SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar paling besar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sepanjang 2026. Ironisnya, jumlah kejadian yang tercatat di wilayah tersebut hanya empat kasus.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim per 15 Agustus 2026, empat kejadian karhutla di Seranau membakar lahan seluas 703,5 hektare. Luasan tersebut mencapai 58,27 persen dari total lahan terbakar di Kotim yang mencapai 1.207,3439 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan, jumlah kejadian tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan yang terbakar. Kondisi lahan, cuaca dan perkembangan api turut memengaruhi luasan kebakaran.
Baca Juga: Dari Operasi Modifikasi Cuaca di Kotim untuk Padamkan Karhutla. Tebar 1 Ton Garam,Hujan Sempat Turun
"Jumlah kejadian tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan terbakar. Ada kejadian yang luasnya kecil, tetapi ada juga yang dampaknya cukup luas," kata Multazam.
Menurutnya, penanganan karhutla terus dilakukan bersama tim gabungan. Pemantauan juga ditingkatkan untuk mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Seranau tercatat hanya memiliki empat kejadian penanganan karhutla. Namun, luas lahan terbakar mencapai 703,5 hektare. Kondisi tersebut berbeda dengan Baamang yang mencatat jumlah kejadian tertinggi, tetapi luas lahan terbakar jauh lebih kecil.
Baamang mencatat 142 kejadian dengan luas lahan terbakar 114,61135 hektare. Mentawa Baru Ketapang mencatat 114 kejadian dengan luas 139,8595 hektare.
Sementara Pulau Hanaut memiliki empat kejadian dengan luas lahan terbakar 82,65 hektare. Parenggean mencatat lima kejadian dengan luas 58,5 hektare.
Dari sisi hotspot, Seranau juga menunjukkan aktivitas yang tinggi. Hingga 15 Agustus, tercatat 299 hotspot di wilayah tersebut. Sebanyak 297 titik di antaranya terdeteksi pada Agustus.
Secara keseluruhan, Kotim telah mencatat 2.983 hotspot sepanjang 2026 hingga 15 Agustus. Sebanyak 2.466 titik muncul hanya dalam 15 hari pertama Agustus.
BPBD juga mencatat 317 kejadian penanganan karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.207,3439 hektare.
Multazam mengingatkan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Ia meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sebelum meluas.
"Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Kalau ada titik api segera dilaporkan supaya bisa ditangani dan tidak berkembang," tegasnya.
Di tengah meningkatnya ancaman karhutla, Bupati Kotim Halikinnor meminta seluruh pemegang izin konsesi ikut terlibat dalam penanganan kebakaran.
Baca Juga: Hutan Sanggonta Kota Terbakar, BPBD Kotim Jungkir Balik Lakukan Pemadaman
Perusahaan tidak boleh hanya fokus memadamkan api yang berada di dalam wilayah konsesinya sendiri.
Halikinnor menegaskan, pemegang izin juga wajib membantu pemadaman apabila kebakaran terjadi di sekitar wilayah operasionalnya.
Keterlibatan perusahaan dinilai penting karena memiliki personel, peralatan dan sumber daya yang dapat membantu mempercepat penanganan di lapangan.
"Jangan hanya yang terbakar di dalam konsesi yang dipadamkan. Kalau ada kebakaran di sekitar wilayahnya, perusahaan juga harus membantu," tegas Halikinnor.
Kebijakan tersebut menjadi penting mengingat penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Pemerintah daerah, perusahaan, masyarakat, aparat dan relawan harus bergerak bersama agar kebakaran tidak semakin meluas. (ang)
Editor : Slamet Harmoko