Karhutla masih Mengepung Kalteng. Berharap Modifikasi Cuaca Berhasil

Dodi Abdul Qadir • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 21:41 WIB
Penanganan kebakaran lahan di wilayah Desa Sungai Tendang, Kecamatan Seruyan Hilir, baru-baru tadi. (istimewa)
Penanganan kebakaran lahan di wilayah Desa Sungai Tendang, Kecamatan Seruyan Hilir, baru-baru tadi. (istimewa)

PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menjadi perhatian serius di Kalimantan Tengah (Kalteng). Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika mencatat, per tanggal 11 Agustus tadi, sedikitnya ada 645 titik panas yang berpotensi kebakaran.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalteng Ahmad Toyib mengatakan, tingginya jumlah hotspot membutuhkan respons cepat. Pemantauan dan verifikasi lapangan terus dilakukan untuk memastikan titik panas yang terdeteksi benar-benar menjadi indikasi kebakaran.

Menurutnya, Pemprov Kalteng bersama TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah kabupaten/kota, Masyarakat Peduli Api (MPA), Dinas Kehutanan, serta relawan terus mengintensifkan penanganan. Upaya dilakukan melalui pemadaman, penyekatan, pembasahan, pendinginan, patroli, hingga pemantauan dari udara.

“Kondisi paling sulit ditemukan pada wilayah lahan gambut dengan sebaran api cukup luas, medan berat, akses terbatas, serta minim sumber air,” ujarnya.

Di Palangka Raya, karhutla masih terjadi di wilayah Jekan Raya dan Bukit Tunggal. Di Jalan Tegal Sari, luas lahan terbakar sekitar 4,29 hektare. Sebanyak 0,92 hektare telah berhasil dipadamkan. Petugas masih melakukan penyekatan, pemadaman, dan pendinginan.

Baca Juga: Karhutla Meluas, Pemkab Kotawaringin Barat Minta Bantuan Helikopter Water Bombing  

Selain itu di Jalan Gurame dan Jalan Rungan, Bukit Tunggal, dengan total luas sekitar 0,58 hektare telah berhasil dipadamkan.

Pihaknya juga mencatat, karhutla di Kabupaten  Kotawaringin Timur (Kotim), diantaranya di Baamang Hulu mencapai sekitar 28 hektare. Termasuk di dekat Jalan Tjilik Riwut Km 7 sekitar 15 hektare. Keduanya masih dalam penanganan. Petugas menghadapi kendala keterbatasan sumber air.

Di Barito Utara, dua titik karhutla di Desa Trahean telah berhasil dipadamkan. Namun, kebakaran sekitar empat hektare di Desa Trinsing masih ditangani.

Penanganan juga dilakukan di Barito Selatan, Kapuas, Katingan, dan Pulang Pisau. Kebakaran sekitar 10 hektare di Desa Kalahien, Barito Selatan, masih dalam penanganan. Di Kapuas dan Katingan, beberapa titik belum sepenuhnya padam karena akses dan kondisi beratnya medan.

Sementara karhutla di kawasan gambut Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, juga belum sepenuhnya berhasil dikendalikan.Di Tanjung Taruna, tim gabungan terus melakukan pembasahan. Sekitar 0,8 hektare lahan di Jalan Tanjung Taruna masih mengeluarkan asap. Kebakaran sekitar 0,3 hektare di Jalan Rahmat juga belum sepenuhnya padam.

Ahmad Toyib juga memaparkan, pergerakan asap terpantau menuju barat laut. Kondisi berkabut asap mulai terjadi di Buntok dan Muara Teweh dengan jarak pandang sekitar 5–7 kilometer. Sedangkan Palangka Raya, Pangkalan Bun, dan Sampit masih relatif cerah menjelang siang hari, dengan jarak pandang 9–10 kilometer.

Kualitas udara di sejumlah daerah juga mulai terdampak. Katingan dan Barito Selatan berada pada kategori tidak sehat. Enam wilayah lainnya masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Kotawaringin Barat masih berada pada kategori baik dengan ISPU 21. Sementara pemantauan di Sukamara belum tersedia, AQMS Pulang Pisau mengalami kerusakan, dan AQMS Kapuas masih dalam persiapan operasional.

