Sudah Tiga Hari Karhutla di Kacapiring Barat, Pemadaman Terkendala Akses dan Sumber Air

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 13:40 WIB
Kebakaran di Jalan Kacapiring Barat, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Minggu sore (16/8/2026). (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit)
Kebakaran di Jalan Kacapiring Barat, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Minggu sore (16/8/2026). (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com  – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan Kacapiring Barat, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), belum sepenuhnya padam. Hingga Senin (17/8/2026), asap masih terlihat dari kawasan tersebut.

Warga yang berada tak jauh dari lokasi, Endra, mengatakan kebakaran sudah berlangsung sejak Sabtu (15/8). Api kemudian membesar pada Minggu dan hingga kini masih menyisakan asap.

“Sebenarnya kebakaran ini sudah terjadi sejak Sabtu, membesar kemarin, lalu hingga hari ini masih mengeluarkan asap,” ungkap Endra, Senin (17/8/2026).

Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla di lokasi tidak mudah. Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan lokasi lahan terbakar berada cukup jauh dari akses jalan utama, yakni Jalan Kapten Mulyono Sampit.

“Lokasi sekitar satu kilometer dari jalan utama, sementara sumber air tidak ada,” ungkap Rihel saat berada di lokasi.

Menurutnya, keterbatasan sumber air menjadi salah satu kendala utama petugas dalam melakukan pemadaman. Petugas harus membawa air dari lokasi yang cukup jauh untuk menjangkau titik kebakaran.

Akses menuju lokasi juga terbatas. Kendaraan pemadam hanya dapat masuk menggunakan truk dengan tangki berukuran kecil. Itu pun petugas masih membutuhkan selang yang cukup panjang untuk menjangkau areal yang terbakar.

Kondisi semakin sulit karena petugas Satgas Karhutla tidak dapat terus berada di satu lokasi selama 24 jam. Petugas juga harus berpindah untuk menangani kebakaran di titik lainnya.

“Petugas tidak bisa 24 jam di sini karena ada lokasi lain yang juga harus ditangani,” jelas Rihel.

Setelah petugas meninggalkan lokasi untuk melakukan penanganan di tempat lain, api diduga kembali membesar. Kondisi lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut sehingga bara api dapat bertahan di bawah permukaan.

Karhutla di kawasan gambut memang membutuhkan penanganan lebih lanjut meski kobaran api di permukaan sudah terlihat padam. Bara di dalam lapisan gambut dapat kembali memunculkan asap dan api ketika kondisi kembali kering.
Rihel mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemadaman di lokasi belum dapat dilakukan secara tuntas.

Hingga Senin, asap masih terlihat dari kawasan lahan terbakar di Jalan Kacapiring Barat. Petugas masih melakukan penanganan dengan menyesuaikan kondisi akses dan ketersediaan sumber air di lokasi. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
kacapiring karhutla kotim karhutla