Petugas Karhutla Sampit Diterpa Bara Api, Angin Kencang Percepat Penyebaran

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 14:55 WIB
Abu bara api hasil kebakaran lahan beterbangan dan menerpa petugas, kondisi membahayakan bagi keselamatan dan membuat api semakin cepat menyebar ke titik yang lain. (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit)
Abu bara api hasil kebakaran lahan beterbangan dan menerpa petugas, kondisi membahayakan bagi keselamatan dan membuat api semakin cepat menyebar ke titik yang lain. (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit)

 

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com  – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan Kacapiring Barat, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kotawaringin Timur (Kotim), kembali menghadapi kendala. Angin kencang membuat abu sisa kebakaran yang masih mengandung bara api beterbangan dan menerpa petugas di lapangan.

Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan kondisi tersebut tidak hanya mengganggu proses pemadaman, tetapi juga berisiko terhadap keselamatan petugas.

“Kondisi ini berbahaya, makanya petugas kami yang menyiram harus dilengkapi kacamata pengaman dan masker khusus, untuk menghindari dampaknya,” ungkap Rihel.

Abu sisa pembakaran atau yang oleh warga lokal disebut kelelatu juga menjadi persoalan tersendiri. Partikel yang terbawa angin tersebut masih dapat membawa bara api dan berpotensi memicu titik api baru ketika jatuh di lahan yang kering.

Kondisi itu terlihat saat penanganan di lokasi. Berdasarkan pantauan Radar Sampit, bara yang terbawa angin membuat api dengan cepat merambat hingga menyeberang ke sisi lain jalan.

Lahan kering yang menjadi tempat jatuhnya abu bara membuat api kembali mudah menyala. Situasi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya memadamkan kobaran api yang terlihat di permukaan.

Di kawasan Kacapiring Barat sendiri, kebakaran hingga kini belum sepenuhnya padam. Sejumlah bagian lahan masih mengeluarkan asap dan menyimpan bara yang berpotensi kembali membesar ketika terkena angin.

Kondisi tersebut juga diperparah dengan keterbatasan akses dan sumber air. Lokasi kebakaran berada cukup jauh dari jalan utama dan sebagian kawasan sulit dijangkau kendaraan pemadam.

Sementara petugas harus membagi kekuatan karena kebakaran kembali muncul di sejumlah lokasi lain di Kotim.
Kondisi ini membuat Satgas Karhutla harus melakukan penanganan secara bergantian. Titik yang telah ditangani tetap perlu dipantau untuk memastikan api tidak kembali menyala, sementara titik kebakaran baru juga membutuhkan penanganan segera.

Angin kencang menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena dapat mempercepat penyebaran api sekaligus membawa bara dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Rihel mengingatkan masyarakat yang berada di sekitar kawasan karhutla agar tetap waspada terhadap pergerakan api dan abu bara, terutama ketika kondisi angin menguat.

Pasalnya, bara yang tampak kecil dapat kembali memicu kebakaran ketika jatuh di atas vegetasi atau lahan yang kering. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
bara api karhutla kotim sampit kalteng