Teror Karhutla terus Menyebar. Tim Pemadam Kelelahan, Masa Tanggap Darurat Bisa Ditambah

Yuni Pratiwi Iskandar • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 21:59 WIB
sss
Tim penanganan karhutla di Kotim, saat mengatasi kebakaran di Hutan Sagonta Kota di wilayah Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Senin (17/8) malam, dan terkendala sulitnya sumber air. (istimewa/BPBD Kotim)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa daerah di Kalimantan Tengah (Kalteng), belum ada tanda-tanda berkurang. Selain bencana kabut asap yang sudah muncul, api kebakaran sudah seperti teror yang bisa tiba-tiba muncul dan memicu kepanikan warga.

Hampir setiap hari, ada warga memposting di media sosial, informasi dan rekaman video terkait kejadian karhutla di sekitar permukinan.

Di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), salah satu wilayah di Kalteng yang didapati terbanyak karhutla, tim gabungan yang menangani pemadaman sudah kelelahan, bahkan ada yang tumbang lantaran kelelahan dan sakit.

Seperti pada Senin (17/8) hingga Selasa (18/8), sebanyak 131 personel dan 15 unit kendaraan harus dibagi untuk menangani 17 titik kebakaran yang muncul bersamaan. Terutama di wilayah Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang, yang masih dalam kawasan Kota Sampit.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam mengatakan, kondisi di lapangan, saat ini cukup berat. Banyaknya titik api yang muncul dalam waktu bersamaan, sehingga membuat petugas tidak bisa memusatkan kekuatan pada satu lokasi.

“Sebagian anggota Satgas juga mulai kelelahan. Bahkan, sejumlah personel mengalami sakit setelah terus turun melakukan pemadaman di berbagai lokasi. Ini memang cukup berat karena titiknya banyak dan muncul bersamaan. Kita harus membagi personel dan kendaraan yang ada,” ujarnya.

Baca Juga: 22 Titik Karhutla Ditangani di MB Ketapang dan Baamang, Sejumlah Lokasi Masih Berasap

Seperti pada Senin (17/8), tim bergerak sejak pagi hingga malam untuk menangani sejumlah titik di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Baamang dan Kelurahan Pasir Putih, kawasan Jalan Sudirman Sampit.

Di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, kebakaran lahan di antaranya di Jalan Kaca Piring, Jalan Moh Hatta, Lingkar Selatan, Jalan Jenderal Sudirman dan beberapa kawasan perumahan. Di kawasan Jalan Kaca Piring dan Jalan Moh Hatta, salah satu lahan yang terbakar tercatat memiliki luas sekitar 6 hektare.

Selasa (18/8),  kebakaran lahan juga terjadi di sekitar Jalan HM Arsyad kilometer 5-6 Sampit,  sampai menyebabkan terganggunya jarak pandang pengendara.

Penanganan dilakukan secara bertahap. Sebagian lokasi berhasil dipadamkan, tetapi masih mengeluarkan asap. Kondisi tersebut membuat petugas harus melakukan pendinginan dan pemantauan agar api tidak kembali menyala.

Di Perumahan Metro Raya Residence, dua lokasi masing-masing sekitar 0,5 hektare berhasil ditangani. Namun, lokasi masih berasap dan berpotensi kembali terbakar.

Kondisi serupa terjadi di Kelurahan Pasir Putih, di kawasan Perumahan Bina Karya Permai Jalan Aries, lahan sekitar 0,6 hektare telah dipadamkan. Petugas masih mewaspadai lokasi tersebut karena angin kencang dapat memicu api kembali muncul.

Selain itu, di kawasan wisata Danau Biru Sampit, tim membuat sekat batas sekitar 1 hektare. Api sudah padam di sebagian lokasi, tetapi bagian tengah masih terdapat titik aktif.

Penanganan karhutla berlanjut hingga Senin (17/8) malam di Hutan Sagonta Kota, Kelurahan Baamang Hulu. Tim bekerja sejak pukul 18.00 hingga 22.28 WIB. Wakil Bupati Kotim Irawati, bahkan turun langsung membantu penanganan kebakaran di wilayah tersebut. Sedikitnya 7 unit kendaraan pemadam dikerahkan, namun sebagian titik masih belum padam dan petugas masih melakukan pemadaman.

"Dalam satu hari ini ada beberapa lokasi kebakaran lahan, salah satunya kebakaran sebuah gudang. Hampir semuanya terjadi di dalam kota. Cuaca panas dan angin yang cukup kencang membuat potensi kebakaran semakin rawan di daerah kita," ungkap Irawati.

Menurutnya, saat ini tidak hanya peristiwa kebakaran hutan dan lahan saja yang menjadi perhatian. Tetapi kondisi para petugas dari BPBD Kotim dan para relawan juga harus diperhatikan secara serius.

"Kondisi mereka sudah sangat kelelahan. Personel terbatas, namun titik api dimana-mana. Belum lagi ditambah dengan sumber air yang terbatas karena kemarau panjang ini," tambah Irawati.

Dirinya pun sangat berharap adanya peran semua pihak agar terlibat membantu. Termasuk masyarakat. "Masyarakat yang ada di dekat lokasi kejadian jangan hanya menonton, apalagi marah-marah kepada petugas. Sebaiknya ikut bantu atau setidaknya berikan air minum untuk petugas. Dan jangan sampai ada yang sengaja membakar," tegas Irawati.

Menyikapi kondisi demikian, status tanggap darurat karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang berlaku selama 28 hari dari 30 Juli hingga 26 Agustus 2026 berpeluang diperpanjang.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, pihaknya terus memantau situasi dan apabila mengkhawatirkan dan mendekati batas waktu karhutla belum mereda, tidak menutup kemungkinan status tanggap darurat diperpanjang.

“Kalau memang kondisi seperti ini, bisa kita perpanjang. Kita sudah menentukan sampai tanggal sekian. Apalagi informasinya kemarau bisa sampai September,” ujarnya.

Terkait anggaran penanganan karhutla, Halikinnor mengatakan pihaknya akan melakukan rapat untuk mengevaluasi kebutuhan anggaran. Saat ini, dana sekitar Rp5Miliar dan belum seluruhnya terserap, sehingga perlu dihitung kembali apakah masih mencukupi untuk penanganan hingga September atau bahkan Oktober.

“Kalau memang mencukupi sampai September-Oktober, itu mungkin tidak kita tambah. Kalau memang kondisinya darurat, kita tambah,” terangnya.

Selain mengandalkan anggaran daerah, Pemkab Kotim juga akan meminta dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat, terutama terkait bantuan peralatan dan kebutuhan penanganan karhutla lainnya.

Sementara terkait penambahan personel, Halikinnor menyebutkan untuk saat ini jumlah personel masih dinilai mencukupi. Seluruh ASN dan pegawai organisasi perangkat daerah (OPD) turut mengirimkan personel untuk membantu penanganan di lapangan.

Halikinnor menambahkan, kebutuhan yang lebih mendesak saat ini adalah penambahan peralatan, sekaligus memastikan ketersediaan sumber air untuk mendukung proses pemadaman karhutla.(ang/yn/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
bpbd tanggap darurat kelelahan tim gabungan karhutla