1.200 Mangkuk Bubur Baayak Dibagikan, Tradisi Rabu Terakhir Safar di Sampit

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 13:40 WIB
Ibu-ibu di Jalan Ir Juanda, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit, gotong royong memasak Bubur Baayak, Rabu (12/8/2026). (Usay Nor Rahmad) 
Ibu-ibu di Jalan Ir Juanda, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit, gotong royong memasak Bubur Baayak, Rabu (12/8/2026). (Usay Nor Rahmad) 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Sebanyak 1.200 mangkuk Bubur Baayak dibagikan kepada warga dalam tradisi masyarakat Sampit pada Rabu terakhir bulan Safar. 

Panganan tradisional tersebut dibuat secara gotong royong sebelum kemudian didoakan dan dibagikan kepada masyarakat.

Kegiatan pembuatan Bubur Baayak menjadi salah satu bagian dari tradisi Arba Mustamir yang masih dipertahankan sebagian masyarakat.

Tokoh masyarakat sekaligus penggiat tradisi, Muhammad Yunus, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar membuat makanan. Ada nilai kebersamaan dan berbagi yang ikut dipertahankan.

Baca Juga: Bubur Baayak, Tradisi Manis Warga Sampit di Rabu Terakhir Bulan Safar

"Setelah dibuat dan didoakan, bubur dibagikan kepada warga. Jadi ada silaturahmi dan kebiasaan berbagi yang ingin terus dijaga," ujar Yunus, Rabu (12/8 /2026). 

Untuk menghasilkan ribuan mangkuk Bubur Baayak, proses pembuatannya dilakukan dalam jumlah besar.

Sedikitnya 40 kilogram tepung beras diolah menggunakan 10 kawah atau wajan besar. Bahan lainnya terdiri dari sekitar 35 kilogram gula pasir, 15 kilogram gula merah dan 30 kilogram santan.

Adonan juga diberi tambahan garam, daun pandan dan air untuk menghasilkan cita rasa khas.

Bubur Baayak memiliki warna dasar cokelat dengan rasa manis dari gula merah. Rasa tersebut berpadu dengan gurih santan.

Proses pembuatan panganan ini juga memiliki keunikan tersendiri. Tepung yang digunakan untuk Bubur Baayak melalui proses pengayakan. Dahulu, masyarakat menggunakan saringan dari anyaman daun nyiur.

Istilah Baayak sendiri berkaitan dengan proses tersebut. Dalam bahasa Banjar, ayak merujuk pada kegiatan menyaring atau menggoyangkan bahan menggunakan ayakan.

Setelah proses memasak selesai, Bubur Baayak kemudian didoakan. Selepas salat Ashar, sekitar 1.200 mangkuk panganan tersebut dibagikan kepada warga sekitar dan masyarakat yang ingin mencicipinya.

Tradisi ini juga kerap dikaitkan dengan Mandi Safar. Sebagian masyarakat menyebut Bubur Baayak sebagai Bubur Safar karena panganan tersebut biasa dibuat pada momentum yang sama.

Bagi masyarakat yang mempertahankannya, berbagi bubur menjadi bentuk sedekah yang sederhana.

Tidak harus dalam bentuk materi, tetapi dapat dilakukan melalui makanan yang dibuat bersama dan dibagikan kepada orang lain.

Di tengah semakin jarangnya kuliner tradisional ditemui, tradisi tersebut menjadi salah satu cara masyarakat Sampit menjaga panganan sekaligus nilai sosial yang menyertainya. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
rabu terakhir bulan safar Bubur Baayak mandi safar sampit kotim