Bukan Sekadar Gowes, Pemkab Kotim Titip Pesan Persatuan dan Cegah Karhutla

M. Akbar • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 08:57 WIB
Staf Ahli Bupati Kotim, Wim RK Benung, saat mengundi pemenang event Gowes Kemerdekaan 2026 di Kantor Radar Sampit, Minggu (23/8).  (Akbar/Radar Sampit)
Staf Ahli Bupati Kotim, Wim RK Benung, saat mengundi pemenang event Gowes Kemerdekaan 2026 di Kantor Radar Sampit, Minggu (23/8). (Akbar/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kegiatan Gowes Kemerdekaan 2026 yang digelar Radar Sampit dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak sekadar menjadi ajang olahraga.

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memanfaatkan momentum tersebut untuk mengajak masyarakat memperkuat persatuan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Staf Ahli Bupati Kotim, Wim RK Benung, mengatakan kegiatan bersepeda bersama dapat menjadi momentum untuk menjaga kebugaran sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan dalam menyambut hari kemerdekaan.

“Gowes hari ini bukan sekadar ajang untuk berolahraga bersama menjaga kebugaran dan kesehatan. Lebih dari itu, melalui putaran roda sepeda kita juga sedang merefleksikan semangat menyambut dan memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia,” ujarnya saat menghadiri Gowes Kemerdekaan 2026 di Kantor Radar Sampit, Minggu (23/8).

Menurut Wim, semangat kemerdekaan perlu diwujudkan melalui kolaborasi seluruh elemen daerah. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, generasi muda, dan berbagai unsur lainnya harus mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

Ia menegaskan perbedaan suku, agama, budaya, maupun latar belakang tidak seharusnya menjadi penghalang persatuan. Seluruh masyarakat memiliki tujuan dan tempat yang sama dalam membangun daerah.

“Kita boleh berbeda suku, agama, budaya, dan latar belakang, tetapi kita memiliki rumah yang sama, yaitu Kotim. Jangan biarkan perbedaan memisahkan kita dan jangan biarkan provokasi merusak persaudaraan dan kebersamaan kita,” katanya.

Selain pesan persatuan, Wim mengingatkan masyarakat terhadap ancaman karhutla di tengah musim kemarau yang panjang.

Kondisi kering meningkatkan risiko kebakaran yang dapat menimbulkan kabut asap dan mengganggu berbagai aktivitas masyarakat.

Menurutnya, dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan, aktivitas ekonomi, serta kehidupan sosial masyarakat.

“Upaya pencegahan harus menjadi prioritas sebelum kebakaran terjadi,” tegasnya.

Wim menekankan pencegahan karhutla tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah dan petugas. Masyarakat, dunia usaha, tokoh masyarakat, serta generasi muda harus ikut terlibat dalam meningkatkan kesiapsiagaan di lingkungan masing-masing.

“Pencegahan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh pihak dari berbagai lintas elemen,” jelasnya.

Ia mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama selama musim kemarau. Dukungan dunia usaha, peran tokoh masyarakat, serta kepedulian generasi muda juga dinilai penting untuk mencegah api meluas.

Wim berharap semangat kebersamaan yang terlihat dalam Gowes Kemerdekaan dapat diterapkan dalam menghadapi berbagai persoalan daerah, termasuk ancaman karhutla.

“Semangat kebersamaan yang terlihat dalam Gowes Kemerdekaan ini harus kita terapkan dalam menghadapi berbagai persoalan daerah, termasuk ancaman karhutla. Kolaborasi seluruh pihak sangat diperlukan agar lingkungan tetap terjaga dan kualitas udara tetap sehat,” pungkasnya.

Ia juga mengajak masyarakat menjadikan momentum kemerdekaan untuk memperkuat persatuan, menjaga lingkungan, mencegah karhutla, serta mendukung pembangunan yang memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Kotim.  (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
radar sampit kotim kalteng Gowes Kemerdekaan karhutla