“Penanganan karhutla turut diperkuat melalui operasi udara. Tim melakukan pemantauan terhadap 514 hotspot dan patroli pada 125 titik. Water bombing juga dilakukan di Sebangau Kuala dan Petuk Katimpun. Selain itu, operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan di  wilayah udara Kotim dengan penyemaian 1.000 kilogram garam untuk mendukung upaya penanganan karhutla,”papar Ahmad Toyib.

Di wilayah Seruyan, tim gabungan tengah berjuang memadamkan karhutla di Desa Sungai Undang, Kecamatan Seruyan Hilir. Munculnya api terdeteksi Rabu (12/8) sekitar pukul 17.00 WIB.

Informasi tersebut diterima personel piket Siaga Karhutla Polres Seruyan yang kemudian segera bergerak menuju lokasi untuk memastikan kondisi di lapangan. Dua personel Polres Seruyan, yakni Aiptu Mulyadie dan Bripda Akbar Maulana, turut diterjunkan. Penanganan juga melibatkan 7 personel BPBD, 3 personel TNI, 1 personel Manggala Agni, 1 personel Damkar, 1 personel KPHP, serta 1 personel Marnit.

Kasi Humas Polres Seruyan Aipda Ronny mengatakan, setiap informasi mengenai titik api langsung ditindaklanjuti sebagai bagian dari upaya pencegahan karhutla.

“Penanganan karhutla membutuhkan kerja sama semua pihak. Di lapangan, personel Polri bersama BPBD, TNI, Manggala Agni, Damkar dan unsur terkait lainnya berupaya memastikan api dapat dikendalikan dan tidak meluas,” katanya.

Pihaknya pun terus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Warga diminta segera melapor jika menemukan titik api di sekitar permukiman maupun kawasan lahan.

Sementara itu, terkait dampak karhutla bagi masyarakat, dirinya memaparkan sejauh ini Dinas Kesehatan mencatat 2.052 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sepanjang 7–11 Agustus 2026 di 14 kabupaten/kota se-Kalteng.

Pada 11 Agustus saja tercatat 600 kasus baru. Sembilan pasien di antaranya harus menjalani rawat inap. Kasus tertinggi berada di Palangka Raya dengan 115 kasus dan Kotawaringin Barat 111 kasus.Jumlah tersebut meningkat 39,2 persen dibandingkan data 7 Agustus.

“Sejumlah kendala masih ditemukan, seperti keterbatasan masker dan obat-obatan, gangguan sinyal serta listrik yang memengaruhi pelaporan. Validasi data juga terus dilakukan karena ISPA dapat dipengaruhi berbagai faktor lain.,” terang Ahmad Toyib.

Kepala Dinas Kehutanan Kalteng Agustan Saining juga mengatakan, saat ini terdapat tiga Helikopter water bombing yang masih membantu operasi pemadaman  karhutla di lapangan.

Dukungan tersebut berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Selain Helikopter water bombing, satu unit Helikopter patroli juga disiapkan untuk membantu pemantauan kondisi karhutla.

"Dukungan udara menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan karhutla, terutama ketika api sulit dijangkau melalui jalur darat. Penanganan tetap dilakukan dengan melihat kondisi lapangan serta mengutamakan keselamatan personel yang bertugas. Kita tetap melihat situasi di lapangan. Penanganan tidak boleh dipaksakan apabila kondisi membahayakan petugas,"papar Agustan.

Ia menambahkan, modifikasi cuaca dilaksanakan pada pertengahan Agustus hingga sekitar 20 Agustus 2026. Pelaksanaan OMC akan menyesuaikan kondisi atmosfer, khususnya ketersediaan dan sebaran awan yang berpotensi mendukung operasi tersebut.

"Kalau sebaran awannya memungkinkan, maka dilakukan. Tetapi kalau kondisi awannya tidak mendukung, pelaksanaannya menyesuaikan. Kita berharap dukungan OMC dapat membantu upaya penanganan karhutla, terutama dalam menjaga kondisi lahan tetap lembap dan mengurangi potensi meluasnya kebakaran di kawasan rawan," pungkas Agustan.(daq/rdw/gus)

 

 

 

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
operasi modifikasi cuaca titik panas BMKG lahan gambut karhutla