Merah Putih Gagah Berkibar di Tengah Kepungan Karhutla

Rado. • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 21:37 WIB
MERDEKA: Ilustrasi upacara pengibaran Bendera Merah Putih pada peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI, yang dibayangi upaya penanganan karhutla yang masih berlangsung masif di sejumlah wilayah Kalteng, Senin (17/8). (modifikasi AI)
MERDEKA: Ilustrasi upacara pengibaran Bendera Merah Putih pada peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI, yang dibayangi upaya penanganan karhutla yang masih berlangsung masif di sejumlah wilayah Kalteng, Senin (17/8). (modifikasi AI)

PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Momentum upacara detik-detik peringatan ke 81 proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, pada Senin 17 Agustus 2026, di Kalimantan Tengah (Kalteng), di tengah situasi kepungan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Di seputaran Palangka Raya, karhutla  kian mengkhawatirkan. Tak hanya melahap lahan dan kawasan gambut, kobaran api bahkan merembet hingga menghanguskan satu unit rumah kayu kosong di Jalan Yos Sudarso Ujung, Kelurahan Menteng, Kecamatan Jekan Raya, Senin (17/8), sekitar pukul 12.22 WIB. Api berasal dari rambatan lahan yang terbakar kemudian mengenai bangunan kosong tersebut.

Kepala Bagian Operasi Emergency Response Palangka Raya (ERP)Yustinus Exaudi mengatakan, tim gabungan pemadam kebakaran langsung diterjunkan untuk menangani kobaran api, sekaligus mencegah perambatan lebih luas.

Petugas kemudian melakukan pemadaman dan pendinginan di lokasi. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan api benar-benar terkendali dan tidak menjalar ke area lain di sekitarnya.

Di lokasi berbeda, Satgas Tanggap Darurat Karhutla Polresta Palangka Raya, Polda Kalteng, juga berjibaku memadamkan api, pada lahan gambut yang cukup dekat dengan permukiman warga.

Baca Juga: Sumber Air Mengering, Karhutla di Wilayah Kotim masih Menyala

Kapolresta Palangka Raya Kombes Pol Dedy Supriadi melalui Perwira Pengendali (Padal) Iptu Agus Setiawan mengatakan, pemadaman menggunakan satu unit AWC Satsamapta dan mesin pemadam api, dibantu warga.

Pemadaman berlangsung mulai pukul 09.30 hingga 16.30 WIB. Api di permukaan berhasil dipadamkan. Namun, asap masih terlihat keluar dari dalam lahan sehingga petugas masih harus melakukan penanganan lanjutan.

Karhutla juga terjadi di kawasan Bukit Batu Banama, Kecamatan Bukit Batu. Personel Polsek Bukit Batu dan tim gabungan turut diterjunkan untuk membantu proses pemadaman.

“Kami membantu proses pemadaman sekaligus melakukan pemantauan agar api tidak merambat. Kondisi di lapangan terus kami perhatikan, terutama terhadap potensi meluasnya titik api,” ujar Kapolsek Bukit Batu, Ipda Muhammad Hafiizh Ramadhan.

Karhutla juga masih terjadi di Jalan Slamet, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, juga belum sepenuhnya tuntas. Api di permukaan memang sudah tidak terlihat, tetapi asap masih mengepul dari dalam lahan gambut.

Lokasi tersebut terhubung dengan kawasan Jalan Mahir Mahar atau jalur lingkar luar Kota Palangka Raya. Kondisi lahan gambut membuat proses pemadaman harus dilakukan secara menyeluruh karena bara dapat bertahan di bawah permukaan.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng Agustan Saining turun langsung memantau kondisi di lapangan. Dia melihat sejumlah titik masih mengeluarkan asap.

“Di sekitarnya memang apinya sudah tidak ada, tapi kalau kita melihat, di dalamnya masih banyak yang berasap,” ungkapnya.

Dinas Kehutanan Kalteng kemudian membagi personel menjadi beberapa tim. Sebagian diterjunkan di sisi Jalan Slamet, sedangkan tim lainnya melakukan penanganan di seberang kawasan itu.

Sementara itu di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), momentum upacara 17an juga dibayangi asap karhutla. Senin (17/8) siang, kebakaran lahan juga terjadi di wilayah Kecamatan Parenggean dan mendekati pemukiman penduduk, dan perkebunan sawit.

Tak hanya itu, di Kecamatan Baamang, juga terjadi kebakaran lahan di lokasi baru, yakni di kawasan Hutan Sagonta Kota di Kelurahan Baamang Hulu, Senin (17/8). Tim gabungan, termasuk BPBD, serta relawan, dan tim dompet peduli turut serta memadamkan api hingga malam hari.

Minimnya sumber air, angin bertiup kencang dan terbatasnya personel, menghambat upaya pemadaman. Selain itu, api bermunculan dari satu titik ke titik lain, bahkan di titik yang sebelumnya telah disiram, masih kembali mengeluarkan api.

Di lokasi ini, Wakil Bupati Kotim Irawati, serta Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam turun langsung membantu upaya pemadaman api di lahan gambut tersebut. Empat mobil tangki pemadam dengan sejumlah personel dikerahkan ke lokasi tersebut.

Sementara itu, data terbaru Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim (15/8), Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar paling besar sepanjang 2026, dengan empat kasus kebakaran lahan skala besar, yakni mencapai 703,5 hektare. Luasan tersebut mencapai 58,27 persen dari total 317 kejadian lahan terbakar di Kotim yang mencapai 1.207,3439 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengungkapkan, jumlah kejadian tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan yang terbakar. Kondisi lahan, cuaca dan perkembangan api turut memengaruhi luasan kebakaran.

"Jumlah kejadian tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan terbakar. Ada kejadian yang luasnya kecil, tetapi ada juga yang dampaknya cukup luas," ungkapnya.

Kemudian di wilayah Kecamatan Baamang,  jumlah kejadian karhutla tertinggi Se Kotim, tetapi luas lahan terbakar jauh lebih kecil. Di wilayah ini, tercatat 142 kejadian dengan luas lahan terbakar 114,61135 hektare. Kemudian di wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang mencatat 114 kejadian dengan luas 139,8595 hektare.

Sementara Pulau Hanaut memiliki empat kejadian dengan luas lahan terbakar 82,65 hektare. Selanjutnya di Parenggean mencatat lima kejadian dengan luas 58,5 hektare.

Di tengah meningkatnya ancaman karhutla, Bupati Kotim Halikinnor telah meminta seluruh pemegang izin konsesi ikut terlibat dalam penanganan kebakaran. Perusahaan tidak boleh hanya fokus memadamkan api yang berada di dalam wilayah konsesinya sendiri.

“Pemegang izin juga wajib membantu pemadaman apabila kebakaran terjadi di sekitar wilayah operasionalnya. Keterlibatan perusahaan dinilai penting karena memiliki personel, peralatan dan sumber daya yang dapat membantu mempercepat penanganan di lapangan.

"Jangan hanya yang terbakar di dalam konsesi yang dipadamkan. Kalau ada kebakaran di sekitar wilayahnya, perusahaan juga harus membantu," pungkas Halikinnor.(daq/ang/gus)

 

 

 

 

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
detik-detik proklamasi kawasan gambut upacara pengibaran bendera karhutla