Desa Riam, Kecamatan Arut Utara (Aruta), Hari itu, riak air sungai yang biasanya tenang berubah menjadi lautan manusia. 

Ribuan warga berkumpul, bahu-membahu melarutkan getah akar tuba yang telah ditumbuk halus ke aliran sungai, sebuah bagian inti dari ritual adat Menuba.

​Suasana riuh penuh kebersamaan terpancar dari hilir hingga hulu. Lebih dari 800 orang tampak menyemut hanya di satu titik teluk sungai, belum termasuk ratusan warga lainnya yang menyebar di sepanjang aliran air. 

Kegiatan Menuba Adat di Hulu Sungai Arut, Desa Riam, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Senin 24 Agustus 2026. (prokom kobar)
Kegiatan Menuba Adat di Hulu Sungai Arut, Desa Riam, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Senin 24 Agustus 2026. (prokom kobar)

 

Tidak hanya masyarakat Desa Riam dan sekitarnya, tradisi tahunan ini juga menyedot perhatian warga dari luar daerah, termasuk kabupaten tetangga, Lamandau.

​Hadir di tengah-tengah masyarakat, Bupati yang didampingi Wakil Bupati beserta jajaran Kepala SOPD turut menyaksikan langsung tradisi kearifan lokal tersebut.

Kehadiran para pimpinan daerah ini mempertegas pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

​Di tengah kondisi musim kemarau panjang yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan di berbagai wilayah, ritual Menuba kali ini membawa beban makna yang lebih mendalam. 

Selain memanen ikan, kegiatan ini dipanjatkan sebagai doa bersama meminta petunjuk dan turunnya hujan.

​"Kegiatan ini ikhtiar bersama sebagai salah satu hajat, juga mengangkat kearifan lokal dan budaya. Kita memiliki satu tujuan dan keinginan bersama," ujar Bupati di sela-sela acara.

​ia menegaskan, dalam kondisi keprihatinan kemarau yang menyebabkan karhutla bahkan kekeringan di beberapa daerah, semoga niat doa melalui para leluhur lewat ritual yang dilaksanakan bisa berjalan sesuai keinginan. 

"Kita tetap berusaha sebagai manusia," tambahnya penuh harap.

​Seiring larutan akar tuba menyebar alami, ikan-ikan sungai seperti baung, lais, tapah, hingga belida yang langka mulai bermunculan ke permukaan. Warga dengan sigap dan gembira menangkap hasil alam tersebut.

"Kebersamaan di Hulu Sungai Arut hari itu bukan sekadar tentang sensasi menangkap ikan, melainkan lambang persatuan, penghormatan pada alam, dan jembatan doa masyarakat Aruta agar bumi mereka segera disiram hujan," pungkasnya. (**)

 

Editor : Slamet Harmoko
menuba ikan menuba adat meracun ikan arut utara