Badan Geologi: Ada Bahaya Turutan Berupa Ancaman Likuefaksi dari Gempa NTT

Slamet Harmoko • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:11 WIB
Dampak Gempa NTT di kawasan wisata Labuan Bajo, Sabtu (15/8/2026). (ANTARA)
Dampak Gempa NTT di kawasan wisata Labuan Bajo, Sabtu (15/8/2026). (ANTARA)

JAKARTA, radarsampit.jawapos.com - Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) memunculkan sejumlah bahaya ikutan. Badan Geologi Kementerian ESDM mengidentifikasi potensi likuefaksi, gerakan tanah, retakan tanah hingga tsunami di sejumlah wilayah terdampak..

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria di Bandung, Sabtu, indikasi ini berdasarkan foto-foto dokumentasi dari lapangan yang memperlihatkan dampak guncangan di lapangan yang menunjukkan adanya retakan dinding, kerusakan komponen bangunan, hingga keruntuhan sebagian struktur, serta laporan adanya air yang keluar dari tanah.

"Selain dampak langsung berupa guncangan, kami juga mengidentifikasi adanya beberapa bahaya ikutan, di antaranya adalah tsunami, gerakan tanah, retakan tanah, serta indikasi likuefaksi," kata Lana.

Di Waekokak–Mbay, kata Lana, dilaporkan adanya air yang keluar dari tanah setelah gempa, sementara di Bonea, Selayar, teramati tsunami kecil.

Atas laporan tersebut, lanjut dia, Badan Geologi melakukan analisis cepat terhadap kemungkinan terjadinya likuefaksi, dan hasil awalnya menunjukkan adanya peluang likuefaksi berdasarkan hubungan antara jarak dari sumber gempa dan kekuatan gempanya.

Dampaknya diperkirakan lebih signifikan pada wilayah yang lebih dekat dengan sumber, khususnya pada area dataran aluvium seperti sebagian wilayah Nagekeo.

"Perlu saya tekankan bahwa analisis ini merupakan analisis cepat dan menjadi dasar untuk menentukan lokasi yang perlu diprioritaskan dalam verifikasi lapangan," katanya.

Secara khusus, Lana menyoroti laporan keluarnya air dari dalam tanah beberapa saat setelah gempa di Waekokak–Mbay. Secara awal, lanjut dia, fenomena ini diperkirakan dapat berkaitan dengan likuefaksi dalam bentuk sand boil atau semburan air berpasir dan berlumpur.

Dari indikasi awal, dampak terhadap tanah pondasi diperkirakan berada pada tingkat rendah hingga sedang dan tidak menunjukkan karakter seperti kejadian likuefaksi tipe Palu yang dapat bergerak jauh.

"Namun demikian, kesimpulan final tetap membutuhkan identifikasi dan pemeriksaan langsung di lapangan," ucapnya.

Sebagai tindak lanjut, kata Lana, Badan Geologi Kementerian ESDM akan mengirimkan Tim Penyelidikan Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi ke lokasi terdampak.

Tim akan melakukan kaji cepat untuk memverifikasi kondisi lapangan, memperdalam analisis, serta menyusun rekomendasi teknis mitigasi.

"Hasil penyelidikan ini selanjutnya akan kami sampaikan kepada pemerintah daerah dan para pemangku kebijakan sebagai dasar dalam penanganan darurat maupun langkah mitigasi selanjutnya," ucapnya.

Adapun untuk masyarakat dan pemangku kepentingan, Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti arahan BPBD dan pemerintah daerah, serta mewaspadai gempa susulan. Dan jangan mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Masyarakat juga, tambah dia, perlu memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali menggunakannya, mematuhi rambu dan jalur evakuasi, serta menghindari daerah tebing yang berpotensi longsor, terutama saat hujan.

"Ke depan, penerapan kaidah bangunan tahan gempa harus menjadi bagian penting dari upaya mitigasi di wilayah rawan," tuturnya. (ant)

 

Editor : Slamet Harmoko
Sumber : ANTARA
gempa NTT gempa flores Likuefaksi