Kabut Asap Sempat Ganggu Penerbangan di Bandara Tjilik Riwut

Dodi Abdul Qadir • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:04 WIB
Kawasan Bandara Tjilik Riwut. (dok.dodi/radarsampit)
Kawasan Bandara Tjilik Riwut. (dok.dodi/radarsampit)

 PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang belum mereda, dampaknya semakin meluas. Tidak hanya masyarakat yang merasakan penurunan kualitas udara dan gangguan jarak pandang akibat kabut asap, sektor vital seperti penerbangan pun mulai terdampak.

Seperti diungkapkan, General Manager Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Tjilik Riwut I Made Darmawan,  penerbangan Super Air Jet IU 674 sempat melakukan go-around karena jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional. Diungkapkannya, pada Rabu (19/8), sejumlah penerbangan lain  di Bandara Tjilik Riwut juga sempat mengalami keterlambatan.

“Secara umum operasional penerbangan di Bandara Tjilik Riwut masih berjalan. Namun, kondisi kabut asap yang menyebabkan penurunan jarak pandang memang berdampak terhadap beberapa penerbangan,” ungkap I Made.

Menurutnya, yang membuat waswas, jarak pandang sempat anjlok hingga sekitar 600 meter pada 19 Agustus. Padahal, dalam kondisi normal tertentu, jarak pandang masih berada di kisaran 4–5 kilometer.

Pihak bandara pun  terus memantau cuaca dan jarak pandang. Koordinasi juga dilakukan bersama Air Traffic Control (ATC), BMKG, maskapai dan stakeholder penerbangan lainnya. “Prinsip kami jelas, yaitu keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama,” tegas I Made.

Baca Juga: Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Bandara Iskandar Pangkalan Bun

Sementara itu, berdasarkan pantauan aplikasi pemantau kualitas udara IQAir, Indeks Kualitas Udara (AQI) di kawasan Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo mencapai 163 US AQI dengan kategori tidak sehat pada Kamis (20/8/2026). Konsentrasi partikel halus PM2,5 tercatat mencapai 72,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Angka tersebut mencapai 14,5 kali lipat dari nilai panduan kualitas udara tahunan yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kondisi itu terjadi saat cuaca Palangka Raya cukup ekstrem, dengan suhu mencapai 38–39 derajat Celsius dan kelembapan hanya sekitar 28 persen.

Bahkan, sistem pemantauan IQAir masih mendeteksi peringatan kebakaran lahan terdekat di wilayah Kalteng. Berdasarkan prakiraan harian, kualitas udara Palangka Raya juga diproyeksikan tetap berada dalam kategori tidak sehat dalam beberapa hari ke depan.

Kualitas udara diprediksi mencapai 172 US AQI pada Kamis, 159 US AQI pada Jumat, dan 158 US AQI pada Sabtu. Suhu maksimum diperkirakan masih menyentuh 39 derajat Celsius.

Kondisi tersebut mendapat perhatian serius Gubernur Kalteng Agustiar Sabran. Dia meminta pemerintah, aparat dan masyarakat memperkuat koordinasi dalam menghadapi ancaman karhutla selama musim kemarau.

“Pencegahan dan penanganan karhutla memerlukan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat. Kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan, terutama di wilayah yang memiliki potensi terjadinya kebakaran,” kata Agustiar.

Dia meminta setiap titik api segera ditangani sebelum membesar dan berdampak lebih luas terhadap masyarakat maupun lingkungan.

“Setiap titik api perlu segera ditangani agar tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar terhadap masyarakat, kesehatan, serta lingkungan,” ujarnya.

Agustiar juga mengingatkan masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Menurutnya, pencegahan dari tingkat masyarakat menjadi kunci menekan potensi karhutla.

“Apabila menemukan titik api atau melihat potensi kebakaran, segera laporkan kepada petugas agar dapat ditangani sedini mungkin dan tidak meluas,” tegasnya.

Kepala Bidang Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Dinas Kehutanan Kalteng Fritno mengatakan, kondisi lahan yang didominasi gambut membuat api dapat bertahan di bawah permukaan tanah. “Karena ini gambut, api bisa masih menyala di dalam tanah meskipun di permukaan sudah terlihat padam. Jadi kami lakukan pendinginan untuk memastikan bara benar-benar mati,” katanya.

Dalam pemadaman tersebut, tim Dalkarhutla dan pemadaman darat Dishut Kalteng mengerahkan dua mobil tangki berkapasitas 4.000 liter dan 10.000 liter. Petugas juga menggunakan selang tembak dan nozzle gun untuk menyasar titik yang masih terbakar.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Kalteng Agustan Saining mengatakan, persoalan sumber air menjadi salah satu evaluasi penting dalam penanganan karhutla. Pemerintah berencana memperbanyak sumur bor dan mendorong pembangunan embung di wilayah rawan kebakaran. “Sumur bor itu sangat diperlukan. Memang nanti sumur bor akan diperbanyak,” pungkasnya. (daq/gus)

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
Angkasa Pura Indonesia penerbangan bandara tjilik riwut kabut asap karhutla