Tidur Beralas Tanah Gambut: Perjuangan Tim TRC BPBD Kobar Jinakkan Api Karhutla

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 18:03 WIB

 

Personel TRC BPBD Kobar lelap dalam tidurnya, usai penanganan Karhutla yang tak kunjung padam di kilometer 13, Jalan Kotawaringin Lama. (BPBD Kobar)
Personel TRC BPBD Kobar lelap dalam tidurnya, usai penanganan Karhutla yang tak kunjung padam di kilometer 13, Jalan Kotawaringin Lama. (BPBD Kobar)

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Tanah gambut yang menghitam menjadi alas tidur. Rindangnya pohon sawit menjadi pelindung dari terik dan dinginnya malam.

Di tengah kepungan asap dan sisa bara, personel Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kotawaringin Barat (Kobar) hanya memiliki satu tujuan: memastikan api benar-benar padam.

Tubuh yang kelelahan terpaksa direbahkan di tanah setelah belasan jam berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Tak ada kasur, selimut, maupun tempat istirahat layak. Bagi para petugas, kesempatan memejamkan mata beberapa saat sudah menjadi kemewahan.

Komandan Regu TRC BPBD Kobar, Sayid Abdul Badawi, mengatakan petugas harus bertahan di lokasi selama api masih menyala dan penanganan belum dinyatakan selesai.

“Kalau api masih ada dan penanganan belum selesai, kami harus tetap di lokasi. Pulang juga jarang, karena harus memastikan api benar-benar bisa dikendalikan,” tutur Sayid, Sabtu (15/8/2026).

Belasan Jam Dikepung Asap dan Panas

Medan karhutla menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Sebagian lokasi berada di kawasan gambut yang sulit dijangkau kendaraan. Petugas harus berjalan menembus vegetasi, membawa peralatan pemadaman, sekaligus menghadapi panas dan asap yang menguras tenaga.

Aroma sangit jelaga bercampur asap pekat menjadi bagian dari keseharian mereka. Bahkan, ketika tubuh sudah tak lagi mampu diajak bergerak, tanah bekas terbakar menjadi tempat beristirahat sementara.

Jam kerja para petugas pun tidak lagi mengenal batas waktu. Mereka bekerja hingga api dapat dikendalikan dan tidak lagi menunjukkan tanda-tanda membahayakan.

Keluarga Jadi Rindu yang Tertunda

Di tengah situasi tersebut, rumah dan keluarga menjadi kerinduan yang harus ditunda. Para personel lebih banyak menghabiskan waktu di lapangan demi mencegah api meluas, terutama ketika kebakaran terjadi di lahan gambut yang berpotensi kembali menyala.

Kepala BPBD Kobar, Samuel, menegaskan penanganan karhutla dilakukan secara berkelanjutan. Personel terus dimobilisasi dari satu titik ke titik lainnya sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

Keselamatan petugas tetap menjadi perhatian utama. Namun, kondisi di lapangan kerap mengharuskan mereka bertahan selama berhari-hari di sekitar lokasi kebakaran.

Ketika malam tiba dan api belum sepenuhnya dapat dikendalikan, para petugas kembali mencari tempat untuk sekadar merebahkan tubuh.

Esok sebelum fajar menyingsing, mereka akan kembali menyalakan pompa, membentangkan selang, menyusuri lahan gambut dan menghadapi bara yang sama.

Bagi mereka, memadamkan api bukan sekadar pekerjaan. Ada keselamatan warga, permukiman, dan udara Kalimantan yang dipertaruhkan. (tyo)

Editor : Slamet Harmoko
tidur di tanah tanah gambut TRC BPBD Kobar