KUPANG, radarsampit.jawapos.com – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), kembali mengingatkan tingginya ancaman gempa di wilayah tersebut.
Secara historis, NTT memiliki rekam jejak gempa besar yang sejumlah di antaranya bersumber dari kedalaman relatif dangkal dan memicu tsunami.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terbaru berpusat pada kedalaman sekitar 15 kilometer. Kedalaman tersebut membuat guncangan lebih kuat terasa di permukaan dan meningkatkan potensi kerusakan.
Baca Juga: Gempa M7,7 NTT: 47 Orang Meninggal, Puluhan Korban Masih Dicari di Bawah Reruntuhan
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan gempa tersebut termasuk gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas Flores Back Arc Thrust atau sesar naik busur belakang Flores.
“Guncangan gempa tersebut sempat memicu gelombang tsunami yang menerjang beberapa kawasan pesisir,” kata Faisal dalam keterangan resminya.
Flores Back Arc Thrust memiliki sejarah aktivitas kegempaan yang panjang. Struktur tektonik tersebut pernah memicu sejumlah gempa besar yang menimbulkan kerusakan dan korban jiwa.
Baca Juga: Gempa M 7,7 Ganggu 200 BTS, Tiga Operator Seluler Mulai Pulihkan Jaringan
Pada 1992, misalnya, gempa berkekuatan M7,8 mengguncang kawasan Laut Flores. Gempa tersebut tercatat memiliki kedalaman sekitar 33 kilometer dan diikuti tsunami dengan ketinggian puluhan meter.
Bencana tersebut menelan sekitar 2.500 korban jiwa.
Menurut Faisal, terdapat perbedaan penting antara gempa 1992 dan gempa yang terjadi Sabtu lalu.
“Bedanya, gempa kali ini berpusat pada kedalaman yang jauh lebih dangkal (15 kilometer), sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat pada bangunan infrastruktur serta memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara,” ujarnya.
Riwayat gempa di NTT menunjukkan wilayah tersebut berulang kali diguncang gempa berkekuatan besar.
Pada 2021, gempa berkekuatan M7,4 mengguncang wilayah NTT dengan pusat gempa pada kedalaman sekitar 10 kilometer. Saat itu, kerusakan yang terjadi sebagian besar berada dalam kategori ringan hingga sedang dan tidak terdapat laporan korban meninggal dunia.
Baca Juga: Gempa M7,7 Guncang NTT, Terasa hingga Lombok dan Picu Peringatan Tsunami
Sementara pada 1977, gempa berkekuatan M8,3 tercatat menewaskan lebih dari 200 orang.
Jauh sebelumnya, pada 1898, gempa di wilayah NTT juga menelan korban jiwa lebih dari 250 orang.
Rangkaian catatan tersebut memperlihatkan bahwa ancaman gempa besar bukan fenomena baru bagi NTT. Karakter sumber gempa yang relatif dangkal juga menjadi faktor penting yang perlu diperhitungkan dalam mitigasi bencana.
Gempa M7,7 pada Sabtu (15/8) kali ini telah menimbulkan dampak besar. Hingga pukul 18.48 WITA, data Tim SAR Gabungan mencatat 47 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka berat maupun ringan.
Baca Juga: Gempa Flores Ganggu Pembangkit Listrik NTT, PLN Kejar Pemulihan Bertahap
Para korban telah dievakuasi dan mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan terdekat.
Dengan tingginya aktivitas kegempaan di wilayah tersebut, masyarakat diminta tidak mengabaikan potensi gempa susulan maupun ancaman bencana lain yang menyertainya.
Kewaspadaan, kesiapan menghadapi gempa, serta kepatuhan terhadap informasi dan arahan resmi pemerintah menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko korban ketika bencana kembali terjadi. (jpg)
Editor : Slamet Harmoko