PALANGKA RAYA, radarsampit.jawapos.com – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) kian terasa.
Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah tak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga mulai memukul kesehatan masyarakat. Ribuan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat di 14 kabupaten/kota.
Bahkan, warga Palangka Raya mengaku mengalami gejala yang disebutnya sebagai keracunan asap setelah terpapar kabut asap dalam beberapa hari terakhir.
Agnesia Ismiati, salah seorang warga, mengatakan dirinya mulai mengalami gangguan kesehatan sejak Senin (17/8). Setelah berkonsultasi dengan dokter, dia diminta beristirahat total di dalam rumah dan memperbanyak asupan cairan.
“Kepala sangat pusing, mual sampai muntah-muntah. Saya minum obat tapi tidak berkurang, mata mulai kunang-kunang, hidung bagian atas sakit sekali,” ungkap Agnesia, Rabu (19/8/2026).
Setelah berkonsultasi dengan dokter melalui sambungan telepon, Agnesia diminta mengonsumsi susu, memperbanyak minum air putih dan buah.
Dia juga diminta mengurangi paparan asap dengan tetap berada di dalam rumah serta menutup pintu dan jendela.“Hari ini mulai sehat kembali,” katanya.
Warga Butuh Rumah Oksigen
Kondisi tersebut membuat Agnesia menilai keberadaan rumah oksigen sangat dibutuhkan, terutama bagi kelompok rentan seperti balita, anak-anak, dan lanjut usia yang mulai terdampak ISPA.
“Rumah oksigen sangat perlu, apalagi untuk balita, anak-anak dan lansia yang sudah kena efek ISPA. Dulu ERP sangat menolong, kerja sama yang sangat baik sekali. Cepat tanggap dan manfaat sekali,” ujarnya.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya Riduan mengatakan, kasus ISPA selama periode karhutla mengalami pergerakan naik turun. Kondisi tersebut sangat dipengaruhi kualitas udara dan daya tahan tubuh masyarakat.“Di musim karhutla, fluktuatif,” kata Riduan.
Dia menjelaskan, ISPA dapat menyerang siapa saja. Namun, kelompok rentan dan masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak ketika kualitas udara memburuk.
Karena itu, masyarakat diminta memperkuat kondisi tubuh dengan memenuhi kebutuhan vitamin, cukup minum dan istirahat.
“Faktornya daya tahan tubuh. Maka itu berharap masyarakat bisa meningkatkan konsumsi vitamin, minum air cukup, tidur cukup, dan tidak keluar rumah kalau tidak ada kepentingan,” tandasnya.
2000 Lebih kasus ISPA di Kalteng
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kalteng dr. Riza Syahputra mengungkapkan, lebih dari 2.000 kasus ISPA telah tercatat di 14 kabupaten/kota di Kalteng.
Dinas Kesehatan Provinsi bersama dinas kesehatan kabupaten/kota terus melakukan langkah antisipasi untuk menekan dampak kesehatan akibat memburuknya kualitas udara.
Upaya tersebut dilakukan melalui pemantauan kasus, pelayanan kesehatan, edukasi masyarakat, pembagian masker, pemantauan kondisi kesehatan petugas yang terlibat dalam penanganan karhutla, hingga penyaluran masker dan oksigen portable.
Riza mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk. Masker juga wajib digunakan ketika harus beraktivitas di luar.
“Masyarakat diimbau menggunakan masker ketika kualitas udara menurun, mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila asap semakin pekat, dan segera mendapatkan pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, atau gangguan pernapasan lainnya,” ujarnya.
Sementara itu Di tengah ancaman kesehatan akibat kabut asap, upaya pemadaman karhutla terus dilakukan. Personel Polsek Rakumpit bersama Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK) bahkan harus berjibaku menuju titik hotspot di wilayah Kelurahan Pager, Kecamatan Rakumpit.
Lokasi kebakaran berada di kawasan anak Sungai Pager yang cukup sulit dijangkau. Petugas menemukan lahan bekas terbakar dengan sisa asap di kawasan hutan dan semak belukar.
Kondisi tanah yang berupa gambut berpasir membuat penanganan harus dilakukan secara hati-hati. Api berpotensi menjalar di bawah permukaan tanah sehingga tidak selalu terlihat dari permukaan.
Kapolresta Palangka Raya Kombes Pol Dedy Supriadi melalui Kapolsek Rakumpit Iptu Didik Suhardianto mengatakan, petugas bersama TSAK langsung melakukan pemadaman dan pemantauan di lokasi.
“Kami tetap melakukan pemadaman dan pemantauan meskipun lokasi cukup sulit dijangkau. Kondisi lahan gambut juga perlu diwaspadai karena api dapat menjalar di bawah permukaan,” jelas Didik, Rabu (19/8/2026).
Areal yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai dua hektare. Petugas menggunakan pompa air dan pemukul api untuk mengendalikan sisa bara dan asap.
Tantangan terbesar adalah akses menuju lokasi. Titik kebakaran berjarak sekitar 49 kilometer dari Polsek Rakumpit. Petugas membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam untuk mencapai lokasi dengan kombinasi perjalanan darat dan akses sungai.
Kondisi anak sungai yang mulai mengering juga menyulitkan petugas menggunakan klotok untuk mendekati lokasi.
Hingga sekitar pukul 12.00 WIB, petugas masih menemukan sisa asap di area tersebut. Personel bersama TSAK dari PT LBP terus melakukan pemantauan dan pemadaman untuk memastikan api tidak kembali membesar.
Petugas juga berkoordinasi dengan Lurah Pager untuk mengetahui status dan kepemilikan lahan yang terbakar.
Karhutla yang terus meluas menjadi ancaman ganda bagi Kalteng. Di satu sisi, api mengancam kawasan hutan dan lahan gambut. Di sisi lain, asap yang dihasilkan mulai menekan kesehatan masyarakat. (daq)