SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Seorang relawan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dilarikan ke IGD RSUD dr Murjani Sampit setelah mengalami sesak napas dan kelelahan saat membantu pemadaman, Rabu (19/8/2026).
Relawan tersebut bernama Rizky Mubarrak, warga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Sebelum mendapat perawatan, Rizky membantu menangani karhutla di beberapa lokasi, mulai dari wilayah Kecamatan Baamang hingga Jalan Kacapiring Barat.
Camat Mentawa Baru Ketapang Irpansyah mengatakan, kondisi Rizky diduga dipengaruhi paparan asap tebal dan kelelahan setelah membantu pemadaman di sejumlah lokasi.
Baca Juga: BAHAYA! Warga Palangka Raya Sudah Ada yang Bergejala Keracunan Asap Karhutla
“Dia tadi menangani pemadaman karhutla ada beberapa titik. Pertama itu di Kecamatan Baamang di dekat Semekto, lalu dia kembali lagi ke Jalan Kaca Piring Barat,” kata Irpansyah, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, kondisi asap di lokasi cukup tebal. Aktivitas pemadaman yang dilakukan di beberapa titik juga membuat relawan mengalami kelelahan.
“Kemungkinan karena di luar lokasi itu sangat besar asapnya, kemungkinan kelelahan,” ujarnya.
Rizky merupakan relawan dari Masjid Jami, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Irpansyah mengatakan, kelompok relawan tersebut sudah lama aktif membantu masyarakat dalam berbagai kegiatan, termasuk penanganan kebakaran.
Baca Juga: Petugas Posko Siaga Karhutla Terima Bantuan Suplemen dan Vitamin
“Dia memang relawan dari Masjid Jami. Mereka memang relawan dari dulu, sudah lama. Setiap kegiatan apa pun mereka selalu ikut, bukan hanya saat musim karhutla,” jelasnya.
Setelah mendapatkan penanganan medis, kondisi Rizky disebut sudah stabil. Keluhan yang dialaminya berupa sesak napas dan kelelahan.
“Sekarang kondisinya sudah stabil,” katanya.
Irpansyah mengatakan relawan dari Mentawa Baru Ketapang selama ini tidak hanya membantu pemadaman di wilayah kecamatan tersebut. Mereka juga bergerak ke lokasi lain selama masih dapat dijangkau.
Namun, penanganan karhutla di Mentawa Baru Ketapang saat ini menghadapi tantangan besar. Kebakaran disebut terjadi mulai dari ujung Desa Bapanggang hingga Kelurahan Pasir Putih.
Karena keterbatasan tenaga dan sumber daya, pemadaman diprioritaskan pada titik yang mendekati permukiman warga. Sementara lokasi yang jauh dari permukiman belum menjadi prioritas karena akses menuju lokasi sulit dan ketersediaan air terbatas.
Baca Juga: PT HAL dan PT Uni Primacom Serahkan 40 Roll Selang untuk Penanganan Karhutla
“Saya katakan kalau yang sudah jauh dari permukiman, biarkan saja karena hemat tenaga. Kita selamatkan dulu diri kita. Kalau sudah mendekati permukiman baru bergerak,” tegasnya.
Menurut Irpansyah, masyarakat di sejumlah desa bahkan melakukan pemadaman secara mandiri. Mereka disebut belum mendapatkan bantuan dari BPBD maupun Damkar sehingga harus menangani kebakaran dengan kemampuan sendiri.
“Yang kasihan di desa tidak ada bantuan sama sekali, baik itu dari BPBD, Damkar. Mereka kerja sendiri. Relawan mereka kerja padamkan karhutla siang malam,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, peralatan yang dimiliki relawan disebut masih cukup. Kendala utama justru berada pada ketersediaan air dan bahan bakar minyak (BBM).
Baca Juga: Kunjungi Lokasi Karhutla di Kalteng, Menhut Raja Juli Hanya Ingatkan Warga untuk Tidak Main Api
Saat ini relawan memiliki empat unit tosa, satu tangki milik relawan Ketapi, dua kendaraan pikap, serta delapan mesin Alkon. Namun, kebutuhan BBM cukup besar untuk mendukung operasional seluruh armada tersebut.
Pihak Kecamatan Mentawa Baru Ketapang baru mendapatkan bantuan BBM dari BPBD Kotim sebanyak 30 liter untuk relawan. Bantuan tersebut diperkirakan belum mencukupi kebutuhan operasional.
“Harapan kita kerja sama semua pihak, baik itu masyarakat itu sendiri. Dalam situasi ini peran kita saling membantu untuk suplai air,” ujarnya.
Irpansyah juga mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan di tengah kondisi karhutla yang masih meluas.
“Makanya kami mengharapkan kesadaran masyarakat. Saya memohon jangan bakar lahan,” pungkasnya.(oes)
Editor : Slamet Harmoko