SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Di tengah kemarau yang membuat lahan semakin kering dan sumber air mulai menyusut, hujan menjadi harapan baru untuk menekan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Satgas Karhutla Kotim kini mengandalkan salah satu upaya tambahan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang berlangsung hingga 17 Agustus 2026.
OMC dilakukan dengan penyemaian awan untuk memicu hujan di wilayah yang membutuhkan tambahan curah hujan. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi tingkat kekeringan sekaligus membantu mencegah api meluas.
Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim Rihel mengatakan OMC menjadi salah satu strategi untuk menghadapi kondisi kemarau yang semakin kering.
Baca Juga: Warga Geger! Kebakaran di Gang Attarbiyah Dekat SDN 2 Baamang Tengah Sampit
“Kalau memang potensinya ada kenapa tidak dicoba? Makanya itu salah satu juga untuk mengurangi kekeringan tadi. Kalau ada hujan ya lumayan, tidak sampai kondisi kering sekali,” kata Rihel.
Menurut Rihel, OMC dilakukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menggunakan pesawat. Penyemaian tidak bisa dilakukan sembarangan karena harus terlebih dahulu menemukan awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan.
Untuk wilayah Kotim, penyemaian awan juga telah dilakukan. Dalam salah satu operasi beberapa hari sebelumnya, sekitar 1.000 kilogram atau satu ton bahan semai berupa garam ditebar untuk membantu memicu pertumbuhan awan hujan.
“Untuk Kotim sudah dilakukan juga untuk OMC yang dari Kalimantan Tengah, di Palangka Raya. Kemarin ada beberapa hari yang lalu sudah ada menyemai garam kurang lebih sekitar 1.000 kilo atau sama dengan 1 ton,” ujarnya.
Baca Juga: Bukan Sasaran Utama, Kalteng Disebut Jadi Jalur Persinggahan Jaringan Teroris
Upaya tersebut mulai memberikan dampak di sejumlah wilayah. Rihel menyebut kawasan Cempaga Hulu dan beberapa daerah pedalaman sempat diguyur hujan.
Namun, curah hujan yang turun masih singkat dan belum merata sehingga belum sepenuhnya mampu mengatasi kondisi kekeringan.
“Daerah pedalaman kemarin informasi juga ada diguyur hujan, tapi hujannya hujan sebentar,” jelasnya.
Rihel mengatakan keberhasilan OMC tidak hanya bergantung pada keberadaan awan. Arah dan kecepatan angin turut menentukan ke mana awan bergerak setelah dilakukan penyemaian.
Karena itu, hujan yang diharapkan turun di suatu lokasi belum tentu benar-benar terjadi di titik tersebut.
“Walaupun potensi awan hujannya banyak, tetapi arah angin nanti akan menentukan. Arah angin dan kecepatan. Jadi apa yang kita harapkan di kota belum tentu masuk di kotanya,” tuturnya.
Baca Juga: 170 Kejadian Karhutla di Kobar, 623 Hektare Lahan Ludes Terbakar! Kumai Paling Parah
Selain wilayah pedalaman, operasi juga menyasar kawasan selatan Kotim hingga sekitar Ujung Pandaran. Pelaksanaan OMC sekaligus dirangkai dengan patroli udara untuk memantau kondisi karhutla dan mencari awan yang berpotensi disemai.
OMC menjadi salah satu upaya pendukung di tengah semakin beratnya penanganan karhutla. Kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar, sementara sumber air di sejumlah lokasi mulai menyusut.
Satgas berharap hujan dari operasi modifikasi cuaca dapat membasahi lahan, meningkatkan kelembapan gambut, sekaligus membantu petugas di lapangan dalam melakukan pemadaman dan pendinginan.
Dengan OMC yang dijadwalkan berlangsung hingga 17 Agustus, Satgas Karhutla Kotim berharap tambahan curah hujan dapat membantu menekan risiko kebakaran selama periode kemarau. Namun, upaya tersebut tetap harus dibarengi patroli, deteksi dini dan kesiapsiagaan petugas di lapangan. (yn/sla)
Editor : Slamet Harmoko