Bubur Baayak, Tradisi Manis Warga Sampit di Rabu Terakhir Bulan Safar

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 13:32 WIB
Proses memasak Bubur Baayak, Tradisi saat hari Rabu terakhir di bulan Safar, oleh warga di Jalan Ir Juanda Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (12/8 /2026). (Usay Nor Rahmad /Radar Sampit) 
Proses memasak Bubur Baayak, Tradisi saat hari Rabu terakhir di bulan Safar, oleh warga di Jalan Ir Juanda Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (12/8 /2026). (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com - Bubur Baayak menjadi salah satu panganan tradisional yang masih dipertahankan sebagian masyarakat Sampit.

Kuliner berbahan dasar tepung beras ini biasanya hadir dalam tradisi masyarakat pada Arba Mustamir, atau Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.

Tradisi membuat dan membagikan Bubur Baayak tidak hanya berkaitan dengan makanan. Di dalamnya terdapat kebiasaan berkumpul, bergotong royong dan berbagi dengan keluarga maupun tetangga.

Tokoh masyarakat sekaligus penggiat tradisi, Muhammad Yunus, mengatakan Bubur Baayak menjadi salah satu bagian dari tradisi yang masih dikenang masyarakat.

Menurutnya, panganan tersebut biasanya dibuat secara bersama-sama. Setelah selesai dimasak dan didoakan, bubur kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar.

"Yang dijaga bukan hanya buburnya, tetapi juga kebiasaan berkumpul dan berbagi dengan sesama," kata Yunus.

Tradisi tersebut juga berkaitan dengan doa tolak bala. Masyarakat memanjatkan doa agar diberikan keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya.

Bubur Baayak memiliki rasa manis dan gurih. Warna cokelatnya berasal dari gula merah, kemudian berpadu dengan rasa santan.

Panganan ini juga sering dikaitkan dengan tradisi Mandi Safar, yakni kegiatan mandi bersama di sungai yang dilakukan sebagian masyarakat pada Rabu terakhir bulan Safar. Karena itu, Bubur Baayak terkadang juga disebut Bubur Safar.

Bagi Yunus, keberadaan panganan tersebut menjadi bagian dari kekayaan tradisi yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.

Pasalnya, berbagai kuliner tradisional kini semakin jarang dibuat secara bersama-sama seperti dahulu.

Salah satu tradisi pembuatan Bubur Baayak pernah dilakukan ibu-ibu di Jalan Ir H Juanda Sampit. Kegiatan tersebut menghasilkan sekitar 1.200 mangkuk bubur yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Selain menjadi panganan tradisional, pembagian bubur menjadi bentuk sederhana untuk mempererat silaturahmi.(oes)

Editor : Slamet Harmoko
tradisi safar Bubur Baayak sampit